Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Anak bukanlah robot !!

Sudah menjadi keniscayaan ketika orang tua mengharapkan sesuatu yang tebaik bagi anak-anaknya. Dan kadangkala hal ini direpresentasikan dalam banyak hal yang kadangkala justru memenjarakan anak dalam sebuah ruang sunyi yang membuat sang anak kehilangan kemerdekaanya. Pemberian nama bagi sang anak adalah salah satu contohnya. Meski bagi sebagian orang hal semacam ini dianggap hal yang sederhana, tapi mungkin tidak bagi para pelakunya (atau korbannya?). Sebagian orang tua memilihkan sebuah nama kepada anak sambil menghembuskan mantra-mantra doa yang diharapkan akan terkabulkan di suatu rentang nanti. Tapi kadangkala pemilihan nama ini menjelma seakan menjadi penjara bagi sang anak itu sendiri.

Sebagai contoh adalah salah satu teman saya yang dalam namanya terkandung kata ‘Muhammad’. Mungkin ketika dia lahir dulu orang tuanya berharap anaknya nanti akan menjadi bijaksana sebijaksana Nabi Muhammad. Tapi beberapa waktu yang lalu, teman saya justru mengeluh karena merasa terbebani nama yang baginya dianggap terlalu ‘berat’ itu, dimana dia menganggap nama Muhammad dianggap terlalu suci disandang olehnya yang terlalu ‘kotor’. Masih agak mendingan teman saya itu belum mempunyai rencana untuk murtad karena telah menemukan kebenaran di kamar yang lain. Karena jika benar hal itu terjadi, alangkah tidak anehnya orang yang bernama ‘muhammad’ tapi murtad.

Memang kita sebagai manusia tak seharusnya terjebak dalam satu pola pikir tentang bahasa. Toh bahasa sendiri tak memonopoli sebuah arti secara universal melainkan hanya berlaku di beberapa bangsa yang menggunakannya. Tapi bukankah kita tak bisa memungkiri bahwa ada beberapa macam kata yang sudah tak lagi merdeka sebagaimana seharusnya? Banyak diantara kata-kata itu yang menyimpan arti politis tertentu tanpa harus ada embel-embel di belakangnya. Seperti nama teman saya tadi, kita tentu tidak bisa melihat kata ‘muhammad’ sekedar sebagai ‘muhammad’ saja tanpa membawa-bawa tentang islam. Begitu juga dengan nama imanuel, maria, petrus, ibrahim, dan lain sebagainya. Hal semacam inilah yang kadangkala tak dipikirkan banyak orang tua ketika memberikan kita sebuah nama.
Belum lagi dengan penjara lain yang diciptakan oleh para orang tua, yaitu ambisi pribadi orang tua yang ditanamkan kepada anak-anaknya. Jika hal ini bertujuan untuk mendorong bakat dan kreativitas anak tentu hal ini akan bisa dimaklumi, bahkan mungkin diharuskan. Tapi bagaimana jika hal semacam ini dilakukan orang tua dalam rangka mengeksploitasi anak, atau mungkin untuk mencetak anak menjadi sesuatu yang diimpikan oleh orang tua?

Ajang Tasahur (pentas saat sahur) di salah satu stasiun televisi kita adalah salah satu contohnya. Dimana sang anak dieksploitasi orang tua hingga menjelma menjadi sosok-sosok aneh; yang baru lahir kemarin sore tapi sudah mampu berbicara panjang lebar tentang tuhan dan kebenaran. Bagaimana mungkin bisa bicara tentang tuhan dan kebenaran, jika belum pernah benar-benar paham apa itu kehidupan? Keberadaan acara semacam itu hanyalah menjadi salah salah satu ruang yang menjanjikan untuk bibit-bibit unggul di bidang teater dan keaktoran. Seperti yang kita ketahui, prospek di bidang seni teater tidak sama dengan prospek menjadi da’i yang menjanjikan ketenaran dan kesuksesan. Dalam acara tersebut, anak-anak yang memiliki bakat di bidang keaktoran dan deklamasi menemukan ruangnya untuk berekspresi meski harus dengan cara bicara panjang lebar (sesuai naskah) menjual ayat-ayat dan kesucian ‘tuhan’. Dan satu hal lagi yang menambah ini semua menjadi sebuah kekonyolan yang sempurna, yaitu tingkah laku para orang tua mereka yang justru tersenyum-senyum bangga memperlihatkan kebodohan yang mereka lakukan.

Padahal seperti yang dikatakan Kahlil Gibran, bahwa anak adalah sepucuk anak panah, dan kita sebagai orangtua hanya bisa menciptakan ‘warangka’ yang kuat dan benar agar kita bisa membidik dengan sempurna. Ke arah mana anak panah itu akan melesat adalah sepenuhnya menjadi hak dan kemerdekaan sang anak. Jadi ketika anak kita menginginkan untuk bisa kuliah di jurusan tari, kenapa kita harus memaksanya untuk masuk jurusan akuntansi?

0 komentar:

Posting Komentar