Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Bu Guru Darsi

‘Lonte’, jawabnya singkat. Bu Guru Darsi njenggirat. Gendheng bocah iki, pikirnya. Selama lima belas tahun karirnya di dunia pendidikan, baru sekali ini ada murid yang bercita-cita menjadi lonte. ‘Apa?’, Bu Guru Darsi mencoba mengulang tanya, sambil berharap bahwa yang bermasalah memang telinganya. ‘Lonte bu. Saya ingin jadi lonte.’, jawab Mira tegas sambil memain-mainkan ujung rambut kepang kudanya. We lhadalah, bukan kupingku yang buta ternyata, teriak Bu Guru Darsi dalam hati.

Sebagai seorang guru kelas satu SD, Bu Guru Darsi tentu sudah pernah menemui bermacam-macam keanehan tingkah polah anak didiknya. Mulai dari murid yang suka pipis di pojok kelas, murid yang suka mengintip isi rok teman wanitanya, sampai murid yang setiap jam sembilan merengek minta pulang karena tak ingin melewatkan acara teletubbies kesukaannya di layar kaca. Tapi seorang gadis manis yang bercita-cita jadi lonte? Sumpah mati, baru kali ini ditemuinya.

Bu Guru Darsi masih ingat benar, ketika dulu hari pertama tahun ajaran ini dimulai. Saat itu senin yang basah. Upacara hari pertama. Di tengah-tengah upacara bendera, Mira; dengan tas punggung bergambar laba-laba merah muda yang bergelayut di punggungnya; berlari-lari kecil digandeng oleh seorang wanita bergaun warna biru dan bergincu. ‘Maaf bu, anak saya terlambat..’, katanya kepada Bu Guru Darsi yang bertugas mengatur anak-anak didiknya. ‘Tak apa..’, jawab Bu Guru Darsi sambil tersenyum. Dan itulah awal Bu Guru Darsi mengenal Mira, seorang gadis mungil yang cantik, pintar dan lucu, yang selalu saja menggemaskan dan selalu bisa jika diberi pertanyaan.

‘Kenapa Mira?’, tanya Bu Guru Darsi sambil jongkok dan mengelus kepala anak didiknya dengan tatapan heran. ‘Karena saya ingin punya teman banyak bu...’, jawab Mira polos. Bu Guru Darsi semakin bingung. ‘Iya bu, saya ingin punya teman banyak. Sekarang ini di rumah tidak ada yang mau bermain dengan saya. Mereka bilang saya anak lonte. Tapi apa salahnya menjadi anak lonte. Lonte kan temannya banyak.’. Bu Guru Darsi tertegun mendengar celoteh mulut kecil itu, dan seketika memeluknya. ‘Tapi kamu tidak harus bercita-cita seperti itu Mira…’, bisik Bu Guru Darsi dalam hati. ‘Dengan menjadi lonte, nanti saya juga bisa diajari mengaji Pak Guru Warso, sahabatnya mama…’.

‘Apa?!’, Bu Guru Darsi menyela. ‘Iya bu, Pak Guru Warso itu salah satu sahabat mama. Tiap kamis malam dia main ke rumah Mira. Mereka selalu belajar mengaji di dalam kamar. Mira juga pengen bisa mengaji seperti mama…’. Diancuk!! Bu Guru Darsi mengutuk. Pak Guru Warso adalah guru agama di sekolah mereka, sekaligus adalah laki-laki yang berstatus sebagai suaminya. Petir menyambar-nyambar. Genderang perang berteriak jalang. Seketika Bu Guru Darsi berdiri lalu berlari menuju rumah untuk mengambil sebilah celurit yang tersimpan di bawah tumpukan jarit. ‘Tunggu aku Warso!!’, pekiknya dalam hati sembari mengusap gerimis yang kian mengental.

5 komentar:

  1. Ely Meyer mengatakan...
     

    anak kecil biasa bicara apa adanya ^_^

    makasih ya dah mampir di blogku

  2. cak dh1k4 mengatakan...
     

    Keren mas, banyak kisah nyata kaya gitu yang memang pekerjaan adalah hanya pekerjaan bukan cerminan moralitas pribadi

  3. Rey mengatakan...
     

    Aku suka endingnya, nice... :)

  4. Yodie Hardiyan mengatakan...
     

    kikikikiki,,,,

    ^^

    tulisannya pertamanya serius banget,,

    terus endingnya rupanya... "Kamu ketauan,,,ngaji di kamar"

    kekekekek

    nafas humornya dapet mas

    Salam

  5. paryo mengatakan...
     

    he..he..he,,,

Posting Komentar