Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Aeng-Aeng III (Sketsa Burung) ;Langkah Sukses Pencederaan Proses

Dengan alasan apapun, sebuah proses pembelajaran seharusnya tak mengenal kosakata ‘selesai’. Termasuk, karena alasan ‘waktu’ dan ‘usia’. Sebuah alasan yang seringkali digunakan oleh mereka yang sudah ‘merasa cukup tua’. Dan (konyolnya), ‘ketuaan’ ini seringkali digeneralisasikan dengan kata ahli dan mumpuni. Sebuah pandangan umum yang (sebenarnya) justru mengebiri perjalanan kreativitas. Dan hal semacam inilah, yang (mungkin) menjangkiti beberapa aktor tua Teater Sopo.

13 - 14 Mei lalu, Teater Sopo FISIP UNS kembali menggelar Pentas Bikin-Bikin. Acara ini, adalah sebuah gelaran ke-limabelas. Perlu diketahui, Bikin-Bikin adalah sebuah ritual rutin Teater Sopo. Ajang ini, adalah sebuah ajang praktek pelatihan bagi sutradara maupun aktor-aktor Teater Sopo. Dan untuk kali ini, Teater Sopo mementaskan 4 buah repertoar, dalam 2 hari pementasan.

Pada hari pertama ada Kalijaga (karya/sutradara: Mbah Win) dan Aeng-Aeng III; Sketsa Burung (Sutradara: Bagus MP). Sementara hari kedua, Teater Sopo mementaskan Tompel (adaptasi dari cerpen karya Anissa, Sutradara/adaptator: Yana) dan Awud-Awudan; Tragedi Pusaka Sakti (Naskah: Rudi Gempil, Sutradara: Anggo Anurogo). Namun yang akan dibahas dalam tulisan ini, hanya pementasan yang digelar pada hari pertama.

Pementasan Kalijaga menceritakan tentang sepenggal kisah perjalanan hidup RM Said semasa muda. Yaitu, semenjak masih menjadi ‘putra dalam benteng’, hingga sampai bergelar Sunan Kalijaga. Naskah ini bisa dibilang cukup menarik. Sekaligus bisa dikatakan, cukup memberi sapuan warna lain dalam kanvas perjalanan Teater Sopo. Dimana pada masa sebelumnya, Teater Sopo teramat jarang mementaskan sebuah naskah yang berbau agamis semacam ini.

Hal ini kemungkinan besar dipengaruhi latar belakang sang penulis naskah. Yaitu Mbah Win. Sosok yang juga berperan langsung sebagai sang sutradara. Dan naskah ini, bisa dikatakan adalah sebuah sisi lain dari seorang Mbah Win. Dimana dalam pentas-pentas sebelumnya, dia lebih sering mementaskan naskah-naskah yang berbau kejawen. Sebuah ciri khas, yang masih tetap dipertahankan sampai sekarang. Termasuk dalam Kalijaga.

Meski naskah ini bisa dibilang cukup menarik, namun dalam eksekusinya, masih terlihat jelas beberapa cacat yang menjadikan pementasan terkesan membosankan. Contohnya, pola permainan aktor yang (masih) terlihat kaku, artistik yang digarap setengah-setengah, dan beberapa pola penggarapan lain yang kurang detail. Namun jika melihat proses yang berjalan di balik kelahirannya, mungkin hal ini bisa dimaklumi. Dimana proses penggarapannya sendiri, memang hanya berjalan tak lebih dari 2 bulan. Sebuah waktu yang bisa dibilang terlalu singkat, untuk persiapan sebuah pementasan teater. Belum lagi, ditambah faktor jam terbang aktor yang memang belum begitu tinggi.

Namun sebagai sebuah ‘karya jadi’ yang dilempar ke publik, masih banyak beberapa ‘dosa’ yang harus ditebus dari pementasan ini. Karena bagaimanapun, publik adalah sosok merdeka. Yang sama sekali tak terikat dengan hal-hal di luar apa yang mereka lihat. Mereka adalah sosok yang tak akan pernah peduli, dengan apapun yang terjadi di balik sebuah pementasan. Mereka hanya peduli pada ‘hasil jadi’ yang mereka ‘beli’.

Sang sutradara sendiri, sebenarnya adalah bukan orang baru dalam proses penggarapan. Namun, teater adalah sebuah ‘kerja team’. Dan karena itu, tidak hanya dipengaruhi oleh sepak terjang sang sutradara semata. Melainkan, harus didukung elemen-elemen lainnya.

Sementara itu, pementasan kedua adalah Aeng-Aeng III; Sketsa Burung. Aeng-Aeng sendiri, dalam bahasa jawa berarti ‘aneh-aneh’. Pementasan ini adalah sebuah karya yang digawangi beberapa actor senior (/alumni) Teater Sopo. Aeng-Aeng I(Legenda SunBowl), dipentaskan tahun 2005. Sementara, Aeng-Aeng II, dipentaskan 2007.

Basic penggarapan naskah ini adalah komedi. Dimana disini, lebih menekankan pada permainan improvisasi. Karena itu, pementasan tak selalu berdasar pada naskah resmi. Berbeda dengan pementasan-pementasan teater modern lainnya. Para aktor hanya perlu bermain berdasar plot yang sudah digaris bawahi. Namun meski begitu, pementasan naskah Aeng-Aeng bisa dibilang selalu berhasil (setidaknya, berhasil memancing tawa dan menghibur penonton). Hal ini mengingat para aktor yang berada di belakangnya adalah mereka yang memang sudah banyak makan asam garam pementasan. Namun apakah hal tersebut menjadi jaminan bahwa pementasan kali ini terlepas dari kesalahan?

Sketsa Burung menceritakan tentang perjalanan seorang laki-laki, yang mencari sebuah cincin untuk memenuhi keinginan istrinya yang sedang hamil tua. Sebuah plot yang memang cukup sederhana. Sebuah ciri khas yang masih tetap dipertahankan hingga sekarang. Namun sayang, ‘dosa’ dalam pementasan kali ini bisa dikatakan lumayan besar. Dimana disini, masing-masing aktor seakan adalah individu yang sibuk dengan perannya sendiri-sendiri. Sehingga yang terjadi, masing-masing di antara mereka justru terlihat saling berkompetisi, untuk bisa menjadi yang ‘terbaik’ dan ‘terlucu’. Akibatnya frase ‘kerja team’, menjadi tercederai.

Sebenarnya pementasan ini di awali dengan cukup baik. Proses muncul beberapa aktor, telah berhasil membangun suasana. Namun memasuki pertengahan pentas, chaos mulai terjadi. Banyak di antara aktor yang mulai merasa di atas angin. Hal ini, kemungkinan dipengaruhi apresiasi penonton yang memang cukup menggairahkan. Keberadaan improvisasi semakin menjadi-jadi. Hingga kesan ‘liar’ dan ‘merajalela’, tak dapat dihindari. Dan efek samping terburuk yang menyertainya, ‘suara’ yang ingin diperdengarkan justru terlihat gagap dan terdengar sumbang. Sehingga pesan yang ingin disampaikan, terreduksi secara diam-diam (dengan catatan, jika memang ada ‘pesan’ yang ingin disampaikan dalam pementasan ini:)

Lalu apa sebenarnya yang salah dari pementasan kali ini? Hingga aktor senior (yang sebenarnya bisa dijadikan jaminan mutu dari sebuah pementasan) menunjukkan permainan yang terkesan ‘tak terkendali’? Jawabannya, (mungkin) adalah sikap ‘enggan belajar lagi’. Sebuah sikap yang tanpa disadari, menjadi sebilah bumerang bagi diri sendiri.

Keberadaan aktor yang sudah merasa senior, menjadikan keberadaan kosakata ‘proses’ tak lebih dari sekedar angin lalu, yang tak perlu diperhatikan. Padahal kata ini, adalah salah satu bagian dari mantra aji dalam proses pembelajaran. Mereka (sepertinya) beranggapan, bahwa proses ‘belajar’ hanyalah milik kaum pemula semata. Hingga akhirnya, tak ada yang disebut sebagai ‘proses berdarah-darah’. Yang ada, hanyalah (meminjam istilah seorang kawan) ‘proses berdaging-daging’. Sebuah sikap yang justru menjelma menjadi prosesi bunuh diri.

Lalu apa sebenarnya yang mendasari sikap tersebut? Secara pribadi, tentu saja saya sendiri tak cukup memahami. Karena saya bukan mereka. Namun jika boleh berspekulasi, besar kemungkinan (seperti yang diungkapkan salah seorang kawan) bagi mereka para aktor senior, pementasan ini tak lebih dari sebuah ajang ‘klangenan’. Sebuah usaha untuk bernostalgia mengenang masa-masa kejayaan. Yang hasilnya, justru adalah sebuah ‘luka dan cedera’.

Namun sebenarnya, itu bukanlah satu-satunya hal yang harus diperhatikan semua pihak. Karena sebenarnya, justru ada sesuatu yang lebih penting dan lebih ‘mengerikan’. Efek buruk dari sikap ‘pencederaan proses’ yang dilakukan para ‘tetua’, dikhawatirkan akan menjangkiti para aktor yang lebih muda. Dimana masing-masing dari mereka, besar kemungkinan akan meniru cara-cara dan metode yang dipakai para seniornya. Dan bagi sebuah kelompok teater kampus (yang mau tidak mau harus selalu ber-regenerasi), hal ini adalah (benar-benar) sebuah ajang menyongsong kematian. Sesuatu, yang sebenarnya tak diinginkan semua pihak.

0 komentar:

Posting Komentar