Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

…dan Manusia memilih…

‘Banyak jalan menuju roma, namun hanya satu jalur ke surga’, begitu bunyi propaganda yang didengungkan institusi-institusi agama. Saya disini tidak akan membahas tentang ‘satu jalur’ yang ‘mungkin’ diyakini oleh masing-masing dari kita sebagai manusia. Saya hanya akan sedikit bicara tentang ‘banyaknya jalur menuju Roma’.

Kita pasti sudah terlalu sering mendengar falsafah lama yang mengatakan bahwa ‘hidup adalah sebuah pilihan’. Namun masalah ‘sering-tidaknya’ telinga kita mendengar kata-kata itu tidaklah menjamin masing-masing dari kita memahami benar apa makna yang terkandung di dalamnya. (Bukankah tidak semua yang pernah kita dengar ‘pasti’ juga kita mengerti dan pahami?)

Pada hakekatnya manusia terlahir dari kungkungan rahim sebagai makhluk yang merdeka. Dan oleh karena itu, manusia ‘sebenarnya’ mempunyai kebebasan penuh untuk menentukan pilihan dalam menjalani kehidupan. Dan berbicara mengenai ‘pilihan’ dalam kehidupan, kita tidak mungkin ‘hanya’ menemukan suatu obyek yang tunggal. Lalu apa yang akan kita lakukan ketika kita dihadapkan dalam kondisi ‘harus memilih satu diantara sekian banyak jalan?’

Di dalam ajaran Islam ada yang disebut sebagai sholat istiqarah. Yaitu adalah sebuah ritual yang bisa dilakukan oleh umat manusia ketika dihadapkan pada ‘bercabangnya’ jalan kehidupan. Tentu saja saya disini tidak akan membahas tentang ‘manjur / tidaknya’ istiqarah sebagai sebuah jalan mencari jawaban. Saya hanya sekedar memberi sedikit contoh, bahwa ketika manusia berdiri di suatu kondisi yang mengharuskannya ‘membunuh salah satu obyek sekaligus menjamin kelangsungan hidup obyek yang lain’, kadangkala manusia membutuhkan kehadiran ‘zat’ lain di luar dirinya untuk bisa dijadikan sebagai sebuah pegangan yang menjamin kemantaban hati. Dan tentu saja ‘ritual’ semacam ini tidak masuk dalam hitungan manusia-manusia yang merasa bahwa dirinya adalah seorang ‘pejuang yang sendirian’, dalam artian adalah manusia yang tidak mempercayai (atau membutuhkan?) kehadiran ‘zat’ lain.

Kita semua pasti menyetujui, bahwa kenyataan kadangkala berbeda sama sekali dengan apa yang ada di dalam bayangan. Saya pernah melihat di layar tivi, seorang anggota Satpol PP yang mengungkapkan bahwa sebenarnya di dalam hatinya dia tidak tega ketika diharuskan ‘bertugas’ melakukan penggusuran lapak para pedagang kaki lima. Tapi sebagai ‘seorang anggota Satpol PP yang baik’, dia tidak bisa melakukan apa-apa ketika negara sudah memberi sebuah titah dan perintah. Dalam kasus semacam ini, bisa diartikan ‘negara’ telah mempersempit (dan sekaligus membunuh) kemungkinan anggota Satpol PP tersebut untuk menuruti kata hatinya sendiri. Lalu sampai disini, apakah anggota Satpol PP tersebut bisa dikatakan ‘salah’? Tentu saja tidak sesederhana itu. Karena bagaimanapun juga, ketika seseorang memutuskan menjadi seorang Satpol PP (dan juga ‘alat-alat’ negara atau institusi yang lain), berarti dia sudah harus siap menghilangkan sedikit ‘kodrat’nya sebagai manusia, yaitu ‘makhluk yang berhak untuk merdeka dalam menentukan pilihan’. Ketika bertugas, mereka sudah tidak lagi ‘berperan’ sebagai ‘manusia’, melainkan ‘sekedar’ sebagai sebuah ‘alat’.

Lalu bagaimana dengan kita yang masih mempunyai sedikit kemerdekaan untuk menentukan ‘jalan’ yang (menurut kita adalah) yang terbaik bagi kita, sementara; meskipun kita bukanlah termasuk ‘alat-alat’ negara’; kondisi dan lingkungan di sekitar kita juga kadangkala semakin turut mereduksi kemerdekaan kita yang kian lama kian tak mutlak lagi?

Sekali lagi, pada hakekatnya hidup adalah masalah pilihan. Jalan apapun yang nantinya akan kita tempuh, alangkah lebih baiknya jika kita melangkah dengan langkah kaki yang mantab tanpa keraguan. Namun justru ‘kemantaban’ semacam inilah yang kadangkala masih menjadi masalah bagi mereka yang harus mulai melangkah. Bagaimanapun juga kehidupan bukanlah ajang coba-coba, sama sekali tidak seperti permainan Winning Eleven yang tinggal memencet tombol restart ketika tim kita terkalahkan oleh kedigdayaan musuh. Dan oleh karena itu, pemikiran yang masak; dan mungkin kadangkala harus dibumbui dengan 'sedikit' kenekatan; amatlah kita perlukan ketika kita berdiri di suatu kondisi ‘harus membunuh salah satu sekaligus memberi ruang kehidupan bagi yang lain’.

Selamat menentukan pilihan…

2 komentar:

  1. Yodie Hardiyan mengatakan...
     

    mantab!

    dan berikan sebuah solusi,

    saat menghadapi pilihan...

  2. Rey mengatakan...
     

    yup setuju, hidup penuh dengan pilihan, seperti skrg, aku memilih utk meninggalkan pesan di komenmu :D

Posting Komentar