Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Siapa Menyusul Jadi Pelacur?

Harmoni? Aku ini bukan musisi. Mengapa kau tanya aku tentang hal itu. Bahkan sejak aku terlahir di bumi ini puluhan tahun yang lalu, jujur kuakui tak sekalipun aku paham akan arti nada-nada. Tapi meski begitu, aku sedikit banyak telah mencoba untuk mengerti akan arti keberadaannya. ‘Menambah indah dunia?’, tanyamu getir. ‘Ya’, jawabku mantab. Dan kaupun tertawa. Langit masih di tempatnya. Di atas sana. Tapi pikiranku sebaliknya. Menghujam bumi. Di sini.

***

Janganlah kau samakan lembaran sayap kupu-kupu yang mengepak pelan di seputaran taman dengan sepasang lengan rajawali yang sanggup membawa tubuhnya membelah angkasa. ‘Itu tak sama’, bisikku di kupingmu beberapa waktu lalu. ‘Apanya’, tanyamu. ‘Cari di hatimu’, tusukku. ‘Bongkar tumpukan sampah yang selama ini menimbun jiwamu. Cairkan gumpalan otak yang telah terlalu lama membeku. Jangan biarkan nanah turut mengalir dalam aliran darah.’ Dan merah menggurat di wajah. Kaupun marah (Payah...)

***

Siapa?!’, kau teriak. Ranting-ranting berderak. Bibirku memilih tak mencipta gerak. Batin tertawa (kok ya masih tanya juga…:) Kupu-kupu memang lahir dari kepompong. Tapi dirimu? Aku? Bukankah kita manusia? Ya, setidaknya (selama ini) aku berpikir begitu. Entah jika kamu (dan juga kalian). ‘Waktu tak berjalan mundur kawan. Hidup tak sekedar perumpamaan, melainkan kenyataan yang tak pernah berhenti berjalan’. Adakah kau tak sekalipun ingin mencoba hidup sebagai Manusia? Yang berlogika dan berjiwa? Apa yang ingin kau banggakan. Perang saja kau besar-besarkan.


*Gambar diambil dari sini

0 komentar:

Posting Komentar