Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Ketika malam mengelam tanpa uluk salam

‘Jangan ngayawara!!’, bapak muntab. ‘Menari hanya untuk banci!!’, gelegar suaranya menembus sesela kabut yang mulai menyusup pada suatu dinihari yang mendekati mati. Keringat yang sebelumnya meleler di kulitku; ketika tubuhku kuliukkan, kuombangambingkan dan kuhidupkan di studio tari kawanku; sudah lama menguap tanpa sedikitpun meninggalkan jejak selain selembar bau asam yang meruap bersama aroma malam.

Dua biji mata bapak tertanam dalam di mataku, ‘Dengar Lanang… sampai matipun aku tak akan pernah mengijinkan kau untuk jadi penari! Tidak akan pernah!! Anak seorang Letnan Santoso Wiratno, harus menjadi prajurit, bukan menjadi banci yang klemak-klemek menggoyangkan pinggul kesana kemari!! Paham?!’.

‘Siap!! Tidak!!’, jawabku dalam hati. Sebut aku banci karena telah memilih bungkam sebagai pertahanan. Bukan apa-apa, aku hanya tak ingin kopel bapak merusak kulit punggungku, karena pertunjukanku dua minggu mendatang mengharuskan aku bertelanjang. Aku sama sekali tak bermaksud untuk bercanda, karena memang begitulah keadaannya. Sampai usiaku lebih dari kepala dua, bapakku masih sering menggunakan kopel dan sepatu larsnya untuk mendidik anak-anaknya tentang arti sebuah kata. Tentang apa tugas seorang hamba, tepatnya.

‘Kenapa diam prajurit!!’, mulai lagi. Sementara ibu berusaha meredam bisik tangis di pojok ruang tanpa berani melakukan apa-apa. Beliau memang wanita yang mendekati jiwa seorang dewa. Bahkan ketika aku kecil, aku benar-benar percaya sepenuhnya bahwa ibuku adalah salah satu bidadari dari sebuah puri yang sunyi di atas kayangan sana, yang diculik ayahku; (atau jangan-jangan dipelet dengan mantra seorang dukun yang membuka praktek di ujung desa sana?); untuk diajak hidup bersama dalam derita. Dan suka? Aku tak yakin benar. Karena aku tak pernah menemukan alasan beliau untuk bahagia ketika diajak hidup nomaden menuruti perintah negara.

‘Kamu tuli prajurit!!’, petir menyalak lagi. Sementara hujan di mata ibu mulai menderas. Badai ini memang sudah kuramalkan akan terjadi. Seperti halnya kematian, cepat atau lambat hanyalah masalah kesempatan. Ayahku adalah seorang pensiunan seorang letnan Kostrad TNI Angkatan Darat. Seluruh hidupnya dia baktikan kepada bangsa dan negara semata. Ketika aku kecil, hampir tiap malam; ketika langit mulai menghidupkan bintik-bintik lentera yang konon bernama bintang di awang-awang; bibir bapakku yang menghitam karena kerak tembakau tak henti-hentinya menceritakan tentang kepahlawanan beliau di medan pertempuran. Hal yang sama seperti yang dilakukan kepada kedua kakakku. Timor, Papua, Aceh, Kamboja selalu saja diceritakannya dengan semangat menyala. Setelah aku besar, baru kusadari bahwa cerita-ceritanya adalah sebuah propaganda yang dipelihara sejak belia agar aku mengikuti jejaknya.

Mengikuti jejaknya? Huh.. jemput aku di alam mimpi untuk mengabulkannya. Bukan apa-apa. Bukan juga karena aku tak punya rasa cinta terhadap negara. Tapi apakah cinta harus diwujudkan dengan satu cara saja? Sejujurnya, semua cerita-cerita yang dijejalkannya ketika aku mengkerut di balik selimut selalu membuatku takut. Sementara bibirnya berkhotbah tentang sebuah pertempuran di pedalaman papua, yang ada di otakku hanyalah peluru yang berdesing di antara deru tank-tank yang naik turun bukit dengan ledakan granat di sana sini, lalu celurit yang mengayun memenggal leher disusul dengan jerit dan darah muncrat lalu kepala menggelinding dengan mata melotot tak bisa terpejam ditambah lagi bayonet yang mencungkil upil, mengiris leher, dan mayat, dan senapan, dan darah, dan penggalan tangan, dan warna merah, dan doreng, dan komandan, dan perang ,dan anak-anak, dan semuanya, dan semuanya…. Tai kuda!!!!

Aku tidaklah sama seperti kakakku yang senang dengan cerita-cerita semacam itu!! Dan itu yang bapakku tidak pernah tahu, karena tidak pernah mau untuk berusaha tahu!! Hampir setiap kali bapak selesai mendengungkan dongengnya, mataku tak bisa terpejam sampai pagi. Karena di pelupuk mataku hanya ada perang, korban, darah, dan kehancuran. Bagaimana mungkin malaikat sanggup mendekat jika pikiran dipenuhi mayat?

‘Push up seratus kali!!’, dan sekumpulan kelelawar mengepak buyar. Ibu masih saja seperti dewa. Yang sedang tapa brata. ‘Jadi kamu sudah mulai berani membangkang??!! Ha!! Berani desersi??!! Kamu tahu, di medan perang desersi adalah mati?!!’, jakun bapak naik turun tak karuan. ‘Untuk apa kamu jadi penari?! Lihat kedua kakakmu, Sersan Mayor Marinir Budi Santoso… Sersan Satu Kopassus Agus Setyawan… Mereka adalah abdi-abdi negara… anak-anak negeri…. Dan kau?! Mau jadi banci penari?! Dari sperma siapa kau tercipta!!’. Seketika ibu memekik pelan sambil menutup bibirnya dengan tangan. Darahku tersirap. Dewaku diganggu. Oh bidadariku.…

‘Pak!!’, aku tak menyangka suaraku akan selantang ini. ‘Saya tidak peduli bapak mau bilang saya ini banci desersi tai!! Saya juga tidak peduli kalau bapak bilang saya adalah seorang bajingan!! Tapi jangan bawa-bawa ibu!!’. Di luar kelam masih tetap malam. Darahku benar-benar mendidih, menggelegak, seperti yang ada di cerita-cerita tentang dasar neraka, yang dulu ketika aku kecil sering diceritakan pak kyai tua di sudut mushola. ‘Jadi kau mulai berani dengan aku?!!’. Plak !!! Rasa panas menjalar di pori-pori pipi. ‘Dasar durhaka!!’. Plak !! Giliran yang kiri.

‘Cukup!! Cukup!!’, aku bangkit berdiri. Nafasku memburu. Seperti sepasang pengantin di ranjang malam pertama. Tapi kali ini jauh dari kenikmatan. Justru lebih mendekati aroma pembunuhan. ‘Sudah cukup!!, kataku lantang. ‘Saya bukan anak kecil lagi pak… Saya sudah cukup dewasa…’. ‘Dewasa apa!!! Tai kuda!! Kamu itu masih cecunguk!!!’, bapakku menggelegar. ‘Ya!! Saya mungkin memang cecunguk!! Kalau memang itu bisa membuat bapak gembira… Tapi jangan lupa bahwa saya juga manusia!! Dan bagi seorang manusia, tak ada keindahan yang lebih paripurna selain kata merdeka…’.

Kedua alis bapak menyatu ketika menatapku, ‘Apakah kemerdekaan yang selama ini aku berikan tak kau pedulikan… Ha??!!’. ‘Kemerdekaan yang mana??’, aku menantang. ‘Kemerdekaan apa??! Sebagai seorang serdadu bapak harusnya tahu, apa arti kata merdeka.. Tapi mana??!! Bapak selalu menggembar-gemborkan tentang penindasan yang harusnya dilenyapkan, tapi di sisi lain bapak melanggengkan penjajahan di rumah sendiri !!’. Dini hari semakin meninggi. Gerimis yang tadi mengintip manis kini menjelma badai yang mengirimkan petir-petir yang menyalak disertai kilatan-kilatan cahaya merah muda. ‘Saya ingin menari pak…’, suaraku melemah. ‘Saya ingin menari…’.

‘Baik…’, jawab bapak tegas. ‘Menarilah, jika kau ingin menari…’, telingaku tak percaya. ‘Tapi jangan injak rumah ini lagi….’. Duar !!!! Sekilat cahaya meledakkan langit. Ibuku; mahadewiku; semakin tersedu. Angin menderu bagai suara sekumpulan asu. ‘Baik…’, jawabku akhirnya. ‘Saya akan pergi pak.. saya akan pergi… Maaf jika saya memalukan bapak’. Ibu menubrukku, ‘Jangan pergi Lanang… Jangan pergi…’. ‘Maafkan saya bu…’, bisikku. Dan aku melepaskan diri, membalikkan badan, lalu berlari menembus hujan yang kian melaknat. Sudah tak bisa lagi kubedakan mana air hujan mana air mata. Semuanya berasa sama. Bapak sudah mati. Ya. Bapak sudah mati.

***

Hape yang menjerit membawaku kembali dari lamunan tentang peristiwa tiga tahun yang lalu itu ke alam kesadaran. Dengan enggan kulangkahkan kaki menuju seberang untuk mengambil benda kecil yang menyala itu, yang tergeletak diantara properti pentasku sebulan lalu, yang besok siang akan ikut kuberangkatkan ke jepang. Ya. Untuk lima bulan ke depan aku akan membawakan karya koreografiku yang bersama teman-teman kuliahku di ISI untuk keliling di tujuh kota Asia.

‘M@S @GUS’ menyala di layar hape. Hatiku bertanya, ada apa? Tidak biasanya kakakku menghubungiku. apalagi di malam buta seperti ini. Kutekan tombol YES dan jawabannya seketika tercipta. ‘Dik.. Bapak meninggal... Jenazahnya dimakamkan besok siang.. Jam satu…. Gara-gara lever-nya…’. Mendadak malam mengelam tanpa uluk salam. Lengang jalanan seakan tiada berkesudahan.

‘Bukankah bapak sudah lama mati mas…???’, tanyaku pelan tanpa ragu. Dan asu-asu membisu.

2 komentar:

  1. Rey mengatakan...
     

    Bagus. Aku suka cerita ini :)
    Salam kenal yaa.. :)

    Btw cerpen2nya gak dipublikasikan ke media? sayang lho...

  2. paryo mengatakan...
     

    ki sp to?
    mmmm..(menghela nafas). wahai setyo andy saputro, kau selalu "menjajah"ku dg tulisan2mu. kau sekarang masuk dalam daftar "penjajah",aq adalah orang yg mau kau "jajah" n siap "terjajah" dg permainanmu yg membuatku geleng2.titik

Posting Komentar