Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

‘tepat di akhir paragraf (dia bertanya)’

Tahukah kau, kunang-kunang kuning itu tak pernah lagi bisa berkedip karena tadi malam tanpa sengaja telah menelan sebutir khuldi yang kemarin dulu kau suguhkan padaku di ranjang berwarna ungu itu?

(‘Lalu siapa lelaki yang berhak menusukkan sebilah keris berkarat tepat di liang kehormatanku?’, tanyamu.)

Tidak. Tidak mereka. Bagaimana mungkin, jika kau sendiri memahami, bahwa mereka terlalu merah dan kiri untuk mampu mengerti apa yang disebut sebagai harta dan tahta? ‘Bukankah merah hanya mengenal darah?’, begitu kan yang tertulis di ensiklopedi tai terbitan kekuasaan dinasti yang lalu?

(‘Lalu siapa lelaki yang berhak menusukkan sebilah keris berkarat tepat di liang kehormatanku?’, rintihmu.)

Jangankan bintang, bahkan alang-alangpun tak pernah benar-benar sanggup bergoyang jika angin lebih memilih bunuh diri dengan belati, daripada berusaha menganyam nafas untuk menyambung kehidupan.

(‘Lalu siapa lelaki yang berhak menusukkan sebilah keris berkarat tepat di liang kehormatanku?’, pekikmu.)

Anjing? Mana mungkin? Binatang yang tak sanggup menikmati indah dan kenyalnya payudara seorang istri tak akan bisa melakukan apa-apa, selain hanya akan mendesis pelan ketika serombongan pasukan berseragam hitam menusukkan tiang pancang di perut bumi, dengan bendera berwarna putih tua bergambar swastika berkibar-kibar di atasnya.

(‘Lalu siapa lelaki yang berhak menusukkan sebilah keris berkarat tepat di liang kehormatanku?’, ratapmu.)

Ingatkah kau ketika kita berjalan-jalan di mall beberapa waktu yang lampau. Matamu tersentak dan berkedip-kedip genit ketika mendapati seorang lelaki kekar berotot mekar yang bersanding dengan sang pacar di kursi gerai Mc Donald? Ya, aku sendiri maklum. Almarhum bapakku-pun mungkin juga akan tertawa geli ketika melihat t-shirt warna merah muda bergambar Che Guevara yang bermotif bunga-bunga tercetak di dada, sementara pemakainya tak pernah mengenal nama Tan Malaka.

(‘Lalu siapa lelaki yang berhak menusukkan sebilah keris berkarat tepat di liang kehormatanku?’, bisikmu.)

Apakah memang benar-benar bukan aku?

1 komentar:

  1. Yogie mengatakan...
     

    Dari sekian banyak tulisan itu..
    Yang nyantol kok cuma "kenyalnya payudara" aja ya?


    *kaboorr*

Posting Komentar