Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

karena kita adalah manusia ;surat cinta untuk para ‘pecundang’

Kegagalan adalah sesuatu yang pasti pernah dialami oleh setiap manusia, siapapun orangnya. Hanya mungkin yang membedakan adalah sisi kualitas atau mungkin kuantitasnya. Jangankan seorang nabi, dalam cerita di kitab-kitab tua-pun diceritakan bagaimana ‘kegagalan’ tuhan membuat adam dan hawa menuruti kehendaknya. Dan apapun bentuk kegagalan itu, saya yakin pasti akan melahirkan; meskipun mungkin sedikit; kekecewaan bagi orang yang menemuinya.

Seperti yang sudah kita pahami, bahwa di dalam kehidupan selalu ada dua sisi yang saling bertentangan. Langit dan bumi, hitam dan putih, kiri dan kanan, laki-laki dan perempuan, begitu juga ada keberhasilan yang berpasangan dengan kegagalan. Dan kita sebagai manusia, kadang-kadang dipaksa untuk bisa dan mampu menerima salah satu diantaranya; sekaligus tak diberi kesempatan bertemu sesuatu yang lainnya; betapapun kita tak menginginkannya. Karena memang kadang-kadang sesuatu itu bukan sekedar bicara tentang rasa suka atau tidak, tapi sudah menjadi sebuah realita yang harus dihadapi secara mutlak. Begitu juga halnya dengan kegagalan.

Dan seberapapun besar kesiapan kita sebagai manusia menyatakan siap untuk menghadapinya, hal itu tetap tak sanggup untuk membunuh rasa kecewa ketika kita benar-benar bertemu dengannya (meskipun mungkin bisa memperkecil kualitasnya). Apalagi bagi kita yang sudah terlanjur memupuk rasa optimis; bahwa kita akan bertemu dengan keberhasilan; yang berlebihan. Semakin tinggi kita memanjat, semakin sakit juga ketika kita terjerembab.

Mungkin kita seringkali mendengar sebuah pepatah purba yang menyatakan bahwa kegagalan adalah awal dari sebuah keberhasilan. Salah satu dari petuah konyol sekaligus bull shit yang pernah diciptakan manusia. Karena bagaimanapun, ‘kegagalan’ tetaplah harus dipahami dan diartikan sebagai kegagalan, seperti halnya ‘keberhasilan’ yang memang berarti keberhasilan. Anggapan bahwa kegagalan adalah awal dari kesuksesan hanyalah apologi yang dicari-cari oleh manusia-manusia yang tidak mempunyai keberanian untuk menghadapi kenyataan, hingga memilih mencari sebuah pelarian untuk membesarkan hati sendiri.

Gagal, bagaimanapun juga memang harus diartikan sebagai gagal. Karena hanya dengan begitu kita bisa belajar untuk memahami apa yang disebut sebagai kehidupan. Bukankah untuk tahu makna kata ‘sehat’ kita harus pernah merasa sakit? Lalu bagaimana kita tahu apa itu keberhasilan ketika kita tidak pernah tahu apa itu kegagalan? Dan bukankah hanya dengan mengalaminya sendiri kita akan tahu makna tentang sesuatu?

Yang perlu digarisbawahi disini, bahwa permasalahan yang sebenarnya bukanlah ‘seberapa sering dan seberapa besar tingkat kegagalan yang kita alami’, namun ‘seberapa sanggup kita bisa berdiri lagi ketika kondisi memaksa kita terjerembab dalam ruang kegagalan yang pengap’. Seperti halnya bola karet yang butuh benturan keras di lantai untuk bisa melenting lebih tinggi, seperti itulah hakekat kegagalan yang akan mengenalkan kita dengan kedewasaan. Karena seperti ungkapan para filsuf di masa lalu, bahwa sesuatu yang tidak membunuh tidak akan pernah merubah apa-apa, selain hanya akan semakin menguatkan kita.

Untuk itu, marilah kita semua sama-sama terus berjuang, hingga kedewasaan bukanlah sekedar sesuatu yang hidup di alam awang-awang. Bukan karena apa-apa. Hanya sekedar karena kita ini adalah manusia. Sekali lagi, karena - kita - adalah - manusia.

1 komentar:

  1. Anonim mengatakan...
     

    Ada kalanya gagal membuat kita bisa menulis sesuatu ya...Itu sisi baiknya kegagalan mas...Semangat!!!

Posting Komentar