Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Solo International Ethnic Music (SIEM) 2008

;di mana etniknya?

'Bored', demikian ungkap James Brennan, seorang sutradara teater asal Australia yang secara tidak sengaja saya temui di kompleks Candi Sukuh, Ngargoyoso, Karanganyar pada Sabtu (1/11) lalu. Komentar tersebut menjawab pertanyaan saya tentang apa yang dia rasakan ketika menyaksikan Solo International Ethnic Music (SIEM) Festival 2008 yang digelar 28 Oktober-1 November lalu di Pamedan Pura Mangkunegaran Solo. Sebuah ungkapan jelas dan lugas, meski kebosanan tersebut tak dijelaskannya lebih lanjut.

Musik etnik. Sebuah frase sederhana yang sudah seringkali mampir di telinga , namun ternyata telah benar-benar gagal untuk bisa saya pahami sepenuhnya. Semua ini berawal pada Rabu (29/10) ketika saya menyempatkan diri untuk menyaksikan SIEM 2008 yang tengah digelar. Secara terus terang saya akui, kedatangan saya bukanlah membawa sesuatu yang kosong. Dimana jauh sebelumnya, saya telah ‘mendengar’ kekecewaan seorang rekan blogger terhadap SIEM pertama (2007) yang konon hanya menjual etnisitas untuk mengumpulkan massa. Sebuah tulisan yang membuat saya secara pribadi cukup penasaran. Dan karena pada gelaran tahun lalu tersebut saya tidak berkesempatan menyaksikannya, maka kedatangan saya kali ini bisa disebut sebagai sebuah pencarian bukti (dengan catatan, jika SIEM kali ini ternyata masih sama dengan SIEM tahun lalu). Hal inilah kenapa saya mengatakan bahwa kedatangan saya tidak membawa sesuatu yang kosong.

Pada hari kedua tersebut repertoar yang ditampilkan adalah pertunjukan dari Lumaras Budhoyo-Magelang, Yi Chen Chang-Taiwan, Syaharani, Al Suwardi, dan Inisisri. Baru tigapuluh menit menikmati acara, saya menyimpulkan bahwa apa yang disuarakan rekan blogger tersebut pada tahun lalu ternyata adalah sia-sia. Segala macam kritik tentang pemilihan content dan sistem kuratorial yang dia suarakan ternyata tak membawa perubahan apa-apa.

Sepengetahuan saya, kata etnik adalah turunan dari kata etnis yang artinya kurang lebih adalah suku atau kesukuan. Dengan begitu pada awalnya saya mengartikan, bahwa musik etnik adalah sebuah (komposisi) musik yang berhubungan dengan etnis/kesukuan tertentu. Namun apakah gelaran SIEM yang saya saksikan mewakili kesimpulan saya yang (mungkin saja sebenarnya bisa disebut) ngawur tersebut? Mungkin untuk lebih lengkapnya, ada baiknya jika saya jabarkan sedikit (pandangan mata saya terhadap) pementasan malam itu.

Malam itu Lumaras Budhoyo-Magelang menyuguhkan sebuah repertoar yang diberi judul Konser Gelung Gunung dengan didukung dua kelompok lain, yakni Fatma Aerobik dan Komunitas Rasta. Ketiga kelompok ini berkolaborasi untuk menampilkan sajian musik dan tari-tarian. Secara jujur saya akui, repertoar semacam ini bukan sesuatu yang baru bagi saya. Dimana saya sudah seringkali menikmati performance (dengan konsep) sejenis dari kelompok lain yang juga berasal dari daerah lereng Gunung Merbabu, Merapi, dan sekitarnya.

Sebelum pementasan dimulai, tercetus sebuah statement yang diucapkan MC yang cukup membuat saya terseyum. Sang MC mengatakan bahwa sajian musik Lumaras Budoyo ini dipadukan dengan unsur pertunjukan tari rakyat. Entah kenapa saya cukup geli ketika membayangkan (kemungkinan) keberadaan antithesis dari tari rakyat, yakni tari penguasa. Namun yang jelas, keberadaan musik di dalam repertoar ini bisa jadi dikatakan hanya sebagai pengiring tari-tarian. Keberadaan koreografi justru membuat repertoar ini berada di posisi ambigu, antara sebuah karya komposisi musik atau pertunjukan tari.

Sementara itu Syaharani (yang sedari awal terus menerus digembar-gemborkan oleh sang MC) membawakan tiga buah repertoar, yakni Sunya Ruri (feat. Sinden Puri), Teater, dan Memberi Cinta Adalah. Sejak awal acara saya terus menerus bertanya-tanya, Syaharani di SIEM? Apakah seorang vokalis/penyanyi itu bisa dimasukkan dalam kategori musisi? Atau Syaharani itu justru seorang komposer? Karena otak saya yang berkapasitas tak terlalu besar ini mempunyai sebuah pemikiran (yang mungkin saja bodoh), bahwa gelaran SIEM memang hanya akan mempertontonkan pertunjukan musik etnik. Tapi kalau Syaharani? Termasuk musisi/komposer-kah dia? Tentu saja pertanyaan saya ini tak akan terlalu menuntut jawaban andaikan yang disebut-sebut oleh sang MC sedari awal tak hanya nama Syaharani semata, melainkan Syaharani dan kelompoknya (Magma Project?).

Namun dengan beginipun juga akan lahir sebuah pertanyaan yang lain lagi, benarkah repertoar Syaharani dan kelompoknya adalah sebuah musik etnik? Sepengetahuan saya, Syaharani selama ini dikenal sebagai Queen of Jazz Indonesia. Memang tak jarang lagu-lagu Syaharani disisipi bunyi-bunyian dari instrument musik etnik. Namun apakah perpaduan antara musik jazz modern dan instrument etnik tersebut langsung menasbihkannya sebagai musik etnik? Secara jujur saya akui, komposisi musik dari lagu- lagu yang ditampilkan Syaharani cukup bagus. Namun sepanjang pertunjukan, saya (justru) kurang bisa menikmatinya karena keberadaan embel-embel etnik yang menyertai karya (yang sebenarnya cukup indah) tersebut.

Namun beruntung, malam itu cukup terselamatkan dengan keberadaan repertoar yang ditampilkan Yi Chen Chang (Taiwan) yang memainkan alat musik gesek dengan ditingkahi perkusi oleh seorang rekan lelakinya. Menikmati performance mereka yang kadangkala dimasuki improvisasi-improvisasi yang menyegarkan, pikiran saya sempat terlarut ke nuansa Turki dan Cina yang mereka bawakan. Selain itu juga ada Al Suwardi (Solo) yang membawakan sebuah komposisi baru yang digali dari gamelan Bali yang dipadukan dengan instrument tambahan (yang sepertinya hasil inovasi baru) dari bambu.

Sampai di sini saya harus kembali ke pertanyaan awal, sebenarnya musik seperti apakah yang bisa dikategorikan sebagai musik etnik? Apakah sekedar sebuah komposisi musik yang kebetulan memuat elemen alat musik etnik? Jika demikian halnya, lalu bagaimana dengan Balawan yang (seringkali) memainkan musik daerah dengan menggunakan instrument gitar, yang kebetulan juga (direncanakan) menjadi salah satu performer di gelaran ini pada hari ketiga? (Balawan gagal tampil karena pada hari ketiga hujan deras mengguyur kota Solo *Pen.)

Pola. Demikian seorang kawan yang juga seorang pekerja teater di Solo memberikan kemungkinan jawaban atas pertanyaan saya. Etnik tidaknya sebuah karya komposisi musik, (kemungkinan) adalah pola. Yaitu bagaimana pola dari karya itu bisa membawa sebuah atmosfer yang mampu membawa pikiran kita pada sebuah bayangan tentang etnis/kesukuan (secara umum) tertentu. Jika hal demikian benar adanya, mungkin kegagalan SIEM kali ini tak sebesar yang ada di pemikiran saya. Meski repertoar Syaharani dan kelompoknya tetap saja tak cukup berhasil membawa saya kepada bayangan (tentang etnis tertentu) semacam itu. Demikian juga halnya dengan Lumaras Budoyo dan Inisisri + Kahanan.

Menurut saya, komposisi-komposisi karya yang mereka tampilkan (mungkin) lebih tepat disebut sebagai musik pop kontemporer. Saya cukup memahami, kata kontemporer sendiri sebenarnya bukanlah nama satu genre tertentu. Pada awal kelahirannya, kata yang satu ini digunakan untuk menyebut sebuah hasil karya baru yang (karena satu dan lain hal) tak bisa dikategorikan dalam satu genre tertentu. Bahkan seorang kawan pernah berolok-olok, kelahiran musik kontemporer dikarenakan kegagalan sang musisi untuk menguasai satu genre mainstream yang sudah ada. Sebuah komentar yang tentu saja tak harus ditanggapi secara serius.

Kegagalan sistem kuratorial ini (dari yang seharusnya memilih komposisi musik etnik namun justru terjebak komposisi musik kontemporer), kemungkinan besar dipengaruhi latar belakang para kurator itu sendiri, yaitu Rahayu Supanggah, Gilang Ramadhan, dan Inisisri (yang konon masuk dalam jajaran kurator belakangan). Pak Panggah sendiri adalah seniman berlatar belakang akademik yang tentu saja tak asing dan lekat dengan penciptaan komposisi musik baru. Dimana frase komposisi musik baru ini, secara tidak langsung pasti berhubungan dekat dengan kata kontemporer. Begitu juga Gilang Ramadhan yang lebih sering bergelut dengan musik Jazz, sebuah genre yang dengan mudah bisa dipadupadankan dengan aliran musik lain termasuk juga musik etnik. Inisisri dan Kahanan-nya pun juga tak jauh-jauh dengan semua metode kolaborasi (kontemporer) semacam ini. Sebuah kolaborasi yang yang tanpa disadari ternyata cukup besar berpotensi mereduksi sisi etnisitas itu sendiri, dimana keindahan bunyi-bunyian justru menghilangkan sebuah pola yang menjadikan sebuah karya komposisi layak disebut etnik atau tidak (dengan catatan, bahwa etnisitas sebuah karya musik memang didasarkan pada pola).

Menurut seorang kawan yang berkesempatan mengobrol dengan salah satu anggota Dewan Kesenian Surakarta (yang tak disebutkan namanya), konon sistem kuratorial ini sebenarnya sudah pernah dikritisi oleh pihaknya. Namun dalam prakteknya, ketiga kurator tetap saja menjalankan keyakinan mereka.

Sekedar perbandingan, entah mengapa saya justru menganggap repertoar-repertoar yang ditampilkan dalam Festival Musik Tradisi 2008 di Pendhapa Ageng Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta pada Selasa-Rabu (4-5/11) lalu, justru lebih tepat disebut sebagai musik etnik. Beberapa kelompok di situ benar-benar cukup berhasil membawa pikiran penikmat pada sebuah atmosfer tentang sebuah etnis tertentu. Seperti contohnya Kelompok Among Roso Cilacap yang membawakan komposisi musik yang sangat beraroma Cilacap. Begitu juga kelompok musik gambus Zannabi (?) yang dimainkan para pria keturunan timur tengah di Solo yang sanggup melempar imajinasi para penikmat ke sebuah negeri yang dikelilingi padang pasir. Dan meski ada perpaduan seperti yang dilakukan kelompok Kenongo Sari Kebumen yang mengawinkan musik angklung khas Sunda dengan gamelan Jawa, namun perpaduan tersebut ternyata tetap tak merusak suasana Jawa yang dimaksudkan.

Namun meski begitu, keberadaan kata tradisi di sini-pun juga cukup berpotensi melahirkan perdebatan yang cukup panjang dan melelahkan. Bukankah tradisi bisa saja diartikan sebagai kebiasaan? Lalu salahkah jika musik tradisi diartikan sebagai musik yang terlahir dari sebuah kebiasaan? Seperti halnya kelompok Az-Zarro Pati dan Kelompok Rebana Tombo Kangen Kab. Semarang yang menampilkan komposisi musik berbau Islami, yang dengan begitu bisa diartikan bahwa: di kedua tempat tersebut Islam sudah menjelma menjadi semacam tradisi? Lalu bagaimana dengan musik Punk yang juga lahir dari kebiasaan para pengikut budaya tersebut? Adakah salah jika musik Punk juga dimasukkan dalam kategori musik tradisi? Ah… seni memang terlalu melelahkan untuk bisa dijabarkan. :)

*Tulisan senada ada di sini dan sini

3 komentar:

  1. Dony Alfan mengatakan...
     

    Kok akeh nganggo kata 'namun', opo ra diedit redaktur-e sik? Wekeke

    SIEM? Sori, untuk satu dan lain hal, maka tak ada posting positif dan 'ngecap' di blog DKS. Makanya, para blogger tanpa ID press harusnya juga 'dirangkul' dong. Ah, tapi rupanya panitia terlalu sibuk nyedaki media massa mainstream. Padahal nek tak tulis, posisine neng google iso ngalahke kompas.com. Haha, aku kok sok pede, padahal sopo sih aku? * 'ngilo githoke dewe' mode on

    Sori, aku rodo OOT. Rapopo tho? Ayo tak jajakke es teh plus djarum sak ler wes.

  2. Tukang Nggunem mengatakan...
     

    Yuk kita nonton siem deh dong ah...wes "njitu" durung bosoku kuwi, hehehehehe...

    Terus terang saya gak nginguk blas SIEM kemaren, sudah ilfil ma kemasan acaranya yang katanya internasional tapi kok blas gak ada gaungnya...kalo ternyata SIEM kemaren bikin banyak penonton kecewa, ya berarti saya gak rugi dong memutuskan untuk tidak nginguk acara kuwi...ah mbohlah...

  3. Sang Lintang Lanang mengatakan...
     

    @ dony alfan:
    redaktur? benda apa itu? he3...
    blogger minta dirangkul? wah, bahaya itu.. bisa ga netral lagi.. :)

    @ tukang nggunem:
    tenang saja, ga ada kerugian apapun dari setiap pilihan...

Posting Komentar