Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Tara

; Karena hidup hanya layak menerima Cinta. Itu Saja

Queena Aurelia Bintang Nusantara, demikian nama yang disematkan kakak saya untuknya. Namun saya lebih suka memanggilnya dengan satu kata, Tara. Terlahir di muka bumi pada suatu malam penuh gemintang di bulan Mei tahun lalu. Bukan anak saya, memang. Hanya keponakan. Tapi bukankah hal itu bukan sesuatu yang harus mempengaruhi besar-kecilnya cinta?

Jangankan mengucap kata. Merangkak-pun Tara masih tertatih. Namun ke-diam-annya dari kata itulah yang telah menghadirkan baris-baris kalimat yang mengajari saya tentang apa dan bagaimana mencintai kehidupan. Absurd? Benar. Bahkan (mungkin) terlalu parah. Bagaimana tidak, seorang manusia tua (bukan dewasa) belajar tentang cara mencintai kehidupan dari seorang bayi yang baru bisa menangis, merangkak, dan tergelak?

Jangan tanya (karena saya tak mungkin bisa menjawabnya), bagaimana saya belajar darinya. Secara tiba-tiba, tak terduga (dan tanpa satupun di antara kami menginginkannya), keberadaan Tara melukiskan sebuah kalimat panjang, betapa kehidupan ini adalah sebuah kemahadahsyatan yang sungguh luar biasa; dan bahkan bisa dikatakan; sesuatu yang tidak seharusnya disia-siakan dan hanya layak menerima cinta. Ya, cinta. Terdengar cengeng? Terserah siapa saja mau berkata apa. Tapi memang itu. Cinta. Tak lebih. Hanya cinta.

Banyak orang tua mengatakan, membayangkan masa depan anak adalah sebuah kekhawatiran yang membahagiakan. Harap-harap cemas, orang yang lain bilang. Dan jujur saya akui, saya baru memahami artinya saat ini. Meski Tara bukan anak saya, tapi membayangkan masa depannya adalah sesuatu yang membuat saya berkeinginan untuk (meminjam bahasa Chairil Anwar) hidup seribu tahun lagi. Bukan untuk apa-apa, hanya sekedar untuk bisa melihat dia berjalan, tertawa, belajar membaca, masuk SMA, dan sebagainya. Itu saja.

Tara juga mengajari saya untuk secara perlahan melafalkan kata syukur dengan ejaan yang benar (namun sekali lagi saya tegaskan, jangan tanya saya bagaimana caranya. Sungguh mati saya benar-benar tidak mengetahuinya. Semua itu terjadi begitu saja, berjalan secara tidak sengaja dan apa adanya). Tara juga-lah yang sedikit banyak memaksa saya untuk bersedia melayangkan imajinasi kepada bayi-bayi yang terlahir di tengah-tengah desing peluru tentara Izrael dan Palestina, kepada deru tank-tank dan kendaraan tempur di sepanjang garis GAZA, kepada kalimat-kalimat suci yang tertulis di selembar kain hijau yang digunakan sebagai ikat kepala di medan tempur, kepada debu-debu yang mengepul terinjak sepatu lars para serdadu, dan juga kepada bajingan-bajingan pecinta peperangan yang lebih menikmati prosesi penghancuran daripada penciptaan. (Untuk kesekian kali saya sarankan, jangan tanya bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi. Karena saya benar-benar tak punya sedikitpun jawaban.)

Queena Aurelia Bintang Nusantara, demikian nama yang disematkan kakak saya untuknya. Bukan anak saya, memang. Hanya keponakan. Tapi bukankah hal itu bukan sesuatu yang harus mempengaruhi besar-kecilnya cinta? Huah... tiba-tiba saja saya merasa sudah terlalu tua.

0 komentar:

Posting Komentar