Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Bandisiti ;keluarga puisi

Hanya ketidakwajaran kronis yang bisa menerima ketidakwajaran sebagai sebuah kewajaran. Dan Bandi mungkin adalah salah satu diantaranya. Bagaimana tidak, sementara orang lain biasa membisikkan adzan dan iqomah di telinga bayinya yang baru lahir, Bandi justru membisikkan bait-bait puisi ‘Aku’ karya Chairil Anwar yang sudah dia hapal sejak di sekolah dasar ketika anak pertamanya diberi kesempatan mencecap dunia. ‘Anak seorang jalang tidak boleh tidak jalang… bahkan kalau bisa harus yang terjalang… ‘, katanya disusul tawa membahana ketika memberikan sambutan di hadapan tamu-tamu yang datang di acara syukuran di rumah mertuanya. Seketika para undangan membisu, bercampur antara tak mempercayai kualitas telinga mereka dan berharap itu semua hanya satu episode di dalam mimpi tentang neraka. Tapi dengan terpaksa mereka semua harus kecewa, karena bagaimanapun juga kenyataan bukanlah mimpi, dan mimpi bukanlah kenyataan, meski sedemikian besar usaha manusia untuk menyatukan hal yang memang diciptakan sebagai dua.

Yang lebih gila lagi, Siti, istri Bandi yang terlahir dari keluarga alim ulama, hanya tersenyum lebar mendengar celoteh suami yang sangat dicintainya itu. Jika Bandi adalah ketidakwajaran kronis, mungkin Siti adalah ketidakwajaran super kronis. Bukankah hanya orang yang lebih gila yang bisa mencintai orang gila? Setidaknya itu yang seringkali dibisikkan Bandi ketika menggoda istrinya. Kegilaan mereka berdua memang sudah dimulai sejak dahulu, jauh sebelum sel sperma dan sel telur yang akhirnya mencipta bayi lelaki itu dipertemukan oleh persetubuhan. Dulu, ketika mereka memutuskan untuk mengikat diri dalam sebuah perkawinan, Bandi sama sekali tidak memilih emas atau kitab suci sebagai mahar untuk meminang Siti. Tapi; sekali lagi; sebait puisi. Namun jangan sekali-kali membayangkan puisi-puisi Rumi yang dibacakan di sini. Jangan pula menebak bahwa adegan ketika itu seperti sepenggal kisah romantis waktu Romeo menjemput Juliet di tengah sabana dengan menunggang kuda putih yang rambutnya tergerai dimain-mainkan gerimis kricik-kricik, sembari mendendangkan lagu-lagu cinta gubahan para pujangga yang lebih percaya pada kata daripada nada. Sekali lagi, jangan pernah sekalipun membayangkan keberadaan antologi puisi romantis di sini. ‘Pahlawan tak dikenal… Bla bla bla…. Tapi bukan tidur sayang… Dan seterusnya… dan seterusnya’, ucap Bandi lantang di depan penghulu dan para tamu yang bisu terpaku ketika itu. Dan itulah, awal kelahiran keluarga mereka.

Sabrang Gemintang, itulah nama yang diberikan kepada bayi yang terlahir dari sel-sel ketidakwajaran itu. Dan mungkin karena itulah, ketika waktu membawanya menuju pertumbuhan, sikapnya menjadi agak-agak kurang bisa diterima oleh sebagian besar nalar. Bayangkan, ketika anak-anak seusianya masih disibukkan membedakan antara kuda dan tai kuda, setiap purnama Sabrang sudah terbiasa melakukan tapa kungkum di telaga seberang rumahnya. ‘Mencari kunang-kunang…’, katanya beralasan. Sementara teman-temannya sibuk merengek minta sepatu baru setiap kenaikan kelas, Sabrang justru sibuk membacakan puisi sambil menari di sudut-sudut pasar yang hangar bingar. ‘Biar tidak mati…’, ucapnya. ‘Apanya yang biar tidak mati?’, pernah seorang penjaga pasar mencoba bertanya, tapi Sabrang tak pernah menjawabnya.

Dan anehnya, semua penduduk di kampung itu seakan sepakat untuk menyepakati bahwa Sabrang tidaklah gila. Seperti juga ayahnya. Mereka benar-benar waras sewaras-warasnya. Dan lagi, para penduduk itu juga mengetahui dan memahami benar bahwa membaca puisi sama sekali bukanlah sebuah petanda kegilaan, dan bukan pula perkara kriminal yang bisa diancam hukuman pidana. Oleh karena itu, mereka tak pernah sekalipun mempermasalahkan ketika Bandi dan Sabrang, tanpa ada hujan tanpa ada bintang, tiba-tiba berkolaborasi membaca berbait-bait puisi seperti dukun merapal mantra, seperti kyai yang mengaji, yang kadang-kadang diketahui apa artinya; tapi lebih sering tidak; susul menyusul antara satu puisi dan puisi yang lain, hingga mulut berbuih-buih, keringat meleler, membasahi alis mata, hidung, turun hingga ke rumpun jembut yang merunggut di mulut, hingga akhirnya Siti menyadarkan mereka dengan aroma kopi yang menguar dari sepasang cangkir tua bergambar kuda betina.

Begitulah, keluarga itu melewati absurditas waktu dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke tahun hingga Sabrang benar-benar menjadi seorang laki-laki dewasa. Tentu saja wajahnya yang tampan banyak diidamkan para perawan, ‘Aku hanya ingin memperistri puisi’, jawabnya ketika ibundanya menanyakan tentang rencana perkawinan. Seketika Bandi dan Siti tertawa bersama-sama, ‘Bagus… bagus nak…’, jawab Bandi. ‘Bagus jika kau tak ada niatan untuk memperistri manusia. Karena manusia adalah sumber segala petaka. Tahukah kau, bahwa seribu satu macam peperangan, pertempuran, dan kehancuran di dunia ini adalah berawal dari manusia? Maka dari itu, aku sangat menghargai keputusanmu untuk mencari istri sebait puisi. Lalu kau akan mencoba mencari kemana?’.

‘Saya tidak akan kemana-mana ayahanda..’, Bandi dan Siti mengernyitkan dahi. ‘Saya sudah mendapatkannya.’, lanjut Sabrang. ‘Apa?’, tukas Bandi. ‘Lalu dimana dia? Ha? Mana calon menantuku? Mana? Mana puisi jelita itu?’, Bandi tertawa-tawa seperti anak kecil yang dikenalkan dengan mainan baru. ‘Tenang ayahanda. Nanti ketika senja selimuti kampung kita dengan warna magenta muda, dia pasti akan kubawa kesini dengan kereta bawah tanah tanpa kuda, dan akan kuperkenalkan dengan ayah dan bunda.’. Bandi dan Siti tersenyum gembira mendengar kata-kata anaknya, membayangkan anak semata wayangnya akan bersanding dengan sebait puisi di atas pelaminan. ‘Namanya Senja bunda…’, kata Sabrang. ‘Apa..??’, Tanya Siti tak memahami kalimat terakhir anaknya. ‘Ya. Namanya Senja. Dia anak seorang penari dari kampung sebelah, yang rumahnya bercat hijau muda dan bersembunyi di bawah rerimbun perdu berwarna ungu di seberang telaga….’, jawab Sabrang. ‘Lho.. tadi kaubilang dia itu puisi?’, Bandi tak mengerti. ‘Iya ayahanda. Dia memang puisi. Puisi yang secara pasti mengenalkan saya dengan arti pagi. Puisi yang seringkali membawakan saya sesobek malam bergambar kupu-kupu bersayap biru. Dan juga puisi yang tak jarang mengirimkan denting gamelan yang dia titipkan pada sekumpulan bintang yang kebetulan singgah di jendela kamar saya setiap kamis malam. Dialah puisi saya ayah….’.

‘We lhadalah…’, Bandi dan Siti njenggirat. Antara takjub, kaget, dan bingung. Bukan apa-apa, mereka hanya tak terbiasa dengan sebuah kewajaran. Anak mereka jatuh cinta! Bukankah itu sesuatu yang wajar?! Bahkan terlalu wajar?! . ‘Tapi dia itu manusia le…’, Bandi angkat bicara. ‘Bukan ayah. Dia bukan manusia. Dia itu puisi.’, jawab Sabrang tegas. ‘Dan karena saya lahir dengan diiringi puisi, maka saya juga akan hidup dengan puisi…, dan suatu ketika nanti, saya juga harus mati dengan ditemani puisi.’. Gung !!! Gong menggema. Ning nong ning gung… ning nong ning gung… gamelan bertalu-talu memekakkan telinga dan seluruh indra Bandi dan Siti. Mereka menangis tersedu, ketika menyadari bahwa mulai saat itu tak akan ada lagi ketidawajaran di rumah mereka. Gamelan semakin rancak, hingga malam memuncak.

2 komentar:

  1. tehsusu.com mengatakan...
     

    Waktu kedua org tua nya menikah, apa mereka tdk mengalami jatuh cinta dulu? Kewajaran dulu, sblm jd ketidakwajaran?

    Masa iya kawin ama puisi.... :D

  2. lintang lanang mengatakan...
     

    waduh, dulu jatuh cinta dulu ga ya?? kenalnya baru aja sih.. he3..

Posting Komentar