Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Suluk Lintang Lanang

;sama sekali bukan Extra Terrestrial

Bukan. Dia itu bukan meteorit yang hampir setiap malam melesat menyusuri gang-gang sempit dan rumit bimasakti juga andromeda, apalagi bagian dari lingkaran kosmos yang termaha dari yang maha, dimana beberapa juta tahun yang lampau meledak, membludak hingga melahirkan benih-benih kehidupan di semesta raya yang akhirnya berevolusi membentuk peradaban, kuman, setan, dan juga tuhan.

Bukan. Dia juga bukan malaikat bersayap pekat yang setiap nyala senja merayap mendekat, mulai menyanyikan tembang kinasih dengan nada C minor dan suara mesosopran yang jauh dari kata sumbang, apalagi pelan, lalu menebar serbuk-serbuk benih cinta kasih berwarna ungu kehijau-hijauan, yang malam sebelumnya dicuri dari balik kutang aphrodite yang berbau sangit.

Bukan. Jelas-jelas dia bukan seorang superhero semacam superman, spiderman, batman, gatotkaca, apalagi sponge bob, yang nyaris setiap sore sibuk wara-wiri di layar tivi, membasmi kejahatan, menumpas kebatilan, mereguk untung dari pemasangan iklan, dan mencekoki pola pikir bayi-bayi kita sejak di dalam kandungan dengan sebuah dogma purba, bahwa uang adalah segalanya, dan otak tak usah digunakan terlalu keras, karena berpikir hanya akan membuat nyawa kita menjadi lebih penat, dan oleh karna itu, jangan sekali-kali mencoba berpikir, nikmati saja semuanya, secara buta.

Bukan. Mana mungkin metamorfosis bisa menciptakan makhluk semacam itu. Metamorfosis hanya akan melahirkan binatang serupa kupu-kupu, yang terbang dengan sepasang sayap tipis yang mengepak setapak demi setapak, pelan demi perlahan, seperti jarum jam yang berdetak, detik, detak, detik, mengulur-ulur waktu, menghitung kumpulan hari, bulan, minggu, tahun, abad, windu, menulis angka-angka tanggal di kalender jawa, hijriah, masehi, cina, dan sebagainya dan sebagainya, tai kuda.

Bukan. Dia itu juga bukan seekor kunang-kunang yang setiap selesai hujan merubung nyala merkuri di perempatan jalan, lalu ketika waktu berdentang saat tengah malam, menghilang dari keberadaan tanpa menyisakan apa-apa selain tanda tanya di dalam kantong jaket kita yang terbuka, setelah sebelumnya kita jejali dengan dosa-dosa di lokalisasi yang menjual kemaluan dan persetubuhan dengan harga yang terlalu murah dan cara yang terlampau mudah.

Bukan. Bukan! Semua yang kalian tuduhkan padanya itu adalah kesalahan! Lihat, kakinya saja masih tetap menapak di tanah ! Dia hanyalah seorang lelaki biasa, seorang lanang yang menghabiskan waktunya untuk merajut helai-helai waktu untuk membunuh absurditas, agar semua logika cerita menurut versinya bisa terbang bersama kerlip lintang di awang-awang!
Hanya itu… Sesederhana itu…..

0 komentar:

Posting Komentar