Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Kampung Seni Lerep

;Kegilaan Yang Mewaraskan



Beruntunglah di tengah-tengah ketidakwarasan yang dibudidayakan saat ini, masih ada orang kaya gila seperti Handoko. Bagaimana tidak gila, sementara orang kaya lain ramai-ramai sibuk berpolitik dan membuat partai baru, Handoko justru membuka kampung seni. Kalimat Butet Kertarejasa itu seketika disambut tawa dari ratusan pengunjung pembukaan Kampung Seni Lerep, Ungaran, Rabu (18/6) lalu.

Menurut Butet, sebuah syarat sebuah kondisi masih layak disebut waras adalah ketika masih ada kesenian dan kebudayaan sebagai medan pengabdian. Sementara yang sibuk berseliweran di sekitar kita belakangan ini, lebih banyak mengindikasikan gejala ketidakwarasan yang sedang menjangkiti negeri. Bagaimana tidak, ketika para ibu memilih mengajak anaknya untuk bunuh diri, sementara para pemimpin terlalu sibuk meneteskan air mata untuk adegan film yang jauh dari realita, dan juga segerombolan pasukan pembela keyakinan menthungi orang lain yang berseberangan pikiran?

Butet menambahkan, yang jauh lebih gila adalah ungkapan Bethara Kala yang menyamar sebagai wapres beberapa waktu lalu, ‘Kita jangan sekali-kali meremehkan sebuah ide segila apapun bentuknya, karena lompatan-lompatan yang berhasil merubah peradaban berawal dari ide yang awalnya disebut gila’. Terlepas apakah kita setuju dengan pendapat tersebut atau tidak, namun yang jelas menurut Butet, ungkapan tersebut mengindikasikan bahwa menurut Sang Wapres, bangsa yang besar adalah bangsa yang kaya akan ide gila (meski miskin dalam realisasinya).

Hawa dingin pegunungan Ungaran seolah cair dengan kalimat-kalimat Butet yang tak henti memancing tawa para pengunjung. Butet memang tak terlalu lama membawakan Orasi Penggeli Hati-nya di malam bulan purnama itu. Namun hal itu bisa dimaklumi, mengingat banyaknya pengisi acara dalam gelaran tersebut. Diantaranya adalah Tari Grasak (Lereng Merapi), Wayang Dongeng (Semarang), permainan Gitar Kaki Aseng, Orasi Budaya Mohamad Sobary, Rampak Gendang (Semarang), Tari Lengger (Wonosobo), dll.

Lerep sendiri adalah nama sebuah desa di lereng Gunung Ungaran, dengan ketinggian sekitar 500 m di atas permukaan laut di Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Nama desa ini kemudian diadaptasi menjadi nama sebuah komunitas budaya ‘Kampung Seni Lerep’. Adalah Handoko, kolektor benda-benda seni asal Semarang, yang menggagas keberadaan kampung seni ini sejak 2006. Di areal seluas 10.000 m2 ini, terdapat berbagai fasilitas yang bisa digunakan untuk proses berkesenian. Mulai dari teater terbuka, galeri, dan tempat penginapan para seniman. Diharapkan untuk ke depannya, keberadaan fasilitas semacam ini dapat memantik api kreatifitas masing-masing para pekerja seni di Semarang (pada khususnya), dan jawa Tengah (pada umumnya).

Memang tak dapat disangkal, adalah sebuah keberuntungan di jaman yang penuh dengan carut marut ketidakwarasan ini, masih ada orang-orang berpunya yang bisa berpikir melawan arus. Melahirkan sebuah kegilaan, yang justru mewaraskan.



(foto diambil dari sini)

0 komentar:

Posting Komentar