Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Secangkir Puisi Sebait Kopi ; dan juga tentang puisi-puisi yang lainnya

Beberapa waktu yang lalu saya menyempatkan diri menghadiri sebuah ‘ritual’ tahunan kelompok teater saya (tempat dimana saya pernah ‘hidup’ dan belajar tentang kehidupan), setelah tahun sebelumnya sempat absen karena keterbatasan jarak dan waktu. Saya sendiri tak begitu memahami alasan saya, kenapa saya cukup rela menempuh perjalanan beratus-ratus kilometer yang memakan waktu lebih dari 3 jam dan menghabiskan uang yang ‘sebenarnya’ mungkin bisa saya gunakan untuk biaya hidup saya selama satu minggu berikutnya, atau mungkin bisa saya gunakan untuk membeli salah satu buku yang selama ini saya idam-idamkan, hanya untuk sekedar datang dan turut serta di ‘malam seribu puisi’ itu. Mungkin bagi orang lain, Secangkir Puisi Sebait Kopi / SPSK (begitu kami menamakan ritual kami) ini tak jauh beda dengan malam-malam yang lain dalam tiap tahunnya. Tapi (sepertinya) bagi saya tidak. Entah mengapa saya selalu saja menemukan sebuah sensasi yang berbeda tiap kali saya duduk bersimpuh bersama kawan-kawan saya, sambil ditemani secangkir kopi, sebatang rokok, kerlip gemintang, tawa-tawa bercahaya, kacang rebus atau makanan ringan yang lainnya, sambil menikmati panggung yang tak pernah berhenti mempertontonkan tingkah polah kawan-kawan saya yang membacakan puisi pilihannya dengan berbagai macam gaya, sampai waktu yang berlari menghentikannya di suatu dini hari.

Di acara itu, ada beberapa kawan saya yang membaca bait-bait puisi ‘serius’ dengan cara yang ‘juga’ tak kalah serius, dengan diiringi alunan saluang dan garputala yang berdenting dengan tempo yang tertata, lalu ada juga yang menampilkan puisi ‘egois’ dimana tak satupun penikmatnya benar-benar bisa memahami maksudnya (meski mungkin bisa menangkap ‘keindahan’ yang tersembunyi di dalamnya), tapi ada juga yang yang membawakan puisi dengan cara ‘main-main’, bahkan ‘pura-pura sok serius’ hingga memancing tawa orang-orang yang melihatnya. (Dan untuk yang saya sebut terakhir ini, saya sendiri tidak berani berspekulasi tentang motivasinya. Mungkin memang jiwa sang pembaca yang ‘slengekan’ dari sananya, atau justru karena berupaya membangun antitesis sebagai sebuah perlawanan dari anggapan bahwa puisi; dan mungkin juga teater; adalah sesuatu yang suci, serius, dan ‘berat’. Sekali lagi saya tidak cukup berani berspekulasi.) Namun apapun alasan kawan-kawan saya menggunakan metode-metode pilihannya itu, yang pasti malam itu (bagi saya) bagaikan setetes embun yang membasahi kerongkongan saya yang selama 364 malam sebelumnya menghadapi kehidupan yang (sedikit terasa) kerontang. Seperti oase di pedalaman padang pasir, mungkin begitu jika menggunakan bahasa para pujangga.

Jika mengingat tentang malam itu (dan juga setiap kali mendengar kata ‘puisi’), saya selalu teringat dengan sebuah wacana yang sempat diulas oleh salah seorang kawan dalam blog-nya. Dari salah satu tulisannya itu, saya baru ‘mengetahui dan menyadari’ bahwa ternyata ‘ada’ beberapa ‘mahzab’ yang saling bertentangan di kalangan sastrawan (dan juga penikmat sastra kita) dalam melihat satu realitas, yaitu puisi. Dalam ulasan kawan saya itu, disebutkan bahwa puisi ‘terlahir dan bermula’ dari sebuah ‘teks’. Dan oleh karena itu, dia tidak begitu bisa mendapatkan ‘oase’ ketika menikmati puisi yang disertai dengan berbagai macam ekspresi ‘aneh-aneh’ sang pembacanya dan faktor-faktor artistik yang lain, seperti musik, tata panggung dan tata lampu yang ‘sengaja’ disiapkan dalam rangka mendukung pementasan puisi tersebut. Dalam hal ini kawan saya tadi ‘mengkritisi’ pementasan ‘Puisi Panggung’ Sosiawan Leak, seorang seniman asal Solo, yang diiringi Grup Musik Perkusi Temperente di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Solo, pada 15 November tahun lalu, yang menurut teman saya tadi ‘sama saja dan tidak jauh beda’ dengan pementasan-pementasan puisi yang lain, yaitu pementasan puisi yang penuh dengan teriakan, desahan, dan nyanyian. Dia mengatakan, malam itu puisi tidak tampil sebagai sesuatu yang natural, karena disitu puisi tidak hadir sebagaimana ‘awal kelahirannya’ (yaitu sebagai sebuah ‘teks’), dan (sekali lagi) menurut dia, itu adalah sesuatu yang ‘menyedihkan’.

Tentu saja saya secara pribadi tidak akan ‘menyalahkan’ pendapat semacam ini. Bukankah negeri ini menjunjung tinggi azas demokrasi, dan karena itu ‘apapun pendapat siapapun’ harus selalu kita hormati? Hanya yang jadi poertanyaan disini, ‘benarkah puisi memang (sekedar) terlahir dari sebuah teks dan karena itu harus selalu tampil sebagai teks?’ Apakah memang tidak ada ‘sesuatu yang lain’ yang lahir terlebih dahulu sebelum kemunculan ‘teks-teks’ tersebut?

Di koran Kompas edisi Minggu, 17 Februari 2008 saya menemukan sebuah artikel menarik yang ditulis oleh Ilham Khoiri tentang pementasan musikalisasi puisi atas puisi-puisi karya Sapardi Joko Damono yang diadakan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Beliau menceritakan acara yang digelar pada hari Kamis, 14 Februari tersebut ‘dimeriahkan’ oleh beberapa seniman dan kelompok seni yang menerjemahkan puisi-puisi Sapardi dalam bentuk yang beragam. Ada yang sekedar membacanya seperti biasa, ada yang mengolahnya menjadi sebuah lagu berikut komposisi musiknya, ada yang mengejawantahkannya menjadi sebuah lakon singkat, bahkan Teater Tetas menafsirkan puisi Sapardi ke dalam komposisi gerak tubuh. Dan apapun yang dilakukan disini, pada hakekatnya adalah sebuah upaya untuk (seperti judul artikel tersebut) mengembalikan puisi pada bunyi. Karena, merujuk pada tulisan Ilham Khoiri, sebenarnya yang disebut sebagai puisi adalah ‘bunyi yang direkam dalam teks’. Dan tepat disinilah, akar dari perbedaan pendapat tentang semua ini bermula. Dimana salah satu pihak mengatakan bahwa ‘hakekat puisi adalah teks’ (dan karena itu harus ‘selalu’ diperlakukan ‘sebagaimana harusnya’ sebuah teks), dan di lain pihak beranggapan bahwa ‘puisi adalah bunyi yang direkam dalam teks’ (dan oleh karena itu tidak ada salahnya; bahkan mungkin sebagian berpendapat bahwa ini adalah sebuah ‘keharusan’; untuk mengembalikan ‘teks-teks’ tersebut ke dalam hakekatnya, yaitu ‘bunyi’).

Teori yang dipercaya pihak ‘kedua’ diatas mengingatkan saya atas keberadaan naskah-naskah drama semacam Mangir (Pramoedya Ananta Toer), Anak-anak Kegelapan (Ratna Sarumpaet), Maaf Maaf Maaf (Nano Riantiarno) dan naskah-naskah lain (yang dicetak menjadi sebuah buku), yang meskipun saat ini ‘dibukukan’ tapi sebenarnya tidak dirancang sekedar sebagai sebuah ‘buku’, melainkan sebagai sebuah ‘naskah’ pementasan teater. Dan begitu juga halnya, dengan ‘puisi-puisi yang dipercaya bermula dari bunyi’ yang saya sebutkan tadi. Disitu memang puisi bukan lagi menjadi sekedar sebuah puisi, tapi sudah menjelma menjadi sebuah ‘naskah dari sebuah pertunjukan’. Dan dalam sebuah seni pertunjukan, adalah sesuatu yang sudah lumrah (bahkan mungkin wajib) jika disitu ‘ada’ berbagai macam ekspresi sang aktor dalam menerjemahkan sebuah ‘naskah’, tata musik, tata panggung, koreografi, dan elemen-elemen pendukung pementasan yang lain, yang semuanya bertujuan agar pementasan itu menjadi sesuatu yang lebih ‘menarik’.

Berbicara mengenai puisi; sekali lagi; memaksa memori saya kembali ke suatu masa beberapa tahun yang lampau. Dimana ada sekelompok anak muda yang menamakan dirinya KOSDEK (Komunitas Solo Dedikasi) yang melakukan sebuah terobosan yang (menurut saya) agak sedikit ‘janggal’. Selama beberapa hari, komunitas ini memajang karya-karya puisi mereka dalam bingkai pigura di Balai Soedjatmoko Solo. Dan terus terang, sampai sekarang saya masih belum bisa menemukan ‘kemungkinan’ dasar pemikiran mereka melakukan ‘pameran puisi’ ini. Karena bagaimanapun juga, menurut saya puisi tidaklah sama dengan lukisan atau patung yang bisa dinikmati keindahannya secara visual. Entah itu puisi yang dipercayai sebagai ‘terlahir dari dan sebagai sebuah teks’ atau ‘bermula dari bunyi yang direkam dalam teks’, keduanya sama-sama tidak bisa mengelakkan diri bahwa ‘bentuk visual’ puisi hanyalah ‘sekedar’ deretan aksara dan kata, yang jika ‘hanya’ dinikmati secara sepintas (di ruang-ruang galeri pameran) tentu saja tak pernah bisa memberikan keindahan visual dan makna apa-apa. Dan tentu saja lain halnya dengan lukisan atau mungkin ‘teks-teks’ lain yang dialih-rupakan dalam bentuk kaligrafi.

Namun bagaimanapun juga kita semua harus menyadari bahwa teori apapun yang kita yakini dan percayai tentang keberadaan ‘benda’ yang disebut sebagai ‘puisi’ ini, alangkah lebih baiknya jika semua ini tidak menimbulkan sebuah perpecahan di antara kita sebagai ‘sama-sama’ penikmat sastra. Karena saya yakin, masing-masing pihak pasti mempunyai dasar pemikiran sendiri-sendiri yang melandasi argumennya, yang kadangkala tidak bisa dipahami dan diterima oleh pihak lainnya. Dan dalam dunia seni, perdebatan masalah ‘benar atau salah’ bukanlah sesuatu yang lumrah. Karena seni berbicara mengenai ‘keindahan’, yang tentu saja bersifat subyektif, sublim, dan kadangkala juga absurd. Semua itu adalah hak kita untuk menentukan sikap, apakah kita termasuk dari pengikut Rendra yang terbiasa menjadikan puisi-puisinya sebagai (meminjam judul pementasan Sosiawan Leak) puisi panggung, atau kita memilih mengimani gaya Goenawan Muhamad, yang konon (menurut kawan saya tadi) pernah menolak ketika diminta membacakan puisinya di Jerman, karena menurut beliau puisi itu ‘bisa dibaca sendiri dan karena itu tak perlu dibacakan’.

Dan; sekali lagi; apapun pilihan kita, alangkah lebih indahnya jika hal itu ‘hanya’ sekedar diperdebatkan dalam sebuah wacana tanpa berusaha menganggap diri sebagai satu-satunya pihak yang paling benar dan menganggap pihak lain sebagai pihak yang sesat, apalagi dengan berusaha mendominasi kebenaran dengan cara-cara kekerasan. Karena saya masih mempercayai, bahwa seniman (dan juga semua penikmat keindahan) tidaklah sama dengan kelompok-kelompok semacam Front Pembela Islam yang tidak bisa menerima perbedaan sebagai suatu keniscayaan.

Salam…

(terima kasih untuk Teater Sopo dan saudara Haris Firdaus)

2 komentar:

  1. Rey mengatakan...
     

    ternyata kamu cinta banget sama puisi yaa? ngulasnya sampe panjang banget begini :)

  2. haris mengatakan...
     

    halo mas lintang. wah, ternyata ulasan sy masuk jg ya. he2. mas, barangkali sy termasuk ke dlm penikmat puisi sebagai teks. tapi sy jg menghargai pilihan utk mementaskan puisi kok. cm, biasanya, puisi panggung, hampir selalu menjadi sesuatu yg tergentung pada aktor, penyair, beserta sekalian perangkatnya. jadi, kadang tak ada kemandirian. sy pernah dikritik kawan karn membandingkan leak dg jokpin, misalnya. dua penyair itu memang beda mazhab. jadi barangkali gak tepat dibandingkan. apapun itu, walo berbeda2, kita toh tetap satu juga. syng sy gak hadir di acara teater sopo itu. kalo tahu sampeyan bakal hadir, mngkn sy akan memaksakan hadir di acara itu. he2

Posting Komentar