Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Agama langit = agama bumi?

Bagaimana sebuah agama bisa dikatakan sebagai agama yang baik? Pertanyaan ini tentu akan mengundang bermacam-macam jawaban, tergantung kepada siapa pertanyaan itu dilontarkan. Tak menutup kemungkinan masing-masing individu akan berlomba-lomba mengatakan bahwa agama yang dianutnya adalah agama yang terbaik sekaligus yang terbenar.

Tentu saja menganggap agama yang dianut adalah sebuah kebaikan dan kebenaran tentu adalah hal yang bisa dimaklumi. Tapi jika persepsi subyektif semacam ini juga melahirkan pemikiran bahwa, karena agama yang dianut adalah satu-satunya kebenaran, maka agama yang lain adalah sesuatu yang tidak benar, tidak baik, dan karena itu para pemeluknya harus kita musuhi, tentu itu menjadi sebuah permasalahan tersendiri bagi kita yang hidup di negeri multikultur semacam Indonesia ini.

Dalam alam multikultur seperti ini, semangat toleransi hendaknya ditumbuhkembangkan dalam masing-masing pribadi. Namun semangat penumbuhkenbangan toleransi ini kadangkala tak mendapat dukungan dari beberapa pihak yang tak menghendaki kita hidup damai dalam alam pluralitas, termasuk para pemuka agama yang masih berpikir menggunakan pakem lama tentang agama dogma. Ilmu perbandingan agama yang harusnya menjadi sebuah keniscayaaan dipelajari ketika kita menginginkan kesejajaran semua umat beragama dalam jenjang yang sama, kadangkala hanya sekedar menjadi ilmu formal yang dipelajari di sekolah-sekolah teologi yang tidak bisa bertindak obyektif, dimana rumus yang berlaku adalah A+B+C=A, yaitu ilmu perbandingan agama yang mempelajari tentang keberadaan agama lain tapi ujung-ujungnya selalu kembali kepada kebenaran mutlak agama yang dianut saja. Dan kadangkala proses pembelajaran semacam ini mengalami dekadensi fungsi dimana proses belajar tak lagi bertujuan untuk menempatkan berbagai macam agama dalam derajat yang sama sebagai sebuah hasil budaya, tapi hanya sekedar mencari kekurangan-kekurangan agama lain untuk dijadikan alat propaganda demi pembenaran atas agama yang dianut.

Belum lagi sistem teologi aqidah yang mewajibkan kita untuk ‘hanya’ mempelajari agama yang dianut dengan menutup mata dan telinga atas keberadaan agama lain yang ada di sekeliling kita. Rumus yang berlaku disini adalah A+A+A=A. Umat beragama semacam ini bisa diibaratkan sebagai umat berkaca mata kuda yang hanya sekedar bisa melihat ke satu arah, tanpa memberikan kesempatan bagi keberadaan otaknya untuk menelaah dan mencoba mempelajari fenomena yang ada di sekitarnya. Keberadaan umat semacam inilah yang melahirkan fundamentalisme dan puritanisame yang mengancam kehidupan keberagaman dan keberagaamaan di bumi ini, karena mereka hanya memandang kebenaran dari satu sudut pandang yang mereka yakini tanpa pernah membuka mata terhadap berbagai pendapat dari golongan lain. Dan yang disesalkan, fenomena pemikiran semacam ini tak hanya menjangkiti umat beragama kita yang berpendidikan rendah saja, melainkan juga dianggap sebagai kebenaran oleh para ulama dan pemuka agama yang mempunyai basis massa kuat, sehingga hal ini akan lebih menumbuhkembangkan fundamentalisme dan semangat totalitarianisme yang semakin mengancam semangat pluralisme di negeri ini.

Belakangan ini ada beberapa pihak yang beranggapan bahwa pluralisme akan mengancam kesucian aqidah sebuah agama. Padahal ketika kita hidup di alam multikultur yang terdiri dari berbagai macam suku, agama, etnis, ras seperti negeri kita ini, semangat ini menjadi sesuatu yang mutlak diperlukan demi menjaga persatuan dan eksistensi sebuah bangsa. Bahkan semangat semacam ini sebenarnya bukan lagi sesuatu yang baru bagi kita. Jauh hari sebelum keberadaan negeri ini, semangat pluralisme sebenarnya sudah menjangkiti para pemimpin di masa lalu. Lihat saja proses akulturasi budaya di masa lalu yang masih bisa kita nikmati saat ini yang mencerminkan semangat saling menghargai perbedaan diantara umat manusia. Lihat bagaimana kesenian wayang dan gamelan yang sebenarnya adalah kebudayaan jawa digunakan oleh para wali untuk mengembangkan islam di negeri ini. Lihat juga alat musik beduk yang saat ini menjadi simbol agama islam yang sebenarnya adalah salah satu alat musik yang berasal dari negeri cina. Belum lagi keberadaan kubah di masjid yang sebenarnya adalah adopsi dari bangunan-bangunan di eropa.

Tapi lihat apa yang ada di negeri tercinta kita saat ini? Masing-masing pihak saling berlomba-lomba untuk memonopoli kebenaran, hingga akhirnya melahirkan kasus kekerasan di Poso, Ambon, Bom Bali, dan; yang belakangan marak di sudut-sudut negeri; kasus kekerasan oleh massa FPI terhadap orang-orang yang dianggap tak menghargai bulan puasa. Dalam kondisi yang semakin mengkhawatirkan semacam ini, hendaknya masing-masing pihak mulai belajar menggunakan kecemerlangan logika dan nurani, hingga bisa berpikir jernih demi mencipta kedamaian bersama. Tak ada salahnya sesekali membuka mata untuk sekedar mencoba memahami seperti apa kebenaran yang dipercayai oleh tetangga atau teman-teman kita. Sehingga yang tercipta adalah rumus A+B+C = A+B+C, dimana meski masing-masing agama berada di ruang lingkup yang sama, masing-masing dari mereka tetaplah menyimpan keunikan tersendiri. Hilangkan buruk sangka bahwa semangat pluralisme semacam ini akan merusak aqidah karena terkesan mencampuradukkan ajaran agama. Karena semua ini hanya bertujuan untuk mencipta kedamaian dimana masing-masing dari kita belajar menempatkan sesuatu di posisi yang semestinya.

Kita sebagai manusia adalah makhluk-makhlik gelisah yang akan terus berusaha mencari apa yang dipercaya sebagai sebuah kebenaran. Dimana dan kebenaran macam apa yang akan ditemukan masing-masing individu, itu semua mutlak adalah sebuah kemerdekaan yang harus terlepas dari intervensi pihak manapun, entah itu orang tua, masyarakat, atau bahkan fatwa agama. Percayalah, bagi kita yang beragama islam pasti akan menjadi semakin islam, ketika kita bisa menghargai dan memahami apakah nasrani itu, apakah hindu itu, apakah budha itu. Dan demikian juga berlaku sebaliknya.

Kembali lagi ke pertanyaan di awal tulisan ini, ‘agama semacam apa yang bisa dikatakan sebagai sebuah agama yang baik?’ Menurut saya agama yang baik adalah agama yang menapak di bumi, yang tidak hanya bicara tentang keindahan istana langit di pedalaman surga atau terus menerus bicara tentang panasnya api di neraka sana. Agama yang baik adalah agama yang mencerdaskan dan bisa memberikan sumbangan solusi atas segala macam permasalahan yang ada di dunia ini, yang akan menjamin kedamaian bagi sesama umat manusia. Karena jika tidak, agama tak lebih menjadi penyakit masyarakat yang hanya mengajarkan umat untuk merenda mimpi di siang hari.

2 komentar:

  1. sejati mengatakan...
     

    Agama Islam banyak meminjam dogma dari agama-agama lain, bahkan dari komunitas yang disebut penyembah berhala atau kafir. Salah satu dogma utama adalah "pengadilan terakhir" yang dipinjam oleh agama Islam dari agama Zoroaster Persia, seperti yang diuraikan secara objektif di artikel ini. Ini situsnya: http://religi.wordpress.com/2007/03/16/agama-langit-dan-agama-bumi/

    AGAMA LANGIT DAN AGAMA BUMI

    Ada berbagai cara menggolongkan agama-agama dunia. Ernst Trults seorang teolog Kristen menggolongkan agama-agama secara vertikal: pada lapisan paling bawah adalah agama-agama suku, pada lapisan kedua adalah agama hukum seperti agama Yahudi dan Islam; pada lapisan ketiga, paling atas adalah agama-agama pembebasan, yaitu Hindu, Buddha dan karena Ernst Trults adalah seorang Kristen, maka agama Kristen adalah puncak dari agama-agama pembebasan ini.

    Ram Swarup, seorang intelektual Hindu dalam bukunya; "Hindu View of Christianity and Islam" menggolongkan agama menjadi agama-agama kenabian (Yahudi, Kristen dan Islam) dan agama-agama spiritualitas Yoga (Hindu dan Buddha) dan mengatakan bahwa agama-agama kenabian bersifat legal dan dogmatik dan dangkal secara spiritual, penuh klaim kebenaran dan yang membawa konflik sepanjang sejarah. Sebaliknya agama-agama Spiritualitas Yoga kaya dan dalam secara spiritualitas dan membawa kedamaian.

    Ada yang menggolongkan agama-agama berdasarkan wilayah dimana agama-agama itu lahir, seperti agama Semitik atau rumpun Yahudi sekarang disebut juga Abrahamik (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama-agama Timur (Hindu, Buddha, Jain, Sikh, Tao, Kong Hu Cu, Sinto).

    Ada pula yang menggolongkan agama sebagai agama langit (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama bumi (Hindu, Buddha, dll.) Penggolongan ini paling disukai oleh orang-orang Kristen dan Islam, karena secara implisit mengandung makna tinggi rendah, yang satu datang dari langit, agama wahyu, buatan Tuhan, yang lain lahir di bumi, buatan manusia. Penggolongan ini akan dibahas secara singkat di bawah ini.

    Agama bumi dan agama langit.

    Dr. H.M. Rasjidi, dalam bab Ketiga bukunya "Empat Kuliyah Agama Islam Untuk Perguruan tinggi" membagi agama-agama ke dalam dua kategori besar, yaitu agama-agama alamiah dan agama-agama samawi. Agama alamiah adalah agama budaya, agama buatan manusia. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Hindu dan Budha. Mengenai agama Hindu Rasjidi mengutip seorang teolog Kristen, Dr. Harun Hadiwiyono, Rektor Sekolah Tinggi Theologia "Duta Wacana" di Yogyakarta sebagai berikut:

    "Sebenarnya agama Hindu itu bukan agama dalam arti yang biasa. Agama Hindu sebenarnya adalah satu bidang keagamaan dan kebudayaan, yang meliputi jaman sejak kira-kira 1500 S.M hingga jaman sekarang. Dalam perjalanannya sepanjang abad-abad itu, agama Hindu berkembang sambil berobah dan terbagi-bagi, sehingga agama ini memiliki ciri yang bermacam-macam, yang oleh penganutnya kadang-kadang diutamakan, tetapi kadang-kadang tidak diindahkan sama sekali. Berhubung karena itu maka Govinda Das mengatakan bahwa agama Hindu itu sesungguhnya adalah satu proses antropologis, yang hanya karena nasib baik yang ironis saja diberi nama agama." 1)

    Samawi artinya langit. Agama samawi adalah agama yang berasal dari Tuhan (yang duduk di kursinya di langit ketujuh, Sky god, kata Gore Vidal). Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Dalam bab Keempat dengan judul "Agama Islam adalah Agama Samawi Terakhir" Rasjidi dengan jelas menunjukkan atau menempatkan Islam sebagai puncak dari agama langit. Hal ini dapat dipahami karena Rasjidi bukan saja seorang guru besar tentang Islam, tetapi juga seorang Muslim yang saleh.

    Bahkan dengan doktrin mansukh, pembatalan, para teolog dan ahli fikih Islam mengklaim, Qur’an sebagai wahyu terakhir telah membatalkan kitab-kitab suci agama-agama sebelumnya (Torah dan Injil).

    Bila Tuhan yang diyakini oleh ketiga agama bersaudara ini adalah satu dan sama, pandangan para teolog Islam adalah logis. Tetapi disini timbul pertanyaan, apakah Tuhan menulis bukunya seperti seorang mahasiswa menulis thesis? Sedikit demi sedikit sesuai dengan informasi yang dikumpulkannya, melalui percobaan dan kesalahan, perbaikan, penambahan pengurangan, buku itu disusun dan disempurnakan secara perlahan-lahan?

    Tetapi ketiga agama ini tidak memuja Tuhan yang satu dan sama. Masing-masing Tuhan ketiga agama ini memiliki asal-usul yang berbeda dan karakter yang berbeda. Yahweh berasal dan ajudan dewa perang, yang kemungkinan berasal dari suku Midian, dan dijadikan satu-satunya Tuhan orang Israel oleh Musa. Jesus salah seorang dari Trinitas, adalah seorang pembaharu agama Yahudi yang diangkat menjadi Tuhan oleh para pendiri Kristen awal. Allah adalah dewa hujan yang setelah digabung dengan dewa-dewa lain orang Arab dijadikan satu-satunya tuhan orang Islam oleh Muhammad. Jadi Yahweh, Trinitas dan Allah adalah tuhan-tuhan yang dibuat manusia. 2) (Lihat Karen Amstrong: A History of God).

    Dan karakter dari masing-masing Tuhan itu sangat berbeda. Ketiganya memang Tuhan pencemburu, tetapi tingkat cemburu mereka berbeda. Yahweh adalah Tuhan pencemburu keras, gampang marah, dan suka menghukumi pengikutnya dengan kejam, tetapi juga suka ikut berperang bersama pengikutnya melawan orang-orang lain, seperti orang Mesir, Philistin dan Canaan. Jesus juga Tuhan pencemburu, tapi berpribadi lembut, ia memiliki banyak rasa kasih, tetapi juga mempunyai neraka yang kejam bagi orang-orang yang tidak percaya padanya. Allah lebih dekat karakternya dengan Yahweh, tetapi bila Yahweh tidak memiliki neraka yang kejam, Allah memilikinya. Di samping itu, bila Yahweh menganggap orang-orang Yahudi sebagai bangsa pilihannya, Allah menganggap orang-orang Yahudi adalah musuh yang paling dibencinya.

    Jadi jelaslah di langit-langit suci agama-agama rumpun Yahudi ini terdapat lima oknum Tuhan yang berbeda-beda, yaitu Yahweh, Trinitas (Roh Kudus, Allah Bapa dan Tuhan Anak atau Jesus) dan Allah Islam. Masing-masing dengan ribuan malaikat dan jinnya.

    Pengakuan terhadap Tuhan yang berbeda-beda tampaknya bisa menyelesaikan masalah soal pembatalan kitab-kitab atau agama-agama sebelumnya oleh agama-agama kemudian atau agama terakhir. Masing-masing Tuhan ini memang menurunkan wahyu yang berbeda, yang hanya berlaku bagi para pengikutnya saja. Satu ajaran atau satu kitab suci tidak perlu membatalkan kitab suci yang lain.

    Tetapi disini timbul masalah lagi. Bagaimana kedudukan bagian-bagian dari Perjanjian Lama yang diterima atau diambil oleh Perjanjian Baru? Bagaimana kedudukan bagian-bagian Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang terdapat di dalam Al-Qur’an? Apakah bagian-bagian itu dipinjam dari Tuhan yang satu oleh Tuhan yang lain, yang ada belakangan? Atau persamaan itu hanya kebetulan? Ataukah para penulis kitab-kitab yang belakangan meminjamnya dari penulis kitab-kitab terdahulu?

    Pembagian agama menjadi agama bumi dan agama langit, dari sudut pandang Hindu sebenarnya tidak menjadi masalah. Ini terkait dengan konsep ketuhanan dari masing-masing agama. Agama-agama Abrahamik atau Rumpun Yahudi (nama yang lebih tepat daripada "agama langit") memandang Tuhan sebagai sosok berpribadi, seperti manusia, yang berdiam di langit (ke tujuh) duduk di atas kursinya, yang dipikul oleh para malaikat. Dari kursinya di langit itu Dia melakukan segala urusan, termasuk antara lain, tetapi tidak terbatas pada, mengatur terbit dan tenggelannya matahari, "menurunkan" wahyu dan lain sebagainya. Dari segi ini benarlah sebutan "agama langit" itu, karena ajarannya diturunkan oleh Tuhannya yang bermukim nun jauh di langit.

    Dalam pandangan agama Hindu, Tuhan bersifat panteistik, yang melingkupi ciptaan (imanen) dan sekaligus di luar ciptaannya (transenden). Menurut pandangan Hindu Tuhan tidak saja lebih besar dari ciptaannya, tetapi juga dekat dengan ciptaannya. Kalau Tuhan hanya ada di satu tempat di langit ketujuh, berarti Ia ada di satu noktah kecil di dalam ciptaannya. Oleh karena itu Dia tidak Mahabesar. Agak mirip dengan pengertian ini, di dalam agama Hindu, dikenal ajaran tentang Avatara, yaitu Tuhan yang menjelma menjadi mahluk, yang lahir dan hidup di bumi – seperti Rama dan Krishna – menyampaikan ajarannya di bumi langsung kepada manusia tanpa perantara.

    Dari segi ini, dikotomi agama langit dan agama bumi tidak ada masalah. Baru menjadi masalah ketika “truth claim” yang menyertai dikotomi ini. Bahwa agama langit lebih tinggi kedudukannya dari agama bumi; karena agama-agama langit sepenuhnya merupakan bikinan Tuhan, yang tentu saja lebih mulia, lebih benar dari agama-agama bumi yang hanya buatan manusia dan bahwa oleh karenanya kebenaran dan keselamatan hanya ada pada mereka. Sedangkan agama-agama lain di luar mereka adalah palsu dan sesat.

    Pandangan "supremasis" ini membawa serta sikap "triumpalis", yaitu bahwa agama-agama yang memonopoli kebenaran Tuhan ini harus menjadikan setiap orang sebagai pengikutnya, menjadikan agamanya satu-satunya agama bagi seluruh umat manusia, dengan cara apapun. Di masa lalu "cara apapun" itu berarti kekerasan, perang, penaklukkan, penjarahan, pemerkosaan dan perbudakan atas nama agama.


    Masalah wahyu

    Apakah wahyu? Wahyu adalah kata-kata Tuhan yang disampaikan kepada umat manusia melalui perantara yang disebut nabi, rasul, prophet. Bagaimana proses penyampaian itu? Bisa disampaikan secara langsung, Tuhan langsung berbicara kepada para perantara itu, atau satu perantara lain, seorang malaikat menyampaikan kepada para nabi; atau melalui inspirasi kepada para penulis kitab suci. Demikian pendapat para pengikut agama-agama rumpun Yahudi.

    Benarkah kitab-kitab agama Yahudi, Kristen dan Islam, sepenuhnya merupakan wahyu Tuhan? Bila benar bahwa kitab-kitab ini sepenuhnya wahyu Tuhan, karena Tuhan Maha Tahu dan Maha Sempurna, maka kitab-kitab ini sepenuhnya sempurna bebas dari kesalahan sekecil apapun. Tetapi Studi kritis terhadap kitab-kitab suci agama-agama Abrahamik menemukan berbagai kesalahan, baik mengenai fakta yang diungkapkan, yang kemudian disebut ilmu pengetahun maupun tata bahasa. Berikut adalah beberapa contoh.


    Pertama, kesalahan mengenai fakta.

    Kitab-suci kitab-suci agama ini, menyatakan bumi ini datar seperti tikar, dan tidak stabil. Supaya bumi tidak goyang atau pergi ke sana kemari, Tuhan memasang tujuh gunung sebagai pasak. Kenyataannya bumi ini bulat seperti bola. Dan sekalipun ada banyak gunung, lebih dari tujuh, bumi tetap saja bergoyang, karena gempat.


    Kedua, kontradiksi-kontradiksi.

    Banyak terdapat kontradiksi-kontradiksi intra maupun antar kitab suci-kitab suci agama-agama ini. Satu contoh tentang anak Abraham yang dikorbankan sebagai bukti ketaatannya kepada Tuhan (Yahweh atau Allah). Bible mengatakan yang hendak dikorbankan adalah Isak, anak Abraham dengan Sarah, istrinya yang sesama Yahudi. Sedangkan Qur’an mengatakan bukan Isak, tetapi Ismail, anak Ibrahamin dengan Hagar, budak Ibrahim yang asal Mesir

    Contoh lain. Bible menganggap Jesus sebagai Tuhan (Putra), sedangkan Al-Qur’an menganggap Jesus (Isa) hanya sebagai nabi, dan bukan pula nabi terakhir yang menyempurnakan wahyu Tuhan.


    Ketiga, kesalahan struktur kalimat atau tata bahasa.

    Di dalam kitab-kitab suci ini terdapat doa-doa, kisah-kisah, berita-berita tentang kegiatan Tuhan, mirip seperti berita surat kabar, yang ditulis oleh seseorang (wartawan) atas seseorang yang lain (dari obyek berita, dalam hal ini Tuhan). Lalu ada kalimat yang merujuk Tuhan sebagai "Aku, Kami, Dia, atau nama-namanya sendiri, seperti Allah, Yahweh, dll". Mengapa Tuhan menunjukkan diriNya dengan Dia, kata ganti ketiga? Kata-kata atau kalimat-kalimat pejoratif seperti Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui ini pastilah dibuat oleh manusia, sebab mustahil rasanya Tuhan memuji-muji dirinya sendiri.


    Keempat, ajaran tentang kekerasan dan kebencian.

    Di dalam kitab-suci kitab-suci agama-agama langit ini banyak terdapat ajaran-ajaran tentang kebencian terhadap komunitas lain, baik karena kebangsaan maupun keyakinan. Di dalam Perjanjian Lama terdapat kebencian terhadap orang Mesir, Philistin, Canaan dll. Di dalam Perjanjian Baru terdapat ajaran kebencian terhadap orang Yahudi dan Roma. Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat kebencian terhadap orang-orang Yahudi, Kristen dan pemeluk agama-agama lain yang dicap kafir secara sepihak. Pertanyaan atas soal ini, betulkah Tuhan menurunkan wahyu kebencian terhadap sekelompok orang yang memujanya dengan cara berbeda-beda, yang mungkin sama baiknya atau bahkan lebih baik secara spiritual? Bukankah akhirnya ajaran-ajaran kebencian ini menjadi sumber kekerasan sepanjang massa?

    Bagaimana mungkin Tuhan yang Maha Bijaksana, Maha Pengasih dan Penyayang menurunkan wahyu kebencian dan kekerasan semacam itu? Di dalam agama Hindu kebencian dan kekerasan adalah sifat-sifat para raksasa, asura dan daitya (demon, devil, atau syaitan).

    Di samping hal-hal tersebut di atas, agama-agama rumpun Yahudi banyak meminjam dogma dari agama-agama lain, bahkan dari komunitas yang mereka sebut penyembah berhala atau kafir. Dogma utama mereka tentang eskatologi seperti hari kiamat, kebangkitan tubuh dan pengadilan terakhir dipinjam oleh agama Yahudi dari agama Zoroaster Persia, lalu diteruskan kepada agama Kristen dan Islam. Legenda tentang penciptaan Adam dipinjam dari leganda tentang penciptaan Promotheus dalam agama Yunani kuno. Bagaimana mungkin tuhan agama langit meminjam ajaran dari agama-agama atau tradisi buatan manusia?

    Swami Dayananda Saraswati (1824-1883), pendiri Arya Samaj, sebuah gerakan pembaruan Hindu, dalam bukunya Satyarth Prakash (Cahaya Kebenaran) membahas Al Kitab dan AI-Qur’an masing-masing di dalam bab XI II dan XIV, dan sampai kepada kesimpulan yang negatif mengenai kedua kitab suci ini. Bahwa kedua kitab suci ini mengandung hal-hal yang patut dikutuk karena mengajarkan kekerasan, ketahyulan dan kesalahan. Ia meningkatkan penderitaan ras manusia dengan membuat manusia menjadi binatang buas, dan mengganggu kedamaian dunia dengan mempropagandakan perang dan dengan menanam bibit perselisihan.

    Apa yang dilakukan oleh Swami Dayananda Saraswati adalah kounter kritik terhadap agama lain atas penghinaan terhadap Hindu yang dilakukan sejak berabad-abad sebelumnya oleh para teolog dan penyebar agama lainnya.


    Kesimpulan.

    Tidak ada kriteria yang disepakati bersama di dalam penggolongan agama-agama. Setiap orang membuat kriterianya sendiri secara semena-mena untuk tujuan meninggikan agamanya dan merendahkan agama orang lain. Hal ini sangat kentara di dalam agama-agama missi yang agresif seperti Kristen dan Islam dimana segala sesuatu dimaksudkan sebagai senjata psikologis bagi upaya-upaya konversi dan proselitasi mereka.

    Di samping itu tidak ada saksi dan bukti untuk memverifikasi dan memfalsifikasi apakah isi suatu kitab suci betul-betul wahyu dari Tuhan atau bukan? Yang dapat dikaji secara obyektif adalah isi atau ajaran yang dikandung kitab suci-kitab suci itu apakah ia sesuai dengan dan mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan, seperti cinta kasih, kesetiaan, ketabahan, rajin bekerja, kejujuran, kebaikan hati atau mengajarkan kebencian dan kekerasan?

    Penggolongan agama-agama menjadi agama langit dan agama bumi, jelas menunjukkan sikap arogansi, sikap merendahkan pihak lain, dan bahkan sikap kebencian yang akhirnya menimbulkan kekerasan bagi pihak yang dipandangnya sesat, menjijikan dan tidak bernilai. Di lain pihak penggolongan ini menimbulkan rasa tersinggung, kemarahan, dan akhirnya kebencian. Bila kebencian bertemu kebencian, hasilnya adalah kekerasan.

    Melihat berbagai cacat dari kitab suci-kitab suci mereka, khususnya ajarannya yang penuh kebencian dan kekerasan, maka isi kitab suci itu tidak datang dari Tuhan, tetapi dari manusia yang belum tercerahkan, apalagi Tuhan-Tuhan mereka adalah buatan manusia.

    Berdasarkan hal-hal tersebut di atas disarankan agar dikotomi agama langit dan agama bumi ini tidak dipergunakan di dalam baik buku pelajaran, wacana keagamaan maupun ilmiah. Dianjurkan agar dipergunakan istilah yang lebih netral, yaitu agama Abrahamik dan agama Timur.

    (Ngakan Putu Putra sebagaian bahan dari SATS ; "Semua Agama Tidak Sama" ).

    Catatan kaki:
    I). Prof . DR. H.M. Rasjidi : "Empat Kuliyah Agama Islam pada Perguruan Tinggi" penerbit Bulan Bintang, Jakarta, cetakan pertama, 1974. hal 10) H.M Rasjidi hal 53
    2). Lihat Karen Amstrong : A History of God
    3). Swami Dayananda Saraswati Satyarth Prakash (Light of Truth), hal 648.
    4). Ibid hal 720.

  2. lintang lanang mengatakan...
     

    terima kasih atas komentarnya saudara sejati... terima kasih juga atas kutipan artikelnya..
    tapi mungkin ada sedikit yang perlu saya garis bawahi disini, bahwa konsepsi 'agama langit' dan 'agama bumi' yang saya maksudkan dalam tulisan saya tidak sama dengan 'agama langit' dan 'agama bumi' yang disebut dalam artikel saudara Ngakan Putu Putra.

    yang saya sebut sebagai agama langit adalah agama yang 'seakan-akan diturunkan dari langit, yang menempatkan keberadaan tuhan ada di atas jauh dari keberadaan manusia, dan sekedar bicara tentang keindahan surga dan kekejaman di neraka, yang karena itu, membuat manusia hidup bukan di dunia yang sebenarnya melainkan di alam imaji.'

    sedangkan agama bumi yang saya maksud adalah 'agama yang membumi, yang menempatkan keberadaan 'tuhan' (dalam tanda petik) di kedalaman hati nurani masing2 individu, dan karena itu bisa dijadikan sebagai panduan dalam mengatasi segala macam permasalahan yang dihadapi di dunia.'

    jadi sekali lagi, konsepsi 'agama bumi & agama langit' dalam tulisan saya sama sekali tidak berorientasi pada penggolongan agama2 seperti yang tertulis di artikel saudara Ngakan.

    saya mohon maaf kalau saya dianggap salah karena membuat sebuah istilah sendiri dalam hal ini. tapi seperti yang sudah saya jelaskan, segala sesuatu yang tertulis di blog ini adalah persepsi diri saya pribadi.

    menanggapi artikel saudara Ngakan, terus terang saya pribadi juga tidak setuju dengan penggolongan "agama langit & agama bumi / agama alamiah & agama samawi' (versi H.M Rasjidi) yang menempatkan golongan pertama lebih tinggi dari golongan yang lain.
    karena saya lebih percaya bahwa agama adalah anak kandung dari sebuah budaya, dan bukan sesuatu yang tiba2 lahir dari rahim langit. dan karena itu, bukan kesalahan jika sebuah 'budaya' lebih memilih untuk berkembang. bukankah kebudayaan memang bukan sesuatu yang harusnya stagnan??

Posting Komentar