Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Sundari ; Sang Kartini Kebudayaan

40 tahun bukanlah waktu yang singkat. Apalagi, untuk sebuah pengabdian. Dan inilah, yang dilakukan oleh Sundari. Bagi sebagian besar orang, nama ini mungkin kurang dikenal. Jelas kalah tenar, dibandingkan Inul Daratista ataupun Cinta Laura. Namun bagi anggota Ngesti Pandawa; kelompok kesenian wayang orang yang berbasis di Semarang; nama ini menjadi semacam pembuktian, dari arti kata konsistensi. Sejak 1968 sampai sekarang, Sundari tetap bertahan, dengan pilihan yang telah dia tetapkan.

Obrolan di antara kami, berlangsung beberapa waktu yang lalu. Di bawah remang rembulan di Taman Budaya Raden Saleh; dimana dia sedang mempersiapkan diri untuk sebuah pementasan; dia menyempatkan diri untuk sedikit bercerita. Tentang segala sesuatu tentang dirinya. Sundari sendiri mengamini, bahwa dunia seni (khususnya seni budaya), bukanlah sebuah dunia yang cukup menjanjikan. Namun dirinya, sama sekali tidak mempedulikan. Baginya, kehidupan tak sekedar perjalanan kesia-siaan mengejar kekayaan. Justru ‘berkarya’, adalah secuil surga pencipta bahagia. Yang sanggup mengubah manusia, menjadi Manusia.

Darah seni yang mengalir deras di tubuhnya, tak serta merta turun secara tiba-tiba. Semua itu, diwarisi dari kedua orang tuanya. Sejak usia 13 tahun, Sundari telah mulai belajar tari di. Pura Mangkunegaran Surakarta. Dan kini hingga kini, ketika usianya mencapai 53, Sundari.menetap di Semarang. Kota asal sang suami.

Sebelum menetap di Semarang, Sundari sempat sekolah dan berkarya di Surabaya. Sebuah kota, yang memepertemukannya dengan Sunarno. Seorang laki-laki, yang selalu setia menemani, dan telah memberinya seorang putri. Awal kisah cinta diantara keduanya, juga tak jauh dari dunia seni. Menurut penuturan Sundari, semuanya berawal dari panggung-panggung pementasan. Ketika itu, mereka berdua seringkali terlibat dalam pementasan Bambangan Cakil, di Surabaya. Namun, tidak seperti kisah di atas panggung; dimana Bambangan selalu berseteru dengan Cakil; di dunia nyata keduanya justru saling memelihara benih-benih cinta. Witing tresno jalaran soko kulino, kata Sundari. Hingga saat ini, dimana keduanya tetap sama-sama mengabdikan diri di dunia seni, cinta itu masih tetap terpelihara.

Dunia media yang menawarkan cara-cara instan; termasuk dalam hal hiburan; tentu menjadi sebuah ancaman tersendiri. Dimana generasi muda, semakin terjauhkan dengan kebudayaan. Namun menanggapi hal ini, Sundari memilih untuk bersikap bijak. Dia menyadari, bahwa jaman memang sudah berubah. Apakah seseorang memilih untuk turut serta nguri-uri kebudayaan, atau tidak sama sekali, baginya itu adalah hak masing-masing pribadi. Yang tentu saja, harus dihargai. Bahkan dia sendiri juga tidak mempermasalahkan, ketika putri semata wayangnya, memilih untuk tidak mengikuti jejak kedua orang tuanya.

Karena materi dari dunia seni tak mungkin bisa menghidupi, Sundari berusaha untuk mensiasati. Dengan membuka, sanggar rias kecantikan. Dulu, ketika usianya masih di bawah 50 tahun, Sundari masih bisa menyempatkan diri memberi les tari bagi anak-anak. Namun kini, di usianya yang semakin senja, Sundari (dengan dibantu suaminya) memilih untuk menjalankan sanggar rias mereka.

Itulah Sundari. Salah satu dari sedikit manusia, yang masih memahami arti kata pilihan dan pengabdian. Dia berkomitmen, selama nafasnya masih bertahan, dia akan tetap menjadi ujung tombak kesenian. Sungguh sesuatu yang agak sulit dipercaya, bahwa di balik gemulai tubuhnya, dan juga halus tutur katanya, tersimpan sebuah ketetapan hati yang sulit ditandingi. Bahkan dia menambahkan, andaikan honor setiap pementasan dikurangi sekalipun, dia tetap tidak peduli. Karena dia menyadari, bahwa dia tumbuh besar menjadi seorang Manusia, adalah disini. Di dunia seni. Sebuah dunia, yang mengalir seakan darah di urat nadinya. Sebuah dunia, yang mengalir laksana keringat di kulit keriputnya.

Itulah Sundari, Sang Kartini Kebudayaan.

2 komentar:

  1. zee mengatakan...
     

    Salut buat Sundari. Biar kata udah tua, tp masih tetep mengisi hari-harinya dgn hal yg berguna.

  2. cak Dh1k4 mengatakan...
     

    Masih banyak Sundari2 yg lain, tapi ndak banyak yang tau. sebagai orang yang punya budaya sendiri, kita juga patut meniru apa yang dilakukan bu Sundari. Dunia seni memang ndak menjanjikan duit, tapi menjanjikan kepuasan bagi pelaku seni dan penikmat seni atau boleh dibilang saling berbagi. salah ra ?

Posting Komentar