Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Tentang kata-kata dan sekitarnya

Betapa sesuatu yang sederhana ternyata tak selamanya tetap menjadi sederhana ketika kemasan yang membungkusnya beralih rupa menjadi sedemikian rupa. Pemikiran ini saya dapatkan setelah membaca sebuah artikel Benny Yohanes (Televisi dan Spiral Kebisuan) yang dimuat harian Kompas edisi Minggu, 17 Februari 2008.

....‘Gejala sado-masokisme politik ditunjukkan oleh sifat-sifat ekshibisionis dari massa partisan: Di satu sisi, massa partisan dihipnose oleh symbol-simbol religio-ideologis yang terpaksa harus dipakai sebagai label identitas kolektifnya sebagai massa, dan sebagai satu-satunya sarana defence-mechanism yang tersedia.’…

Coba anda hitung, ada berapa istilah ‘asing’ yang tidak anda mengerti dari kutipan kalimat diatas. Beruntunglah jika anda hanya mendapatkan sedikit angka ketika benar-benar melakukannya, karena ‘mungkin’ hal itu mengindikasikan bahwa anda adalah termasuk diantara orang-orang cerdas yang terbiasa mengemukakan pendapat dengan cara-cara dan bahasa-bahasa yang rumit.

Terus terang; dari sebaris kalimat yang saya kutip diatas; ada banyak sekali istilah yang ‘bagi saya’ terasa amat asing. Dan sejujurnya, saya benar-benar tidak bisa memahami apa yang ingin disampaikan oleh kalimat itu, meski secara garis besar saya ‘tahu’ apa yang dimaksud oleh Benny Yohanes dalam artikelnya, yaitu tentang ‘belang belontang’ dunia pertelevisian kita yang dikuasai oleh korporasi industri kapital (yang dalam artikel ini beliau istilahkan sebagai ‘lembaga pembujuk’. Sebuah istilah yang benar-benar cerdas dan ‘tepat’)

Sebuah tema yang sederhana sebenarnya. Tapi diungkapkan dengan cara yang tidak sederhana (setidaknya ‘menurut saya’). Entahlah, dalam hal ini sebenarnya siapakah (jika memang ada) yang salah. Apakah saya yang terlalu ‘tidak pintar’; dan karena itu tidak memahami kalimat-kalimat yang tertulis di artikel itu; ataukah saudara Benny yang memutuskan menggunakan kalimat-kalimat yang rumit dalam tulisannya, atau justru ‘tulisan’ itu sendiri, yang sebenarnya bisa dianggap ‘salah’?

Tentu saja ini bukan satu-satunya ‘bahasa rumit’ yang pernah saya temui. Secara pribadi saya juga tidak jarang menemukan pengungkapan ekspresi yang menggunakan istilah-istilah asing; dan dengan cara pemaparan masalah yang tak kalah asing; semacam ini di beberapa media. Tidak hanya sekedar di koran, tapi juga di majalah, layar televisi, radio, bahkan di blog beberapa rekan saya.

Ketika ‘sekali lagi’ bertemu dengan fenomena semacam ini, saya selalu mencoba untuk sekedar mencari tahu, ‘sebenarnya untuk apa seseorang itu menulis / bicara’? Apakah dia memang benar-benar ingin menyampaikan ‘sesuatu’ untuk para komunikan, atau ‘sekedar’ menganggap media itu hanyalah sebuah ‘hasil jadi’, dan karena itu tak begitu mempedulikan apakah nantinya pesan yang disampaikan akan sampai kepada komunikan atau tidak, sehingga para komunikator itu tak segan-segan menggunakan istilah-istilah asing yang ‘mungkin’ tidak akan pernah dipahami oleh para komunikan?

Karena saya memang bukan seorang ahli komunikasi, tentu saja dalam hal ini saya tidak cukup berani; dan memang tidak bisa; memastikan mana jawaban yang benar dari pertanyaan saya itu,. Tapi dari sudut pandang saya yang bodoh, saya bisa sedikit menyimpulkan, bahwa orang-orang yang bicara / membuat tulisan dengan bahasa-bahasa yang sulit dimengerti itu terbagi menjadi dua macam.

Yang pertama adalah mereka yang memang benar-benar ‘pintar’ dan menguasai tema yang sedang dibicarakan, dan karena tidak bisa menemukan cara yang lebih ‘mudah dan tepat’ untuk mewakili apa yang mereka maksudkan, maka mereka ‘terpaksa’ menggunakan kosakata yang bagi sebagian awam dianggap ‘asing’. Dan tipe kedua adalah mereka yang bicara ‘ndakik-ndakik’ untuk sekedar ‘menunjukkan’ bahwa mereka itu adalah termasuk diantara orang-orang yang pintar dan ‘berpendidikan’.

Saya mohon maaf, jika teori ngawur saya ini menyinggung perasaan sebagian dari anda. Dan mohon dimaklumi, karena; sekali lagi; saya ini bukanlah seorang ahli komunikasi (meski dulu saya pernah mencoba ‘sedikit’ mempelajarinya). Dan seingat saya, sesuai dengan ‘sedikit’ ilmu komunikasi yang dulu sempat saya pelajari itu, satu hal yang digarisbawahi dan dianggap sebagai sesuatu yang tidak bisa dianggap enteng dalam sebuah proses komunikasi adalah ‘sampai / tidaknya’ pesan yang ingin disampaikan oleh komunikator kepada komunikan.

Memang bukan sesuatu yang mudah ketika kita mencoba berbicara tentang sebuah proses komunikasi, dimana para komunikator dan para komunikan adalah sama-sama individu yang mempunyai spesifikasi ‘kualitas’ yang masing-masing berbeda antara satu dengan lainnya. Dan karena itu ‘harus’ dibedakan pula cara untuk berkomunikasi dengan masing-masing dari mereka.

Tapi satu hal yang jelas, bagi siapapun anda yang bicara, menulis, atau mengungkapkan ekspresi apapun, tak ada salahnya untuk mencoba sekali-kali bertanya pada diri sendiri, mana yang menurut anda lebih penting : ‘media penyampaian’ atau ‘sampai tidaknya sebuah pesan’? Dan; sekali lagi; tentu saja dalam hal ini saya tidak bisa menahbiskan sesuatu menjadi lebih benar dibandingkan dengan yang lain. Karena jawaban semacam ini bersifat teramat sangat subyektif, tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya (selain juga didasari banyak latar belakang yang mendasari pemikiran kita).

Bukankah tak jarang kita bisa menikmati ‘keindahan’ sebuah lukisan abstrak ekspresionis, meski sebenarnya kita ‘tak benar-benar tahu’ obyek apa yang tercetak di selembar kanvas di sudut galeri itu? Begitu juga dengan ‘kemungkinan’ keindahan yang bisa kita rasakan ketika kita menikmati sebuah koreografi yang ditingkahi tata lampu dan tata artistik lainnya dalam sebuah pementasan teater absurd yang; sekali lagi; tak kita pahami apa maksudnya.

Dan seperti halnya Indonesia yang; mencoba; menjunjung tinggi azas demokrasi, pilihan cara penyampaian pesan ini saya serahkan kepada masing-masing dari anda semua. Apakah dengan cara yang sulit dan rumit (dengan konsekuensi esensi pesan ‘mungkin’ akan sedikit ter-reduksi), atau dengan cara gamblang yang menempatkan faktor ‘sampai-nya pesan ke benak komunikan’ di level tertinggi dalam cara penyampaian, semua itu hanya masalah pilihan.

Sekali lagi saya tegaskan, tulisan ini sama sekali tidak mencoba menyinggung siapapun dan pihak manapun juga, selain hanya sekedar sebuah hasil ‘onani’ yang didasari hasrat untuk sedikit bersuara dan bicara atas sebuah fenomena (selain ‘mungkin’ juga didasari kebodohan saya dan rasa ‘iri’ saya dengan Benny Yohanes dan penulis-penulis lain yang ‘bisa’ menggunakan kalimat-kalimat rumit untuk menyuarakan pendapatnya, yang dari sana terlihat besarnya kapasitas dan kualitas pemikiran mereka).

Salam…

1 komentar:

  1. Dony mengatakan...
     

    Mas Lintang Lanang, anda pasti pernah suatu kutipan yang bunyinya, “you are what you read”. Maka menurut pandangan saya, si penulis mungkin sudah mikir bahwa dia menulis untuk Kompas, bukan untuk Pos Kota. Jadi pilihan bahasanya pun lain, karena pembaca antara kedua harian itu jelas lain.

    Seandainya orang yang biasa baca Pos Kota lalu dia disuruh ganti baca Kompas, kemungkinan besar dia bakal ngelu dan cenut-cenut bacanya.

    Dari mata kuliah yang dulu pernah sama-sama kita tempuh, saya mendapat satu pencerahan, bahwa pesan yang sama bisa ditanggapi secara berbeda oleh khalayak. Itu karena dipengaruhi oleh frame of reference (bingkai referensi) dan field of experience (ladang pengalaman). Maaf berlipat kalau saya salah dan sok tahu, asal anda tahu dalam mata kuliah itu saya musti ngulang karena sempat dapat nilai D.

    Sampai saat ini saya juga masih bingung dengan frase “media is the message”, sehingga saya belum mampu menjawab pertanyaan, mana yang lebih penting : ‘media penyampaian’ atau ‘sampai tidaknya sebuah pesan’?

    Seandainya artikel tersebut ditulis oleh Cinta Laura, mungkin kita bakal lebih cenut-cenut bacanya, ;D

    NB: Saya juga sering baca Kompas, bukan berarti saya orang pinter atau keminter, tapi karena Kompas (Update) sangat murah harganya, cukup seribu rupiah saja. Oya, koran Suara Merdeka yang beredar di wilayah kita itu sebenarnya cukup sederhana lho bahasanya, dan nJawani.

Posting Komentar