Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

isa :tanpa huruf kapital

Namaku isa. Ya, isa. Isa saja. Tanpa al masih, juga alaihi salam. Hanya isa.

Aku terlahir dari rahim kupu-kupu tepat ketika purnama kelima menghujani rawa. Tahun berapa, nenekku sama sekali tak pernah bercerita. Toh apa juga fungsinya, ketika kita menyadari bahwa waktu adalah satu-satunya absurditas paling tak berkualitas yang pernah diciptakan manusia? Bagaimana tidak, ketika sesuatu yang seharusnya mengalir begitu saja harus dikotak-kotakkan dalam detak-detak detik, seakan segala sesuatu pasti dan harus bisa dikuasai tangan manusia? Omong kosong. Berapapun angka tahun aku terlahir, aku sama sekali tak peduli. Seperti halnya aku tidak peduli dengan desah lembut angin pagi yang mengabarkan tentang tanah yang mati, tanah yang dulunya menjadi daya hidup bagi para petani.

Kubilang tadi aku terlahir dari rahim kupu-kupu. Ya. Kata nenekku; juga teman-teman masa kecilku; memang begitu. ‘Bukankah isa harusnya terlahir dari seorang maria?’, tanya salah seorang teman masa kecilku suatu waktu, ketika beberapa ekor senja dengan jelita memoles warna langit dengan suasana jingga, hingga kami; anak-anak didikan waktu yang tak cukup punya keberanian memelihara kepala batu; terpaksa menarik kembali tali gelasan layangan kami dan pulang untuk menghindari bertatap muka dengan hantu-hantu senja yang seringkali dikabarkan para orang tua, ketika selimut tipis mulai melindungi tubuh-tubuh kami di atas ranjang yang berbau pipis.

‘Matamu…’, jawabku ketika itu. ‘Siapa yang merasa berhak menentukan keharusan?!’, lanjutku. ‘Lho, kamu tidak percaya tuhan?!’,temanku bertanya dengan heran. ‘Tuhan? Siapa dia?’, tanyaku menantang. ‘Bodoh !!’, jawabnya ‘Dialah yang berkuasa atas semua dari diri kita! Kehidupan, kematian, keberadaan, juga…’. ‘Omong kosong !!!’, sergahku.’ Kau tahu, siapa yang membunuh ayahku lima tahun yang lalu? Ha? Kaupikir tuhan disana yang berperan? Tidak ! Dengan mata kepalaku sendiri kulihat ayahku diseret dari pintu rumahku. Aku lihat sendiri ketika manusia-manusia berseragam macan itu menendang-nendang kepala ayahku dengan sepatu lars bertali hitam. Aku juga melihat sendiri ketika mereka meludahi muka ayahku sambil memaki ‘Dasar PKI tai..!!’. Lalu dimana tuhan ketika itu?’. Temanku menatapku dengan pandangan heran.

‘Apakah kau juga melihat, ketika mereka menarik paksa ibuku yang sedang melatih murid-muridnya menari, lalu mempreteli semua pakaian yang dikenakan termasuk kutang hingga ibuku telanjang, lalu mata para iblis itu mulai menikmati payudara kenyal yang dulu; ketika aku masih terlalu belia; seringkali kujadikan bantal, sebelum menyeretnya masuk ke dalam kamar? Dan entah apa yang terjadi; apakah ibuku dipaksa menari oleh para bajingan itu atau tidak; tapi yang jelas tiga hari setelah itu, pada sebuah dini hari yang tai, ibuku dengan khusuk memilih untuk gantung diri!!!’, aku semakin tak terkendali. ‘Lalu apa yang salah jika aku bukan anak maria, melainkan anak yang tercipta dari sperma seorang Lekra yang tersimpan di rahim sulastri, sang Gerwani? Ha?!‘.

Temanku menatapku seakan semua ucapanku itu adalah sesuatu yang lucu, sama lucunya ketika melihat anak anjing yang lama tak bisa kencing. ‘Dasar anak kupu-kupu, lalu berapa harga ibumu..?’, katanya sambil berlalu. ‘Diancuk!!!’, dan aku tak ingat lagi apa yang terjadi ketika itu. Yang aku ingat, tiba-tiba saja ada segaris merah yang meleleh di leher temanku itu, ketika benang gelasan yang tergenggam di tanganku aku lingkarkan di lehernya, lalu kutarik sekuat tenaga. Dan tanpa suara, dia meregang nyawa.

Tentu saja aku panik. Seumur hidupku, aku belum pernah membunuh sesuatu. Bahkan seekor nyamuk sekalipun, nenek yang sedari kecil memeliharaku tak pernah mengijinkan aku untuk sekedar menyentuhnya, nanti sayapnya rusak, katanya. ‘Jangan sekali-kali kau salah gunakan ke-manusia-anmu. Karena dengan begitu, kita tak ubahnya yang terjalang dari yang paling jalang.’, kata nenekku pada suatu waktu, ketika melihatku tersedu setelah sore sebelumnya melihat teman-temanku mengganggu anjing milik tetanggaku dengan lemparan batu.

Dalam kepanikanku, kulemparkan mayat temanku ke sungai yang mengalir deras di bawah tebing tempat aku berdiri, lalu aku berlari sekencang yang aku bisa, lintang pukang melibas alang-alang, seperti serdadu pecundang yang takut mati di medan perang, tak peduli dengan duri-duri putri malu yang merobek telapak kaki telanjangku. Ketika itu hanya ada lari, lari dan lari di dalam kepalaku.

Sesampai di rumah, aku hanya diam. Mencoba menikmati bungkam, seperti menikmati malam. Dan masih saja terus begitu ketika keesokan harinya keluarga temanku dan orang-orang satu kampung mulai mencari-cari keberadaan temanku. Mulai dari pagi, siang, sore, hingga malam, orang-orang itu terus saja mencari-cari sambil membunyikan bebunyian yang berkelotekan tak berkesudahan. Mungkin gunung, hutan, lembah, juga ngarai mereka jelajahi, aku tak pernah benar-benar tahu dan peduli, karena aku tak pernah sekalipun ikut bersama mereka. Dan setelah lima hari mencari, diambil sebuah keputusan: temanku menghilang diculik sang hantu senja. Ya, aku bersorak dalam hati. Mereka benar. Mereka semua benar. Sang hantu senja. Ya, sang hantu senja. Aku-lah dia.

Namaku isa. Ya, isa. Bukan Isa. Hanya isa. Tanpa huruf kapital. Sang hantu senja yang terlahir dari rahim kupu-kupu bersayap jingga, yang menghabiskan waktu dengan mengerami benih kata-kata hingga menua. ‘Apakah dunia memerlukan bahasa; juga sastra; agar menjadi dewasa?’.
Tanya yang gila.

1 komentar:

  1. Yodie Hardiyan mengatakan...
     

    : /

    Jujur kawan, saya sampai tidak tahu apa yang ingin saya komentari di tulisan anda ini.

    Terlalu dalam dan tidak bisa dicerca maupun dipuji. Abu-abu, antara hitam dan putih.

    Kepercayaan bermula dari keyakinan. Ketidakpercayaan bermula dari omong kosong. Namun, bila omong kosong itu menjadi omong isi, adakah lagi ketidakpercayaan itu?

    Hantu senja..gentayangilah dirimu sendiri. Terus, sampai klimaks. Hingga ada cermin yang datang, memaksa untuk melihat utuh sebuah realita, benarkah semua ini?

Posting Komentar