Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Sentrup Sentrup dan Keliaran yang Berbeda

(Sayup Suara Papua; 4)

Tulisan sebelumnya ada di sini.

Saya pikir saya liar. Ternyata salah besar. Bagaimana tidak. Masyarakat disana tak biasa mandi. Apalagi gosok gigi. Ganti baju? Mereka rata-rata hanya punya satu. ‘Kenapa masih ada yang ber-koteka?’, tanya saya lugu. ‘Mereka tak punya baju’. Asu… 64 tahun katanya Indonesia merdeka. Tapi banyak warganya yang tak mampu berbaju. ‘Negeri macam apa ini, Su?’

Begitulah. Saya pikir saya liar. Ternyata nol besar. Saya bukan orang yang suka pilih-pilih makanan. Tapi ternyata saya tetap punya standar. Jahe yang dikunyah (bukan diiris atau digepuk!) untuk kemudian diludahkan dan dimasukkan ke panci masakan ternyata cukup ampuh untuk membuat saya selalu berkata ‘tidak’ terhadap tawaran menu mereka. Ditambah lagi dengan bebunyian sentrup sentrup yang selalu mengiringi acara makan bersama (salah satu bunyi yang membuat saya dan Esti membayangkan alangkah indahnya menjadi tuli). Belum lagi sengat keringat yang melekat. Pekat. Membuat saya pucat.

Sampai seumur ini belum pernah saya temui gaya hidup yang sedemikian ngeri. Saya sama sekali tak mengatakan mereka salah. Sekali lagi, mereka tidak salah. Saya hanya membayangkan, Anyelma akan menjadi surga yang indah jika gaya hidup mereka bisa diubah. Bangun honai berventilasi. Biasakan mandi. Jauhkan honai pribadi dan kandang babi. Namun apa daya. Cuci tangan sebelum makan-pun juga bukan kebiasaan. Honai tak berjendela menjadi sarang ISPA. ‘Tiga tahun saya di sini, belum sekalipun saya menemukan gaya hidup sehat yang dilakukan masyarakat’, kata Lourin Nova, dokter di Puskesmas Kurima.

Sentrup sentrup…’, begitu bunyinya. Dan saya harus pusatkan pikiran, ‘Nasi putih dan sayur daun labu dicampur sarden bikinan Esti ini enak sekali….Apalagi ditambah saus cabai hijau cap Aku yang kemarin kami bawa dari Jakarta…’. ... Sentrup sentrup… ‘Gusti Pangeran, beri saya headphone…Sekali ini saja…’, terpaksa saya berdoa.

5 komentar:

  1. Joell mengatakan...
     

    Hmm..menarik juga ceritanya...mungkin jiwa liar sampeyan merasa trusik kemudian tertantang untuk tinggal menetap di sana dan mengubah gaya hidup mereka?? lumayan mengko sopo ngerti iso dadi kepala suku honoriscausa...wkwkwk...

  2. Sang Lintang Lanang mengatakan...
     

    @ joell: sebenernya menarik juga.. tapi itu tugas yg sangat2 sulit.. merubah gaya hidup adalah sama artinya merubah kebudayaan.. kebudayaan yg sudah mengakar ratusan tahun.. gereja yg di sana dihormati saja kesulitan merubah kondisi itu.. apalagi aku? bisa2 malah aku yg ketularan... he2..

  3. jemiro mengatakan...
     

    ingin merubah kebiasan menjadi lebih baik, sayangnya sudah melekat dan menjadi habit mereka, :) saya hanya bisa berharap kedepannya jauh lebih baik :)

  4. Sang Lintang Lanang mengatakan...
     

    @ jemiro:
    ya3.. meski 'baik tidaknya' sesuatu tetaplah satu hal yg sublim.. tergantung siapa yg melihat dan dari sudut pandang mana dia menatap... :)

  5. jemiro mengatakan...
     

    :) point of you
    sudut pandang :) ya saya pikir-pikir benar :) baik tidaknya dipandang dari sudut yang berbeda memang berbeda :)

Posting Komentar