Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Waktu Bukan Batu

;SMS Cinta ke Nomor Surga


Ayah mati. Ibu sudah tak menjerit-jerit lagi. Justru jengkerik yang terus memekik. Kabut merumput. Bagaimana ayah bisa mati, kakak tertuaku menggila sia-sia. ‘Jangankan… Puisi dan Sidharta pun kini tiada.’, jawabku dalam hati. Butir-butir air mengkristal. Ketegaran terpecah. Airmata menyapa. Senja menua. Hujan tiba-tiba.

***

Kita kurang usaha apa lagi?!’, kakak keduaku meninggi. ‘Tiga rumah sakit kita sambangi, empat sapi kita gadaikan. Tapi nyatanya, bapak belum sembuh juga…’. Aku memilih bungkam. ‘Kita adakan tahlilan. Kita panjatkan kepada Tuhan. Hanya dia pemberi jawaban.’. Aku tersentak, ’Tidak’. Semua mata menujuku. ‘Tidak seharusnya kita pasrah seperti itu.’, lanjutku. ‘Apa?!’, kakak iparku membelalak, ’Siapa yang pasrah? Kita tidak pasrah. Kita berdoa!’, lanjutnya lantang. Bagiku tak ada beda, tapi aku diam. Bukan apa-apa, aku hanya paham. Bagi mereka, aku hanya ingusan yang tak tahu rasa garam. Sekedar adik kecil, yang tiap hari kerjanya hanya bermain-main dengan sunyi dan puisi.

Tapi bukankah lebih baik jika kita bawa ayah ke rumah sakit?’, kucoba memberanikan diri. ‘Untuk apa?’, kakak keduaku melempar tanya, ‘Bukankah semuanya akan sia-sia?’. Benakku teriak. Benar! Mereka pasrah!! Benar-benar pasrah!!! Sementara tubuh ayah masih saja tak bergerak, meski sisa nafas terlihat berarak. ‘Bagaimana jika kita bawa ayah ke rumah sakit, sementara para tetangga kita undang untuk berdoa? Bukankah doa bisa dipanjatkan di mana saja?’, aku mencoba jalan tengah. Semua bungkam. Ibupun diam. Senja ini memang laknat. Teramat bangsat.

Begini saja’, kakak keduaku memecah lengang, ’Kita tahlilan.. Setelah itu kita bawa ayah ke rumah sakit... Bagaimana?’, dia menawar. Hening kembali berdenting. Benakku kembali berontak. Untuk apa kita sia-siakan waktu?! Waktu bukan batu, tapi memburu! Bukankah kesempatan bukan untuk diterlantarkan?! Bukankah petuah ayah mengajarkan untuk merebut kemenangan, bukan menunggu dia datang?! Makiku dalam bungkam.

Bagaimana?’, kakak keduaku kembali mengulang tanya. Semua orang di sekitarku mengangguk. Setuju. Dan gelenganku tak berarti apa-apa. Yaasin membahana, aku diam terpana. Hanya berharap waktu segera berlalu, sambil menanti amin terakhir terlafal bersama-sama. Namun seperti ketakutanku, belum selesai air wudhu membasuh telinga, jerit ibu merobek langit. Anjing!! Serapahku melengking. Langkah cepatku menemukan ibu menggelesot di samping dipan, sementara kedua matanya serupa telaga. Jasad ayah dingin. Nafas itu tak lagi ada. Nadi mati. Benar-benar mati. Dan mataku sendiri, tak menangkap apa-apa. Hanya hampa. Apa kubilang?!! Jeritku dalam hati. Waktu bukan batu!! Tapi memburu!! Bajingan!! Semua warna menghilang.

***

Untuk menjadi baik itu sulit.’, ayah berucap. Honda ‘70 merah milik ayah terbatuk-batuk menahan berat kami berdua. Selepas tanjakan, baru knalpotnya menghela nafas lega. ‘Ayahmu ini dulu, setiap hari naik sepeda angin pulang pergi 60 kilometer. Untuk apa?’, aku diam. ‘Agar bisa mencecap ilmu. Menikmati bangku sekolah... Kau tahu kenapa?’, aku kembali bungkam di boncengan. ‘Agar ayah sanggup merobek bintang! Menggunting awan! Merakit bulan sabit! Mencipta surga!’, suara ayah bergetar. Aku tersindir, juga tersihir. ‘Untuk menjadi baik itu sulit nak…’, ayah melanjutkan. Lunak. Dan tanpa sepengetahuannya, di balik punggung itu kukepalkan tangan. Sekolah bukan musibah. Ilmu bukan hantu. Melainkan lintasan untuk menuju. ‘Menjadi baik itu sulit…’, kalimat itu tertoreh dalam di dasar hatiku.

***

Ayah mati. Ibu sudah tak menjerit-jerit lagi. Justru jengkerik yang terus memekik. Kabut merumput. Bagaimana ayah bisa mati, kakak tertuaku menggila sia-sia. ‘Jangankan… Puisi dan Sidharta pun kini tiada.’, jawabku dalam hati. Butir-butir air mengkristal. Ketegaran terpecah. Airmata menyapa. Senja menua. Hujan tiba-tiba.



*Teruntuk Alm. Sutarno Noto Siswoyo tercinta
(akhir Agustus lima tahun lalu itu….)

2 komentar:

  1. DhaRmaLubIs mengatakan...
     

    permisi...saya bongkar arsip teman saya..ada nama blog ini disana. eh saya coba lancang untuk mampir...ternyata apa yang terjadi..

    setelah membaca tulisan ini emosi saya teraduk-aduk...hati saya berasa tapi tak bernama. saya seperti disuntikkan penerimaan sekaligus penolakan secara dewasa. entahlah apa namanya... ahhh saya terlalu memberanikan diri memaknainya dan menggores pesan disini.

    maaf...

  2. Sang Lintang Lanang mengatakan...
     

    @ dharmalubis:
    silahkan memaknainya apa saja.. toh kita manusia merdeka.. :)
    terima kasih..

Posting Komentar