Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Menjemput Kegelisahan

Hidup hanya masalah memilah dan memilih, demikian orang bijak mengatakan. Dan apapun yang terjadi, ketika palu pilihan telah diketukkan tak seharusnya kita memelihara sedikitpun penyesalan.

Ketika perjalanan ke Candi Sukuh, Ngargoyoso, Karanganyar, senja Jumat (31/10) lalu, saya berkesempatan singgah di sebuah masjid di suatu daerah bernama Dengkeng. Wilayah ini termasuk dalam teritori kecamatan Mojogedang,Kabupaten Karanganyar. Masjid Eyang RM Demang Pontjo Migoeno, demikian yang tertulis di papan nama masjid.

Ketika menunggu kawan seperjalanan saya yang sedang mengambil air wudhu, kerik jengkerik, rintik gerimis, dan remang menjelang malam di pelataran masjid sempat membuat imajinasi berlari-lari. Saya bayangkan, saya adalah salah satu tokoh di dalam film misteri Indonesia lama yang dibintangi Suzanna. Seorang musafir yang singgah di sebuah masjid di suatu pelosok perkampungan yang sunyi, gelap, dan suram. Namun sebelum khayali saya menjadi-jadi, saya cepat-cepat berusaha kembali menjejak bumi. Bukan karena apa-apa, hanya saja saya sedang enggan memikirkan yang bukan-bukan. Pasalnya, suasana di tempat tersebut benar-benar sempurna untuk membuat bulu kuduk berdiri. Bayangkan, suasana gelap dan suram, sementara di seberang jalan adalah jurang yang dihiasi rumpun bambu yang bergoyang-goyang. Benar-benar seperti setting film-film misteri produk Indonesia.

Awalnya saya pikir ibadah sholat maghrib berjamaah telah selesai dilaksanakan. Pasalnya suasana di masjid tersebut terlihat sangat sunyi dan sepi. Di depan masjid hanya ada dua pasang sandal jepit yang terletak saling berjauhan. Dan ketika saya tengok ke dalam, hanya terlihat seorang laki-laki paruh baya dan seorang anak usia belasan yang sedang menyenandungkan bait-bait pujian kepada nabi tercinta. Namun ternyata dugaan saya keliru. Karena setelah syair sholawat selesai disenandungkan, iqomah bergema. Tepat di sinilah hati saya tergetar.

Secara terus terang saya akui, ramai atau tidaknya sebuah rumah ibadah oleh para umat bukanlah hal yang penting bagi saya. Perkara keyakinan dan peribadatan menurut saya adalah hak tiap-tiap orang. Namun yang membuat saya bergidik,adalah apa yang dilakukan kedua orang itu (yang belakangan; dalam sebuah obrolan singkat; saya ketahui adalah seorang ayah dan anak). Mereka tidak peduli apakah di masjid itu ramai oleh jamaah atau tidak. Mereka juga (kelihatan) tidak mempermasalahkan ketidakberadaan seorangpun kawan. Mereka telah memilih sebuah jalan, dan menyadari bahwa kaki yang melangkah pantang disurutkan. Sendiri atau tidak sendiri, bukan lagi sebuah masalah yang menuntut penyelesaian. Mereka hanya ingin beribadah, dan karena itu tak ada lagi yang harus dibicarakan.

Demikianlah. Ketika seseorang telah memutuskan sebuah pilihan, artinya dia harus bersiap menemu segala resiko yang menghadang. Entah keberhasilan yang menyenangkan, atau justru kegagalan yang memuakkan. Pun demikian halnya dengan pilihan saya yang memutuskan untuk resign dari dua perusahaan dalam waktu kurang dari satu bulan. Sebuah keputusan yang bagi sebagian orang (mungkin) layak dijadikan bahan tertawaan. Namun bagi saya, apapun yang mungkin akan terjadi setelah pilihan ditetapkan ,adalah sebuah harga yang memang harus dibayar. Bukankah pada hakekatnya hidup hanyalah rangkaian kegelisahan yang menuntut untuk diselesaikan? :)

Salam...


*gambar diambil dari sini

5 komentar:

  1. haris mengatakan...
     

    sy selalu tergetar dengan pasase dari chairil: "hidup hanya menunda kekalahan". jadi, pilihan, kegelisahan, apapun itu, harus dijalani dengan kepala yang tegak. betapapun beratnya kepala itu. ha2.

  2. Dony Alfan mengatakan...
     

    Harusnya jamaah shalatnya bisa tambah satu orang lagi kan? Yang hatinya sempat tergetar

  3. Dony Alfan mengatakan...
     

    Semoga 'kawan seperjalanan saya' itu masih rajin sisiran :D

  4. Dony Alfan mengatakan...
     

    Sisan komen ping telu, ben ganjil.
    Selamat Hari Pahlawan, kisanak!

  5. Sang Lintang Lanang mengatakan...
     

    @ haris:
    setuju!!

    @ dony alfan:
    1.siapa yang mengharuskan?
    2.masih tetep kok..
    3.kapan ya Tan Malaka ditetapkan jadi pahlawan?

Posting Komentar