Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Refleksi 30 September

Menurut kamus umum bahasa Indonesia susunan W.J.S Poerwadarminta, kata ‘sejarah’ bisa diartikan sebagai ‘kejadian atau peristiwa yang benar-benar terjadi di masa lampau’. Dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa sesuatu yang tidak benar-benar terjadi di masa lalu jelas tidak bisa dikategorikan sebagai sebuah sejarah. Lalu bagaimana dengan peristiwa G 30 S yang terjadi 42 tahun yang lalu itu?

Bagi kita yang sempat merasakan hidup di jaman orde baru, pasti masih mengingat prosesi setiap tanggal 30 September, dimana bendera setengah tiang harus dikibarkan di depan setiap rumah, lalu disusul dengan pemutaran film Pemberontakan G 30 S/ PKI yang ditayangkan di televisi nasional atau di lapangan-lapangan kampung kita pada malam harinya.

Segala prosesi itu masih terus berlangsung hingga tumbangnya orde baru dan lahirnya orde reformasi, disebabkan mulai munculnya teori-teori lain tentang G 30 S yang berkembang di masyarakat kita. Jika selama orde baru kebenaran sejarah dimonopoli oleh pemerintah, lain halnya dengan orde reformasi yang membebaskan setiap warga negara menyuarakan aspirasinya. Hingga akhirnya muncul berbagai versi sejarah tentang G 30 S yang menyebutkan bahwa peristiwa tersebut tak hanya didalangi oleh PKI, tapi juga ada pihak-pihak lain yang terlibat.

Sampai detik ini, tak satupun pihak yang bisa membuktikan mana sejarah yang bisa dikatakan sebagai sebuah kebenaran. Dan kita sebagai anak-anak bangsa yang menjadi korban dari segala macam kesimpangsiuran. Bagaimana tidak, jika pihak Depdiknas menghapus kata PKI di teks buku-buku sejarah anak sekolah, Kejaksaan Agung kita justru melancarkan aksi sweeping dan pemusnahan buku-buku tersebut. Dan hal ini menjadi salah satu bukti masih adanya beberapa pihak yang berusaha menghalang-halangi upaya pencarian kebenaran sejarah masa lalu negeri ini.

Terlepas dari itu semua, apakah memang PKI atau ada pihak-pihak lain yang terlibat dalam kejadian berdarah tersebut, harusnya pemerintah kita yang berkuasa saat ini; yang konon menjunjung tinggi azas demokrasi; bersikap lebih netral dalam menyuarakan kebenaran. Jika memang kebenaran sejati; siapa sebenarnya dalang peristiwa tersebut; belum bisa terungkap sampai detik ini, setidaknya kita bisa menyuarakan dengan penuh kejujuran kebenaran yang sudah kita dapatkan saat ini. Jangan hanya menulis di buku sejarah tentang sembilan pahlawan revolusi yang dibantai entah oleh siapa di lubang buaya saja, tapi ceritakan juga tentang berapa ratus ribu jiwa yang meregang nyawa dalam tragedi pembantaian pasca G 30 S yang dilancarkan oleh para tentara dan kaum agama dalam rangka pemusnahan Partai Komunis Indonesia ketika itu.

Percayalah, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah...

0 komentar:

Posting Komentar