Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Tentang seorang laki-laki berkeringat pada sebuah hujan yang pekat

‘Anjing !!’, lelaki dekil berkeringat itu mengumpat. Dalam hati aku mengiyakan. Bagaimana tidak, ketika sejak gerimis meriwis beberapa waktu yang lalu, sampai sekarang ketika tumpahan air menggenang, tak satupun prosa yang bisa tercipta. Sesuatu yang aneh memang, mengingat lelaki itu dan aku sama-sama berangkat dari stasiun yang sama. Jujur saja aku sudah terlalu lupa, kereta yang kami tumpangi ini menuju kemana. Tapi siapa juga yang bisa mengingat hal yang begitu percuma? Bukankah hanya membuang-buang tenaga seperti halnya kalau kita bercinta dengan lonte-lonte pinggiran kota? Nikmat sedikit, tapi bawa penyakit.

‘Anjing !!’, lelaki itu mengumpat lagi. Kulihat perempuan yang duduk di seberang lelaki itu mulai merasa tak nyaman. Tapi toh siapa yang bisa merasa aman di dalam kereta pengap yang penuh dengan bandit dan gelandangan? Bahkan mendung di luar jendela pun tetap enggan menghentikan hujan. Lihat saja sekuntum mawar yang tergeletak di lantai itu, benar-benar tak ada artinya. Bangkai. Merah. Buah. Senjata. Tentara. Politik. Semua buta. Semua tak ada artinya. Semua menguap. Semua bicara seakan mempunyai makna. Padahal semua hanya sampah serapah.

‘Anjing !!’, untuk kesekian kali lelaki itu memaki. Benar, kataku dalam hati. Memang anjing. Bahkan mungkin terlalu anjing. Terlalu penuh, hingga tak bisa luruh. Bahkan untuk sebatas diurai dalam kata-kata. Ya. Mungkin memang benar yang dikata nenek tua yang kemarin menemuiku di sudut gereja, bahwa penaku mungkin sudah terlalu renta. Sudah waktunya diasah biar tetap tajam. Tapi mana penjual tinta itu, bukankah dia sudah mati kemarin hari sabtu?

‘Anjing !!’, akhirnya aku tak tahan lagi untuk tidak memaki. ‘Aku ini menulis apa?!!! Sampah?! Puisi?! Prosa?! Dasar tolol !! Bukankah banyak hal yang ada di sekelilingku yang sebenarnya bisa dijadikan bahan tulisan ?!! Tapi kenapa kata-kata sedemikian enggan untuk menajam?!!’. Semua yang ada di dalam gerbong menatap tajam kepadaku. Mungkin terganggu dengan kata-kataku. Bahkan seorang berbadan tegap berbaju serdadu warna ungu di seberangku mulai mengelus-elus bayonet yang tadi digunakannya untuk mengiris apel; setelah mungkin kemarin lalu digunakan untuk mencungkil biji mata musuhnya ketika perang di padang alang-alang;
‘Anjing !!’, lelaki berkeringat pengap itu memaki untuk terakhir kali sebelum akhirnya memilih jendela untuk melompat dan mengenalkannya dengan hujan yang pekat.

Mataku tergenang, remang merajam, dan sebait doa kukirim kesana. Secepatnya. Sebelum pagi menjadi terlalu buta.

1 komentar:

  1. Zee mengatakan...
     

    sy udah jarang nemu tulisan kyk gini... serasa dikembalikan ke jaman saat saya begitu menggandrungi karya-2 sastrawan dulu. gud luck ya..

Posting Komentar