Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Dua Lelaki Suatu Malam

Tuhan itu hebat ya yah?’, Banyu berkata. Lintang tersenyum. Membelai kepala anak semata wayangnya, ‘Kenapa?’, ucapnya. ‘Lihat saja yah..’, jawab Banyu. ‘Tidak mungkin Tuhan tidak hebat. Langit yang sedemikian luas dan pekat, ribuan bintang yang setiap malam bergentayang… Bukankah itu bukti kalau Tuhan hebat?’, laki-laki mungil itu berceloteh sambil matanya tak lepas dari langit malam yang kelam. Lintang hanya tersenyum. Beberapa saat keduanya diam. Masih tetap berbaring. Masing-masing sibuk dengan pikiran dan bayang-bayang. Bulan sabit mengintip di sudut langit.

Yah…’, Banyu memecah sunyi. Lintang menoleh. ‘Tadi siang waktu Banyu pulang sekolah, Banyu bertemu sepasang kakek nenek...’, banyu berhenti sebentara, baru melanjutkan, ‘Keduanya sudah terlalu keriput, pakaian mereka amat lusuh… Banyu kasihan melihat mereka yah... Mereka kurus sekali… Dan senyum mereka begitu merekah, ketika Banyu memberikan sisa bekal yang tadi pagi dibuatkan Ibu kepada mereka.. Mereka begitu gembira... ‘terima kasih nak… terima kasih… semoga Tuhan selalu memberkatimu’, begitu nenek itu berkata yah…’, Banyu berhenti.

Seekor kunang-kunang singgah di pucuk sebatang alang-alang. ‘Lalu?’, Lintang menatap anaknya. ‘Lalu sesudah itu.., ketika Banyu lewat di depan Pizza Hut, Banyu melihat anak perempuan kecil, kira-kira seumuran dik Senja, makan Pizza di balik kaca. Pipi dan bibirnya belepotan saus yang berwarna merah darah. Sementara bapak dan ibu muda di depannya, sibuk tertawa-tawa melihat polah lucu anaknya.’, Banyu kembali bungkam. Lintang juga memilih diam. ‘Mereka terlihat begitu bahagia yah…’, lanjut banyu pelan. Mata Lintang menemu awang-awang. Sementara anak angin sesaat membisikkan kabar dari utara. ‘Tuhan hebat …, tapi kenapa tidak adil ya yah?’, untuk pertama kalinya malam itu mata Banyu lepas dari gemintang, menatap Lintang. ‘Tuhan tidak adil ya yah?’, ulangnya ketika Lintang tetap terbungkam.

Tidak nak’, Lintang berkata pelan sambil menatap lekat mata sang anak, ‘Tuhan bukannya tidak adil….. Dia hanya tidak ada.’. Dan kunang-kunang mengejar bintang.

0 komentar:

Posting Komentar