Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Absurditas Kenyamanan

Betapa kenyamanan, ternyata teramat membutakan.

Dalam kehidupan, umat manusia tak pernah berhenti berduyun-duyun mencari, untuk menemukan apa yang disebut sebagai rasa nyaman. Namun, sedikit yang sanggup menyadari, bahwa kenyamanan berpotensi mematikan. Ketika manusia berada dalam ruang bernama rasa nyaman, tanpa disadari kepekaan menjadi tereduksi. Karena nyaman, adalah sebuah candu yang melenakan. Sebuah candi, tempat menyongsong mati.

Sementara gelisah; yang seringkali dianggap sampah yang selalu diharapkan untuk musnah; sebenarnya adalah setetes anggur yang akan membuat gairah kehidupan semakin menjalar dan membesar. Hingga kita tak hanya sekedar diam dalam posisi berdiri, namun juga berlari, meloncat bahkan menari.

Hanya kegelisahan-lah yang akan membuat kita, bergerak melakukan sesuatu. Sesuatu yang tak akan pernah kita temukan, ketika kita terjebak dalam kenyamanan. Sesuatu yang berpotensi merubah keadaan. Memutarbalikkan kenyataan. Merusak komposisi lukisan yang seakan sudah tertata rapi dan jadi, menjadi sebuah abstraksi yang akan memberikan banyak kejutan. Membuat garis-garis warna, yang membuat hidup tak sekedar menjadi sebuah perjalanan yang menjemukan, memuakkan, dan membosankan. Merubah kehidupan, dari sekedar mekanisme robotis; dimana menarik dan menghembuskan nafas hanya sekedar sebuah kewajiban pertahanan hidup tak berkesudahan; menjadi sebuah koreografi tari yang penuh liukan improvisasi yang membawa jiwa menerbang menuju surga yang sebenarnya. Bukan sekedar tempat imajinasi yang tersimpan di kitab-kitab budaya warisan para nabi.

Karenanya, sebagai makhluk yang disebut manusia; yang konon berakal dan berlogika;, tak sepantasnya jika hanya sekedar berdiam diri, mengurung tubuh dalam ruangan yang sejuk meninabobokkan, tanpa sekalipun berusaha memelihara kegelisahan yang sanggup menghentakkan. Kenyamanan tak ubahnya arsenik yang membunuh secara pelan dengan diam-diam, tanpa perlu membuka jalan. Anak panah yang melesat cepat, tanpa mencipta cacat.

Oleh karena itu, Descartes berucap ‘Cogito Ergo Sum…’. Aku berpikir, maka aku ada. Karena hanya dengan terus berpikir (yang tentu akan mencipta kegelisahan), manusia secara sengaja akan bisa membuka pintu-pintu menjadi menganga. Hingga jawaban, bukan sekedar benda asing di atas awan. Dan hidup, tak lagi menjadi sebuah kesia-siaan.

Begitulah. Keindahan ketika manusia sanggup merasa nyaman dalam ketidaknyamanan. Sekaligus merasa tak nyaman, dalam kenyamanan.

0 komentar:

Posting Komentar