Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Kereta ini menuju kemana?

Gila. Sebut saja aku gila. Tak apa. Toh apa juga bahasa yang bisa menerangkan fenomena yang bagi sebagian orang tak bisa dilogika? Aku diam-diam mencintai stasiun. Hei, jangan dulu tertawa, aku ini lelaki normal. Aku juga masih suka wanita. Masih bisa ereksi ketika melihat tubuh telanjang perempuan seksi. Tapi itu bukan berarti aku tak boleh mencintai stasiun bukan?
Terus terang aku suka dengan bau keringatnya, riuh rendah kesibukannya, apalagi melihat orang-orang bergegas berusaha mengejar kereta yang akan membawa mereka entah kemana. Begitu juga dengan dentang loncengnya yang khas; yang dimana-mana selalu saja bernada sama. Lalu deru kereta yang mendekat, bergemuruh, semakin dekat, semakin gemuruh, lalu berhenti, hingga akhirnya nanti kembali bergemuruh menjauh. Benar-benar maha sempurna. Belum lagi dengan sepasang besi hitam yang membujur sejajar yang masing-masing menuju dunia entah berantah, yang tiap-tiap pagi ditumbuhi bayi-bayi embun, setelah semalaman dicumbui kabut dengan kecup-kecup lembut.

Ya. Sebut saja aku gila. Tak apa. Tapi adakah yang salah dengan sebutir cinta, seperti halnya perang yang selalu menagih nyawa? Dan karena cintaku yang semakin hari semakin menggila, aku selalu berontak tiap kali petugas-petugas tramtib menjemputku paksa untuk mengirimku ke panti sosial milik mereka. Terus terang aku lebih bahagia berada disini. Di rumah ini. Tempat aku lahir, dan mungkin juga nanti mati. Jika negeri ini masih saja tetap begini.

0 komentar:

Posting Komentar