Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Antara imajinasi dan pengalaman pribadi ;sebuah cara pembacaan

Pramudya Ananta Toer pernah mengatakan bahwa pada hakekatnya setiap karya memiliki jiwa dan kehidupan sendiri. Dalam artian, bahwa sebuah karya seharusnya tidak selalu dikaitkan dengan pengarangnya, terlepas apakah karya itu benar-benar fiksi imajinasi atau diangkat dari pengalaman pribadi.

Terus terang saja, sudah beberapa kali saya dikejutkan oleh beberapa tanggapan yang ditujukan kepada saya perihal apa yang tertulis di kamar saya ini. Ada yang sekedar mengungkapkannya di buku tamu, menulis komentar di postingan yang dimaksud, atau bahkan mengirim email secara pribadi. Tentu saja ini menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri untuk saya. Toh apa yang bisa membuat 'seseorang yang menulis' (untuk menghindari kata 'penulis') lebih bahagia, selain mengetahui bahwa tulisannya dibaca? Dan untuk semua apresiasi ini; entah yang bernada menyanjung, meremehkan, mencaci maki, termasuk juga semua saran positif maupun kritik negatif; saya secara pribadi mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Diantara beberapa tanggapan yang diungkapkan kepada saya, ada yang secara langsung mengungkapkan keingintahuannya, apakah tulisan saya benar-benar sebuah karya yang berangkat dari imajinasi ataukah dari sebuah pengalaman pribadi. Saya pribadi memaklumi jika ada pertanyaan semacam ini, mengingat banyak diantara tulisan-tulisan saya; yang berupa puisi, prosa, atau cerpen, yang saya ungkapkan dari sudut pandang orang pertama (aku). Ditambah lagi dengan kesemerawutan kamar saya ini; yang beberapa hari yang lalu diungkapkan salah seorang kawan saya, dan (parahnya) baru saya sadari kebenarannya; sehubungan dengan beragamnya bentuk tulisan yang saya taruh disini. Kawan saya ini secara langsung mengatakan kebingungannya ketika membaca tulisan saya, mengingat keberadaan kata ‘saya’ (dalam tulisan-tulisan yang saya beri label ‘esai’) dan ‘aku’ (dalam tulisan yang saya beri label ‘puisi, prosa atau cerpen’), yang secara tidak langsung melahirkan kerancuan dalam proses pembacaan, apakah ‘saya / aku’ itu benar-benar ‘saya’ atau ’tokoh rekaan saya’.

Dan pernah juga saya dibuat terkejut ketika mendapatkan sebuah comment di salah satu tulisan (prosa) saya, yang dari nadanya ‘seakan-akan’ menganggap bahwa saya adalah tokoh yang ada di dalam tulisan saya itu, atau setidaknya pemikiran saya adalah sama dengan pemikiran tokoh yang ada di dalam karya saya. Saya 'tidak akan' dan 'tidak bisa' menyalahkan ketika ada pemikiran semacam itu, mengingat segala kesemerawutan kamar saya yang sudah saya sebutkan tadi. Dan untuk kesalahmengertian yang saya timbulkan itu, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Mungkin perlu saya jelaskan, bahwa untuk memudahkan proses pembacaan di kamar ini, ada baiknya jika kawan-kawan pembaca bersedia mengintip label kecil di bawah tiap-tiap tulisan, untuk membedakan antara tulisan-tulisan belabel ‘esai’ dan ‘prosa, cerpen, dan puisi’, dimana yang disebut pertama adalah benar-benar pemikiran saya pribadi, sedangkan yang kedua adalah benar-benar fiksi imajinasi.

Saya sendiri pribadi tidak memungkiri, bahwa seperti halnya ‘orang-orang yang menulis’ lainnya, saya juga menyelipkan sedikit pemikiran-pemikiran saya di tulisan-tulisan (sastra) saya. Tapi itu bukan berarti bahwa segala ‘pemikiran’ yang ada di prosa, cerpen dan puisi saya adalah benar-benar ‘saya’.
Terus terang saja, saya adalah orang yang menganggap bahwa karya adalah karya. Dan seperti ungkapan Pramudya yang saya kutip di atas, bahwa pada hakekatnya setiap karya adalah memiliki jiwa dan kehidupan sendiri. Begitu juga dengan karya-karya saya, yang tidak harus dikait-kaitkan dengan keberadaan maupun pemikiran saya secara pribadi.

Saya akui, bahwa saya memang pernah sekali waktu ‘menjadi’ tokoh ‘aku’ yang ada di dalam karya saya. Yaitu saat proses penulisan sebuah tulisan itu berlangsung. Sebagai salah satu contoh, adalah ketika saya menulis salah satu prosa saya yang saya beri judul ‘isa; tanpa huruf kapital’. Ketika proses penulisan itu, saya memang bukan lagi saya, melainkan isa, seorang laki-laki anak dari seorang PKI yang terlahir dari rahim Sulastri, sang Gerwani, yang pernah membunuh salah satu teman masa kecilnya yang menghina ibunya. Tapi ketika proses penulisan itu selesai, saya kembali lagi menjadi saya pribadi, yang bukan anak PKI, yang tidak terlahir dari rahim seorang Gerwani, dan juga tidak pernah sekalipun menghabisi nyawa salah satu teman masa kecil saya. Di fase inilah, konsepsi ‘pengarang telah mati’ menemukan relevansinya.

Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas segala apresiasi yang diberikan atas tulisan-tulisan saya. Semoga saja, sedikit penjelasan saya ini bisa memudahkan dalam proses pembacaan tulisan-tulisan (terutama yang bergenre sastra) saya di kamar ini. Karena menurut saya, tidak semua karya selalu berhubungan dengan apa yang akan / sedang ‘dilakukan’, melainkan ada juga yang sekedar berbicara tentang apa yang ingin ‘disuarakan’. Dan inilah kamar mandi saya, tempat segala sampah dan serapah menumpah, yang membuat saya kembali bersih dan segar ketika keluar.
Salam…

2 komentar:

  1. Dony Alfan mengatakan...
     

    Jangan2 sampeyan punya banyak alter ego, sehingga susah membedakan mana jati diri anda yang sebenarnya, dan mana yang "sampingan" alias semu.

    Teruslah menulis, nang. Saya punya firasat kalo sampeyan bakal menjadi "tukang tulis" heibat.*

    *Sengaja ditulis supaya saya bisa dijajakke dari gaji pertama di tempat kerja baru, hehe

  2. lintang lanang mengatakan...
     

    alter ego?
    jangan2 iya ya???
    he2...

Posting Komentar