Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Bilakah perang menjadi usang?

Betapa ternyata bangsa kita terlalu dekat dengan apa yang disebut dengan budaya kekerasan. Lihat saja fenomena geng motor yang ada di Bandung dan sekitarnya yang akhir-akhir ini banyak dikupas di layar televisi kita. Begitu juga dengan keberadaan geng di SMA-SMA favorit di Jakarta yang terus melanggengkan kekerasan dari generasi ke generasi. Tak ketinggalan juga dengan IPDN, tempat yang sebenarnya didirikan untuk mencetak abdi rakyat negeri ini. Belum lagi dengan demonstrasi-demonstrasi yang seringkali berakhir dengan kericuhan, tawuran antar sekolah (dan antar universitas), kebrutalan Satpol PP dalam menertibkan pedagang, radikalisme FPI dan ormas-ormas sejenis, terorisme, dan kasus-kasus lainnya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan bangsa ini sehingga kita lebih sering menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan permasalahan?

Hal ini sepertinya tak terlepas dari pola pikir masyarakat kita yang dipengaruhi dengan sistem yang berlaku selama ini. Lihat saja keberadaan film-film dan tayangan-tayangan di layar televisi yang mengeksploitasi dan mempertontonkan kekerasan dengan sedemikian vulgar. Ditambah lagi dengan pola pikir yang diwariskan oleh para pendahulu kita dalam memberikan persepsi tentang arti kata ‘pahlawan’ dan ‘kejantanan’. Sejak masa kanak-kanak, otak kita sudah seringkali dijejali pemahaman bahwa pahlawan adalah ‘sosok yang ikut serta berperang melawan penjajah, sosok yang berani mengorbankan jiwa, raga dan nyawanya dalam pertempuran hanya dengan berbekal bambu runcing dan ikat kepala merah putih.’

Pemahaman semacam ini tanpa disadari telah mengajarkan kepada anak-anak bangsa kita, bahwa kata ‘pahlawan’ lebih dekat dengan ‘kekerasan’ ketimbang ‘pemikiran’. Dengan kata lain, untuk menjadi seorang pahlawan, kita harus berani berperang dan angkat senjata membela negara. Meskipun sebenarnya ada juga pahlawan nasional kita dari kalangan pemikir, namun prosentasenya jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah ‘pahlawan’ dari kalangan militer. Lihat saja keberadaan ruas-ruas jalan yang ada di negeri ini yang mayoritas didominasi nama sosok-sosok militer yang dulu berjuang ketika jaman perang. Hal ini membuktikan bagaimana bangsa kita begitu ‘mendewakan’ pahlawan yang berlaga di medan pertempuran, yang secara kasar bisa diartikan adalah mereka, sosok-sosok haus darah yang mengesampingkan kemanusiaan dan lebih memilih peperangan dalam menyelesaikan permasalahan. Sebagai contoh, coba tanyakan kepada masyarakat kita, mana yang lebih pahlawan di antara ‘Hatta’ dan ‘Soedirman’,?

Sebagai bukti lain seberapa besar masyarakat kita begitu mencintai budaya kekerasan dan perang adalah yang terjadi di kota Semarang. Dalam rangka peringatan Hari Pahlawan dan Hari TNI, di museum Mandala Bhakti diadakan pameran alat utama sistem senjata (Alutsista) yang dibuka untuk umum. Dalam pameran ini, TNI mempertontonkan peralatan perang yang mereka miliki kepada masyarakat umum. Tak sedikit anak-anak yang tertarik untuk mencoba-coba peralatan perang yang dipamerkan di sini. Bukankah benar-benar sesuatu yang ‘mendidik’, ketika anak-anak yang masih berpikiran polos itu sudah diperkenalkan dengan mesin-mesin pembunuh dalam usia yang sedemikian dini? Menurut saya, dengan alasan apapun; entah itu agama, mempertahankan kedaulatan atau kehormatan, atau alasan-alasan yang lain; yang namanya pembunuhan tetaplah pembunuhan. Entah terjadi di jaman perang atau perdamaian, menghilangkan nyawa orang lain tetaplah sebuah kejahatan. Dan mengenalkan anak-anak dengan mesin pembunuh semacam itu, bukanlah sebuah tindakan yang bijak. Kecuali jika kita memang menginginkan masyarakat kita akan tetap terus seperti ini. Masyarakat yang terus mencintai kekerasan. Masyarakat yang mempercayai bahwa kekuatan fisik bisa melahirkan solusi.

Mungkin kita bisa belajar dari cerita tentang Santo Fransiscus Assisi, yang namanya diabadikan sebagai nama sebuah kota di Italia (Kota Assisi). Pada jamannya, ketika orang lain berangkat membawa senjata lengkap dalam rangka perang salib, dia berangkat hanya membawa Injil sebagai protes bahwa tidak ada permasalahan yang dapat diselesaikan dengan kekerasan dan perang. Dialah yang pergi menyalami Sultan Mesir sebagai seorang sahabat yang merindukan perdamaian.
Bangsa ini akan jauh lebih beradab jika kita bisa melahirkan Assisi-Assisi lain di dalam benak masing-masing. Percayalah, bahwa pertumpahan darah tak akan pernah menyelesaikan masalah.

0 komentar:

Posting Komentar