Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Ketika Kebahagiaan Tergenggam di Tangan

Kulo niki mpun sepuh mas, gesang nggih mpun piyambakan. Dadose nggih kulo ginakke kangge seneng-seneng kemawon (Saya ini sudah tua mas, hidup ya sudah sendirian. Jadi ya saya gunakan untuk senang-senang saja)’, demikian ungkap Suyati (50) kepada saya. Pertemuan di antara kami sebenarnya berawal secara tidak sengaja. Dimana pada Selasa (4/11) malam lalu, saya duduk di pelataran Pendhapa Ageng Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta untuk menunggu dimulainya acara Festival Musik Tradisi Jawa Tengah 2008.

Awalnya Suyati menggelisahkan molornya jadwal acara yang sebelumnya diinformasikan dimulai pukul 19.30. Namun dalam perkembangan obrolan, pembicaraan di antara kami sampai pada kehidupan pribadi Ibu Suyati. Dia adalah seorang janda dengan dua anak yang masing-masing sudah berkeluarga dan tinggal di Sragen dan Wonogiri. Sementara sang suami, Paliyo, telah meninggal dunia kurang lebih dua tahun lalu pada usia 77 tahun.

Suyati menceritakan, sebenarnya Paliyo bukanlah suami pertamanya. Dimana dua anaknya adalah anak dari suaminya yang terdahulu yang telah bercerai dengannya. Sementara Paliyo sendiri, sebelum menikah dengan Suyati juga telah menikah dan mendapat empat orang anak dari almarhum istrinya yang terdahulu. Namun meski bukan suami pertama, Suyati mengakui bahwa Paliyo adalah yang terbaik. Kesetiaan dan perhatian yang diberikan Paliyo, baginya takkan mungkin digantikan oleh siapapun juga.

Saat ini Suyati hidup sendiri di sebuah rumah mungil di perkampungan depan kampus Universitas Sebelas Maret Surakarta. Saya sendiri lupa untuk menanyakan apa kegiatannya sehari-hari. Yang saya tahu dari ceritanya, dia tak pernah melewatkan satupun pementasan seni tradisi yang diadakan di TBJT. Entah itu gelaran musik tradisi, wayang kulit, atau pentas ketoprak yang diadakan sesekali. Baginya keberadaan pementasan-pementasan itu adalah sebuah hiburan yang terlalu sayang untuk dilewatkan. Dia selalu dengan sukarela datang untuk menikmati meski tak ada seorangpun menemani. Dia enggan mengajak serta seorangpun kawan (tetangga-tetangganya), karena biasanya mereka justru merepotkan dengan mengajak pulang ketika pertunjukan baru dimulai. Selain itu dia juga takut jika suami kawan-kawannya berpikir yang tidak-tidak jika istri mereka diajak keluar malam.

Semakin lama pembicaraan di antara kami menjadi semakin dalam. Suyati menceritakan tentang ketidakpedulian keempat anak kandung Paliyo ketika suaminya itu menderita sakit bertahun-tahun (konon keempat anak Paliyo ini masing-masing adalah seorang Bupati di sebuah kabupaten di Kalimantan, pejabat Pemkot Solo, guru SMA, dan satu lagi seorang petinggi di sebuah perusahaan swasta). Dia juga menceritakan tentang ketidakbetahannya ketika harus tinggal di rumah anak-anaknya di Wonogiri dan Sragen.

Namun yang menarik perhatian saya bukanlah semua itu. Saya justru tertarik dengan cara Suyati bercerita. Dimana dalam setiap nada-nadanya, saya menemukan sebuah kegairahan dan kebahagiaan yang sulit untuk dijabarkan. Hal ini agak mengherankan mengingat dia adalah seseorang yang menjalani hidup sendiri dan terbiasa melakukan segala rutinitas dalam kesendirian.

Menurut saya, Suyati adalah sedikit bukti bahwa kebahagiaan hidup seseorang tidaklah tergantung pada apapun selain pada sebuah cara berpikir dan cara menatap jalan kehidupan. Suyati tak merasa memerlukan apapun lagi untuk bisa membuatnya merasa bahagia. Terlebih lagi dia sudah menemukan seseorang yang benar-benar spesial dalam hidupnya, meski kini tak lagi menemani di sampingnya lagi. ‘Hidup hanya menunda kekalahan’, kata Chairil Anwar. Dan meski Suyati (mungkin) tak kenal puisi, dia memahami benar akan hal ini. Dia ingin melalui usianya yang kian senja dengan penuh gairah. Menanti sebuah kekalahan dengan penuh sukacita dan bahagia.

Tepat pukul 20.00 (bersamaan dengan dimulainya acara Festival Musik Tradisi) kami berpisah. Karena saya telah terbentur janji dengan dua orang kawan (seorang Sarjana Sosial de facto dan seorang Sarjana Sosial de javu :) untuk bertemu di sebuah warung kopi langganan kami. Dan yang membuat saya kian tersenyum malam itu, ketika mengetahui bahwa saya masih seorang lajang Suyati menawarkan mengenalkan saya dengan seorang tetangganya. Seorang gadis (?) berusia 35 tahun yang sudah bekerja mapan dan juga telah mempunyai rumah sendiri di sebuah Perumnas. Sebuah penawaran ‘menarik’ yang secara sukarela saya tolak dengan baik-baik, ’Matur sembah nuwun, mboten kemawon… (Terima kasih banyak, tidak saja… :)’

2 komentar:

  1. MAY'S mengatakan...
     

    saya terseret arus dari blognya mas poer..
    salam kenal...

  2. Sang Lintang Lanang mengatakan...
     

    @ may's:
    salam kenal juga.. semoga tidak menyesal telah terseret sampai di sini.. :)

Posting Komentar