Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Layang Dari Lintang

Wahai manusia yang terserak di penjuru belukar Nusantara, demi Puisi dan Negeri ini, kukirim selarik tanya ke alamatmu,

‘Akan kau bawa kemana, Indonesia?’

Jika kau para penguasa, tak ubahnya kumpulan tikus pengerat yang mengais-mengais uang rakyat, berbuat seakan dewa namun menyimpan cenderamata berupa neraka.

Juga kau para wakil rakyat, yang justru sibuk menyimpan otakmu di dalam lipatan dompet, hingga yang ada di pikiranmu tak lebih dari sekedar uang, uang, dan uang, serta hanya bisa mewakili satu hal yang tak mungkin didapat rakyat, Kesejahteraan.

Pun juga kau para aparat, yang tak lebih dari robot mekanis tak berlogika, yang bergerak atas instruksi panglima yang memegang remote di tangan kanannya, dan hanya bisa bersuara satu kata, ‘Siap!’, bahkan ketika komandanmu menginstruksikan untuk menguras laut, membelah langit, memunguti bintang-bintang, hingga meminum darah sesama.

Juga kau para mahasiswa, yang belakangan ini hanya sibuk berteriak mengatasnamakan Rakyat di depan kantor-kantor pemerintahan, mengirim secuil memori ke masa lalu, untuk mengevolusikan diri menjadi Soe Hok Gie serta para Pahlawan Reformasi, lalu dengan lantang berucap, ‘Aku siap menelan butir peluru mentah-mentah!”, hingga ajal tercerabut dalam keterasingan, ‘Atas nama rakyat, aku mati’, kalimat itulah, yang kau rencanakan akan kau bisikkan dalam desis nafas terakhir, di pangkuan pacarmu yang berleleran airmata. Sungguh romantis. (Namun, rakyat yang mana saudara?)

Pun juga kau para mahasiswa, yang kemarin siang justru sibuk saling melempar batu, membawa pentungan kayu, golok, celurit dan benda-benda pembunuh lainnya untuk menyakiti rekan (yang harusnya) satu kereta denganmu , yang kebetulan mengenakan jaket almamater berbeda warna. Sungguh, intelektualitas tak lebih dari kata asing yang bahkan tak termuat dalam kamus bahasa apapun, yang mungkin hanya ditulis tidak dengan tinta, tapi dengan darah hewan melata dalam kitab purba, yang ditorehkan oleh seorang empu beribu-ribu abad sebelum Negarakertagama, Sutasoma, apalagi Serat Centhini terpikir di benak para pengarangnya.

Belum lagi kau adik-adik SMP-ku, yang tadi siang wajahmu kulihat merah karena marah di layar TV. Kini dirimu semakin pintar meniru polah tingkah kakak-kakakmu, bapakmu, pamanmu, dengan berlari-lari berkejaran di sepanjang jalanan ibu kota, sambil menenteng sebilah golok dan melemparkan bebatuan yang konon diciptakan tuhan (entah untuk apa, tapi seharusnya tidak untuk membunuh). Aku tahu, kau tidak sedang melakukan jumrah. Aku juga tahu, kau juga tidak sedang mengusir iblis. Tapi kau sedang berusaha mati-matian, untuk mencipta luka di jasad manusia lain. Kau sedang berusaha belajar tertawa, ketika melihat setetes darah tertumpah dari tubuh para musuh. Aku tahu itu adikku.

Begitu juga kau para pemuka agama, yang hanya sibuk menciumi sajadah dan bernyanyi-nyanyi di gereja, sambil menutup mata dengan apa yang ada di kanan kirimu, berbicara seolah-olah kerajaan surga adalah sesuatu yang sudah pasti akan ada, hingga kehidupan hari ini kau sebut-sebut sebagai FANA, tak ada gunanya, dan karena itulah mari kita nikmati apa adanya.

Belum lagi kau para fundamentalis, yang secara terus menerus memimpikan keseragaman di seluruh penjuru dunia, dengan mendirikan Imperium Islam Raya, yang hidup dan terhidupkan dengan hukum islam yang kau sebut-sebut super suci, dengan tidak mempedulikan betapa berharganya sebutir nyawa, betapa bernilainya genangan darah yang muncrat dari tebasan pedang di leher, tembusan peluru di dada kiri, dan serpihan bom di ujung kepala dari seekor makhluk bernama manusia.

Sekali lagi saudara, kukirimkan selarik tanya ke alamatmu:

‘Akan kau bawa kemana, Indonesia?’

9 komentar:

  1. Joell de Franco mengatakan...
     

    "Begitu juga kau para pemuka agama, yang hanya sibuk menciumi sajadah dan bernyanyi-nyanyi di gereja, sambil menutup mata dengan apa yang ada di kanan kirimu, berbicara seolah-olah kerajaan surga adalah sesuatu yang sudah pasti akan ada, hingga kehidupan hari ini kau sebut-sebut sebagai FANA, tak ada gunanya, dan karena itulah mari kita nikmati apa adanya."

    Khas tulisanmu banget...hahahaha..peace bro...sampe ketemu di surga, karena saya yakin surga itu pasti ada walau saya gak yakin jalan saya kesana bakal sangat mudah...

  2. Dony mengatakan...
     

    Manusia memang selalu saja bikin salah,tapi itu justru sangat manusiawi.
    Yang paling bener dan selalu bener ya Tuhan,sayang sepertinya Anda belum mengenalNya...
    Saya berharap negeri ini tidak dibawa ke arah yg diingankan oleh Mas Lintang,bs tambah ROSAK nantinya!

    Wes ya,su!

  3. Haris Firdaus mengatakan...
     

    wah, tanda tanyamu sulit, bung. kadang kita harus lebih rendah hati. memang ada proses yg tak mudah tapi ada juga kemajuan. saya percaya itu, bung!

  4. ROE mengatakan...
     

    ulasan yang keren banget, teriakan batin seorang anak negeri yang melihat indonesia dari sisi yang berbeda. tulisan yang mencoba merengkuh imaji dari Dehumanisasi yang terjadi di negeri ini.

    ulasan yang memang sangat idealis, tapi sudah cukup membuat kita berpikir tentang arti kemanusian.

    ada satu adigium yg menarik untuk direnungi dari ulasan ini "MANUSIA ITU MANUSIAWI"

    salam kenal mas lintang

  5. lintang lanang mengatakan...
     

    @ joell de franco:
    ketemu dimana mase? disana? wah, tidak saja.. matur suwun.. he3..

    @dony:

    Saya sangat mengenal-nya mas.. teramat mengenal-nya bahkan.. justru dengan mengatakan bahwa keinginan saya akan membawa negeri 'ini pada KEROSAKAN, berarti anda yang tidak mengenal saya.. he3.. ditambah lagi, jangan sampai kedok 'manusiawi' digunakan untuk menutupi sebuah KESALAHAN..

    @haris firdaus:
    iya. saya juga masih percaya bung haris. saya masih percaya.

    @ roe:

    salam kenal juga sodara roe. manusia memang manusiawi. namun jangan sampai (seperti sudah saya katakan juga kepada sdr. dony di atas), jangan sampai 'kata ini' disalahgunakan sebagai pembenaran atas kesalahan. dan terakhir, kita memang harus selalu berpikir tentang kemanusiaan. karena kita (memang) Manusia.

    Terima Kasih untuk semuanya...

  6. suarahimsa mengatakan...
     

    Hakekat manusia sebagai makhluk tuhan yang maha esa, diciptakan dalam bentuk paling sempurna. Manusia adalah makhluk spiritual yang akan menjalani fase-fase peristiwa kehidupan baik sebelum lahir, sekarang maupun setelah mati.

    Kalimat diatas mungkin terlalu filosofis, namun sebenarnya merupakan istilah sederhana yang bisa dipahami. Spiritual merupakan aspek non fisik yang mampu memberikan kekuatan manusia untuk lebih dari sekedar hidup.

    Yup, sebagai manusia Indonesia, sekali lagi manusia Indonesia, saya akan berusaha menjadi warga negara yang baik,taat hukum,wajib bayar pajak, mengikuti kebijakan pemerintah yang kadang tidak populis, menjadi manusia di tengah kebhinnekaan, menempatkan dialog diatas perbedaan, berkarya, berinovasi, menjadi manusia Indonesia sesuai dengan kapasitas saya. Perubahan bukan merupakan sesuatu yang utopis. Indonesia Bisa...

  7. Ndoro Seten mengatakan...
     

    Jawabnya hanya satu...
    mari bekerja dengan baik dan benar!!!!

  8. Rey mengatakan...
     

    kemana yaa? yah kemana pun aku pergi Indonesa mesti ta' bawa, karena aku lah Indonesia, halahhh... haha :D

  9. lintang lanang mengatakan...
     

    @ suarahimsa:
    betul sodara, 'Spiritualitas' memang merupakan aspek non fisik yang mampu memberikan kekuatan manusia untuk lebih dari sekedar hidup. saya setuju itu.

    hanya mungkin saya perlu menambahkan, bahwa s'piritualitas' adalah tidak selalu berhubungan dengan 'agama'.

    (sekali lagi) saya setuju. perubahan bukan utopis. Indonesia bisa!

    @ndoro seten:
    mari!!

    @rey:
    begitu juga saya!


    terima kasih semuanya...

Posting Komentar