Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Kita, cinta dan Indonesia

‘Apa yang kamu lakukan jika kamu diberi kesempatan menjadi presiden di negeri ini selama setahun?’. Pertanyaan iseng ini ditujukan salah seorang teman kepada saya ketika kami wedangan sambil ngobrol-ngobrol di sebuah hik yang terletak di pinggiran kota Solo pada suatu Kamis malam beberapa waktu yang lalu. Sebuah pertanyaan sederhana sebetulnya. Dan tidak akan membawa perubahan apa-apa. Karena kami juga sama-sama paham, bahwa hal yang ditanyakan itu ‘mungkin’ memang hanyalah salah satu ‘kemustahilan’ yang ada di bumi ini.

Ketika itu saya menjawab, bahwa hal yang pertama saya lakukan adalah ‘menghukum mati para koruptor tanpa pandang bulu siapapun orangnya’. Apakah dia adalah seorang pejabat penting ataukah seorang yang berjasa besar pada negeri ini, semuanya bagi saya sama saja. Karena menurut saya, ‘mengambil apa yang seharusnya milik rakyat dan mengkhianati kepercayaan yang diberikan oleh rakyat’, adalah sebuah kejahatan besar yang terlalu sulit untuk dimaafkan. Mungkin pendapat saya memang bisa dirasa agak berlebihan. Karena bagaimanapun, sebuah kejahatan (sebenarnya) tidak bisa diselesaikan dan dilawan dengan kejahatan. Meskipun hal itu bertujuan untuk memperbaiki keadaan.

Terus terang pertanyaan sederhana ini menjadikan saya sedikit berpikir. ‘Apakah benar bahwa para pemimpin kita selama ini tak ada niatan untuk memperbaiki negeri ini?’ Entahlah. Tapi menurut saya kok (sepertinya) tidak. Menurut saya, sebenarnya pemimpin kita ‘pasti’ sudah mati-matian menjadikan negeri ini menjadi lebih baik dari sekarang. Saya sama sekali tidak bermaksud membela pemerintah yang sedang berkuasa saat ini. Tapi terus terang saya tidak percaya kalau para pemimpin kita mempunyai niat untuk semakin memperburuk keadaan bangsa kita. Hanya mungkin yang jadi permasalahan adalah cara mereka yang kadangkala sulit kita terima. Karena bagaimanapun ‘kita’ adalah jutaan manusia yang masing-masing punya logika dan cara berpikir sendiri, yang tentunya tidak semuanya bisa diakomodasi oleh para pemimpin kita. Ditambah lagi dengan kemungkinan sifat ‘pengecut’ dan ‘manusiawi’ dari beberapa elit politik yang saat ini berkuasa, hingga tidak cukup berani melakukan ‘hukuman mati untuk para koruptor’ seperti pikiran ‘jahat’ yang ada di otak liar saya. (Hal ini mohon tidak dianalogikan bahwa saya adalah seorang ‘pemberani’ yang sekaligus ‘tidak manusiawi’. Saya hanya sekedar sedikit ‘geram’.)

Terlepas dari sisi ‘kepengecutan’ dan ‘kemanusiaan’ yang mungkin memang ada, sekali lagi saya meyakini bahwa sebenarnya para pemimpin kita (seperti juga halnya dengan pikiran sebagian besar dari rakyat Indonesia) pasti menginginkan yang terbaik bagi Negara kita. (Dan semoga saja pemikiran saya ini adalah benar adanya, tidak sekedar menjadi salah satu bukti kecintaan buta saya terhadap Indonesia.)

Tanpa kita sadari, ‘kita’ sebagai rakyat terlalu sering menghujat ketika menemukan banyak hal yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Karena salah satu kelemahan manusia adalah, ‘kita terbiasa melihat sesuatu permasalahan dari satu sudut pandang saja’. Padahal untuk melihat sesuatu lebih jelas lagi, kita harus rela sesekali mencoba melihat dengan kacamata yang berbeda. Sebagai contoh, seperti pertanyaan teman saya tadi, yang memaksa saya mengenakan ‘kacamata’ seorang presiden dalam melihat realita negeri ini. Sebuah pertanyaan sederhana yang ‘ternyata’ agak sulit untuk menjawabnya. Bayangkan bagaimana ‘ribetnya’ mengurusi negeri yang sedemikian luas, dengan berjuta-juta manusia yang masing-masing memiliki pemikiran sendiri-sendiri yang semuanya minta hal-hal yang baik, dan semuanya itu ‘harus’ dipenuhi.

Banyak orang yang berpikiran bahwa menjadi pemimpin adalah sebuah surga dunia, karena kita merasa bahwa jika kita menjadi pemimpin ‘pasti’ akan bisa mendapatkan semua yang diinginkan. Tapi menurut saya, ‘sebenarnya’ tidak. Karena menjadi pemimpin; apalagi di sebuah Negara demokrasi; adalah seperti menggali lubang kubur sendiri. Bertanggung jawab terhadap amanat rakyat adalah sebuah pengabdian yang sarat akan beban. Tapi hal ini kadangkala hanya dilihat sebelah mata oleh kita yang menginginkan segala sesuatunya berjalan seperti apa yang kita pikirkan. Sebagai contohnya adalah keinginan saya untuk menerapkan hukuman mati untuk para koruptor (yang jika benar-benar diterapkan mungkin akan menyulut api perseteruan dengan pihak-pihak yang membela hak asasi manusia).

Karena itu, satu hal yang perlu digarisbawahi jika salah satu dari kita menjadi pemimpin bangsa ini di suatu waktu nanti adalah, ‘bahwa memimpin bukanlah berarti menguasai, melainkan adalah mengabdi’. Jika hal itu benar-benar ‘dipahami’ (oleh siapapun yang nanti diberi kesempatan menjadi nahkoda kapal kita), saya yakin bangsa ini pasti akan bangkit dari keterpurukan yang selama ini membuat kita nyaris (atau jangan-jangan sudah?) tenggelam.

Dan bagi saya pribadi, beruntung pertanyaan teman saya tadi hanyalah sekedar pertanyaan sambil lalu yang tidak menyimpan tendensi apapun. Hingga pemikiran saya tentang ‘hukuman mati’ tadi, beserta wacana pemberian garis batas yang tegas antara ‘agama’ dan ‘negara’, dan juga pemikiran-pemikiran saya lainnya tidak harus benar-benar menjadi tanggung jawab saya untuk merealisasikannya (yang ‘andaikan’ hal itu benar-benar diterapkan, pasti ‘juga’ akan melahirkan banyak pertentangan).

Mungkin saat ini tak ada salahnya jika kita merenungi lagi sebuah falsafah lama yang sudah seringkali mampir di telinga kita, bahwa ‘jangan pernah berpikir apa yang diberikan Negara untukmu, tapi pikirkan apa yang bisa kamu berikan untuk Negara.’. Karena pada hakekatnya, cinta hanyalah masalah memberi. Bukan meminta. Apalagi dengan memaksa.

Jayalah terus Indonesia……

4 komentar:

  1. Dony Alfan mengatakan...
     

    Kiro2 sopo koncomu sing takon ngono kuwi? Kok kethoke cah ndolo, hehe
    Sampeyan mau niru caranya Cina ya? Mungkin bisa saja, tapi seperti tipikal orang jawa, "Tega larane, ora tego patine"
    Lha kowe meh ndaftar dadi calon presiden independen piye?

  2. Rey mengatakan...
     

    aduhhh kalo aku yg dikasih pertanyaan kyk gitu, mgkn ndak akan ada postingan macem ini, soalnya ndak pernah kepikiran jadi presiden, kalopun dipaksa disuruh berandai2, gue ogah... lha wong gak mau kok dipaksa (ngeyeldotcom) hehehe :D

  3. Tukang Nggunem mengatakan...
     

    Kalo saya jadi presiden setahun...gak banyak sih yang bisa dilakukan selama setahun, beda kalo jadi presidennya selama 32 tahun...pasti bakal banyak banget yang bisa saya lakukan...tapi kalo cuma setahun apa ya...mungkin saya bakal hidupin lagi model2 PETRUS, tapi kali sasarannya koruptor..sama seperti sampeyan, saya pikir akar permasalahan dari kehancuran negri ini adalah para koruptor itu...bayangken kalo tiap malem kita bisa bunuh 2 koruptor aja minimal, trus dideket mayatnya kita kasih print2an data apa aja yang pernah ia korupsi, pasti bakal jadi shock theraphy yang ampuh buat lainnya...keren yo kayak di film2 aja...huahahahaha...lagi ndolo ki aku, dadi yo sori nek komen gak mutu yang keluar....

  4. haris mengatakan...
     

    kalo sy yang ditanya, sy akan jawab: saya gak akan mau jadi presiden. he2...

Posting Komentar