Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Transplantasi otak bagi mereka

‘Ditinggal pembantu pulang kampung, Donna-Darius panik. Mereka pilih ngungsi berlebaran daripada menghabiskan waktu di rumah tanpa pembantu. Donna Agnesia berencana menyewa sebuah cottage yang dekat dengan keluarganya. ‘Aku ngungsi ke Sukabumi, ke rumah tante’, ujar Donna di Pantai Karnaval, Ancol, Jakarta Utara, Selasa (24/9). Rencananya dua pembantu Donna akan mulai mudik seminggu sebelum lebaran. Ditinggal pembantu tentu saja pekerjaan rumah jadi bagian Donna. Tapi dia mengaku punya siasat untuk mengatasinya.’

Petikan berita di atas saya temukan tertulis di sebuah sudut harian yang saya baca kemarin sore. Memang amat disayangkan, kemajuan teknologi kedokteran di planet ini belum cukup mampu untuk mengembangkan teknologi transplantasi otak. Sehingga orang-orang semacam yang tertulis di berita tersebut di atas, harus cukup rela untuk menjalani kehidupan dengan kapasitas otak minim yang tak bisa digunakan untuk berbuat apa-apa. Jadi teramat sia-sia kekayaan yang mereka miliki saat ini yang hanya cukup berfungsi sebatas sebagai ‘harta’, tapi tak cukup punya peranan dalam membuat mata hati mereka lebih terbuka dari kebutaan dalam menatap kehidupan.

0 komentar:

Posting Komentar