Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Indonesia Bisa

Betapa Indonesia bukanlah sesuatu yang sekedar main-main semata. Pemikiran inilah, yang sekarang sedang memenuhi ruang sempit di kepala saya.

Pementasan akbar Indonesia Bisa yang baru saja saya nikmati di layar TV, adalah sebuah bukti. Bahwa Indonesia, adalah sesuatu yang maha akbar. Pementasan kolosal untuk memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional ini, ,mempertunjukkan keragaman budaya di negeri ini. Mulai dari Aceh hingga Papua. Masing-masing dari wakil delegasi, mempertunjukkan kekhasan budaya masing-masing. Sesuatu yang amat layak dibanggakan, sekaligus (selalu) memicu kekhawatiran.

Karena bagaimanapun, keragaman semacam ini adalah salah satu bukti nyata, bahwa Indonesia adalah negeri yang dibangun di atas dasar perbedaan (Dan pebedaan, selalu berpotensi melahirkan perpecahan). Dalam artian, bahwa kita (Indonesia) memang tidak berjalan dari garis start yang sama. Dan jika menengok ke belakang, penyatuan segala perbedaan itu ‘baru’ dilakukan oleh Mahapatih Gajahmada beberapa ratus tahun yang lampau (Terkadang saya bertanya-tanya, atas dasar apa sehingga seorang Gajahmada ‘iseng’ menyatukan sedemikian banyak perbedaan )

Meski bisa dikatakan pementasan ini amat sangat menarik, namun sebenarnya ada banyak hal yang patut dikritisi. Termasuk, eksploitasi kekuatan militer negeri ini. Bukan apa-apa, hanya saja saya secara pribadi berpendapat, bahwa moment Kebangkitan Nasional lebih berhubungan dengan ‘logika dan cinta’ ketimbang dengan ‘senjata’. [Lalu apakah personel tentara memang selalu tak berlogika dan tak bercinta, meski selalu bersenjata? Entahlah. Namun sepertinya tidak (semuanya)  ]

Sekali lagi menurut saya, Kebangkitan Nasional tak harus diejawantahkan dengan kebangkitan untuk melawan penjajah dengan persenjataan. Namun lebih kepada revolusi pemikiran. Dimana sebelumnya masing-masing etnis berjuang demi kelompok mereka sendiri, hingga akhirnya mulai merasa bahwa sebenarnya kita semua adalah sama. Yaitu sama-sama makhluk yang hidup dalam belenggu keterjajahan. Dan jika akhirnya masing-masing dari kita memilih mengangkat senjata ketika menyadari keterjajahan tersebut, itu adalah hal yang lain lagi. Sesuatu yang lebih tepat dikatakan sebagai ‘akibat’ daripada ‘sebab’.

Namun saya sendiri juga memahami, bahwa eksploitasi angkatan perang ini didasari keinginan untuk mempertunjukkan kedaulatan negeri. Sesuatu, yang sebenarnya tak hanya menjadi tanggung jawab personel TNI. Namun juga seluruh rakyat Indonesia.

Dan satu hal lagi yang menjadi ironi terbesar dari ajang ini. Dimana diketahui, acara ini bukanlah sesuatu yang main-main. Dan tentu saja, menghabiskan dana yang juga tidak main-main. Padahal kita semua pasti memahami, alasan apa yang mendasari ribuan orang berdemo di sekitar istana Negara belakangan ini. Hampir semua elemen masyarakat yang melakukan aksi, menuntut hal senada. Yaitu penolakan harga BBM dan penurunan harga sembako. Sebuah komposisi tuntutan, yang mempertunjukkan bahwa masih ada (untuk tidak mengatakan banyak) PR yang harus dikerjakan para pemegang tampuk kekuasaan.

Menjadi pemimpin di negeri ini, bagaikan makan buah simalakama. Bergerak salah, tidak bergerak (mungkin) lebih salah. Para penuntut pembatalan kenaikan harga BBM, mungkin memang belum menyadari dampak buruk jika harga BBM dipertahankan. Karena dalam minggu-minggu terakhir ini, setiap hari berita di koran-koran selalu menulis judul berita yang sama. Yaitu, ‘harga minyak dunia mencetak rekor tertinggi’. Dan hal ini berarti, jika harga BBM dipertahankan, Negara akan semakin ‘rugi’. Karena subsidi yang diberikan kepada rakyat, dipastikan akan terus membengkak. Dan akibatnya, hutang Indonesia semakin bertambah.

Sebuah masalah yang memang amat sulit untuk dipecahkan. Terlalu rumit untuk diurai jalan keluarnya. Dan itulah, yang sedang dihadapi para pemimpin kita, yang belakangan ini semakin terlihat bertambah tua. Namun yang jadi pertanyaan terbesar, jika memang Negara ini sedang mengalami krisis keuangan, kenapa harus menghambur-hamburkan uang hanya untuk sebuah seremoni? Sebuah seremoni yang (bisa dipastikan) tak merubah banyak keadaan. Bukankah akan lebih baik, jika dana yang ada dialokasikan bagi hal lain yang lebih ‘berguna’? Namun sudahlah, karena sepertinya memang sudah menjadi semacam takdir, bahwa ‘pikiran pemimpin’ memang selalu berbeda dengan ‘pikiran rakyat’. Sehingga tak heran, jika terkadang ‘suara pemimpin’ juga tak sama dengan ‘suara rakyat’.

Ya. Hidup memang sekedar rangkaian perbedaan yang mungkin memang tak selalu harus diseragamkan. Namun yakinlah, bahwa Indonesia memang akan bisa menyelesaikan semuanya. Jika tidak hari ini, berarti belum. Karena masih ada esok lusa. Keyakinan adalah modal pertama, sekaligus terbesar untuk menjemput keberhasilan. Sekali lagi tanamkan dalam dada, Indonesia Bisa.

4 komentar:

  1. suarahimsa mengatakan...
     

    ya..Indoesia Bisa.sebenarnya perubahan sejak reformasi 1998 itu baru sampai pada kebebasan politik/demokrasi politik.salah satunya ditandai dengan kebebasan berbicara, freedom of the press dsb. tetapi, dalam hal ekonomi, sosial, budaya dan pendidikan,kita belum benar2 merdeka. semoga 2009 menjadi titik tolak bagi bangsa Indonesia untuk segera melakukan reformasi birokrasi di sistem pemerintahan. jadi benar2 ada birokrasi yang do desain ulang, di re-form. saya yakin perubahan itu tidak utopis....asal ada pemimpin yang langsung eksekusi dan mengambil tindakan nyata.

  2. haris mengatakan...
     

    selasa lalu saya dengarkan GM pidato di pasar gede. meski singkat, pidato itu tetap menyentuh. GM mengajak kita utk tak selalu meromantisir masa lalu sembari menjelekkan masa kini. bagi GM, masa sekarang juga sudah jauh melangkah. kita sudah melakukan banyak hal sejak 1908, kata GM. saya yang penggemar GM tahu betul bahwa apa yg diomongkannya sebenarnya sudah pernah dikatakannya melalui tulisan berkali-kali. tapi di momen seabad kebangkitan nasional ini, agaknya dia mesti mengulangi pemikiranitu lagi. barangkali benar: kita mesti didorong utk optimis.

  3. Rey mengatakan...
     

    iya yaa... Indonesia memang senengnya seremoni, sepertinya hal itu sdh menjadi budaya, contoh kecilnya aja, sampe skrg msh bertahan upacara penguburan mayat di suatu daerah yg menelan banyak biaya. Mrk sendiri sbnrnya bingung dan kesulitan cari biaya, tp apa daya, itu adat.

    Soal kebangkitan nasional aku suka yg iklan di tipi yg Deddy Mizwar itu lho... : "bangkit itu susah, susah melihat org lain susah, susah melihat org lain menderita. Bangkit itu malu, malu utk berbuat korupsi, malu mengambil yg bkn haknya, bla bla bla....."

    yukkk bangkit yuukk... :)

  4. lintang lanang mengatakan...
     

    @ Suarahimsa:
    bener mas, tidak utopis. masalahnya ya itu, pemimpin yang tegas saat ini belom ada.

    @haris:
    kita memang harus selalu optimis. bagaimanapun caranya. minimal, optimisme menempatkan posisi kita selangkah di depan.

    @rey:
    ya begitulah, sudah membudaya. senengnya proyek mercu suar. kenceng di awal, tindak lanjutnya? nanti dulu...

    matur suwun untuk semua..

Posting Komentar