Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Soliloqui malaikat kiri

Aku pikir sudah terlalu cukup, lengang yang selama berpuluh-puluh abad terakhir ini aku pendam. Sudah tiba waktunya aku untuk teriak dan berontak karena muak. Lelah ini sudah terlalu lama mengkristal, menggumpal di balik remang batin yang selama ini hanya sekedar tunduk menjalankan ritual yang telah terwajibkan, tanpa sekalipun hak untuk sedikit-pun bergerak Ya. Sudah beribu abad lebih telah kulalui hanya dengan sepucuk pena dan selembar daun lontar tempat dimana bisa kutuliskan cela dan dosa anak-anak tanah. Berdiri, bersanding di tiap-tiap sisi kiri tanpa pernah diberi kesempatan bergeser apalagi berharap bisa pergi.

Lelah ini ada bukan karena derita tubuhku yang tiada berkesempatan berjalan-jalan sesuka hati. Bukan. Aku justru lelah karena harus selalu dibingungkan dengan batas suci antara cela-cela yang selama ini dikategorikan sebagai dosa dan prestasi yang berhak atas hadiah pahala. Salah dan benar seakan saudara kembar yang sulit dibedakan dengan nalar. Baik dan buruk sudah tak bisa lagi ditelan mentah secara lumrah.

Pernah suatu kali aku dibingungkan ketika bersanding di sisi ranjang seorang pelacur yang terengah ketika dua kelamin saling mengisi dan terisi. Bukan montok payudara dan lipat paha yang membara yang membuat kemampuan otakku membeku sesaat sedemikian rupa. Tapi haruskah aku mencatat tiap-tiap lenguh nafas, rintihan binal, dan liukan jalang-nya sebagai sebuah dosa, ketika kuketahui semua lendir yang tercecer di kulit-kulit sprei itu hanyalah sebuah perjuangan demi sesuap nasi dan sebotol susu untuk kedua anaknya yang tengah meringkuk di lembab kamar kontrakan? Tanpa ayah. Tanpa selimut.

Lalu apa juga yang harus kulakukan, ketika menemukan sesosok mayat ter-rubung lalat hijau berbelatung, tergolek mesra di tengah-tengah areal sawah dengan luka menganga disekujur tubuhnya setelah dikeroyok dengan bacok oleh orang-orang yang pulang dari tarawih dan kebetulan menemukannya ketika sedang mengendap-endap, mengintai seekor ayam yang dia harapkan bisa dia tukar dengan obat-obatan untuk anaknya yang sedang demam? Siapa yang sebenarnya pendosa?

Dan haruskah kubiarkan saudaraku, sang kanan, menorehkan tinta emasnya mencatat ritual haji berulang kali dan pembangunan istana Tuhan nan megah yang dilakukan seorang menteri, jika aku tahu dengan pasti bahwa semua yang dia lakukan adalah buah-buah hasil panen ladang korupsi?

Pernah suatu waktu kutanyakan hal itu kepada Beliau. Kenapa harus ada mayor yang selalu mendominasi minor, jika ternyata hal itu justru mempengaruhi hukum-hukum kebenaran yang harusnya absolut menjadi maya yang tak terjabarkan? Dan seperti yang lalu-lalu, dengan kelembutan melebihi seorang sufi, Beliau mengatakan jawaban yang sudah kuhafal sejak aku masih bayi, ‘Itu demi sebuah ujian keimanan’, katanya. Lalu ketika itu akupun menyanggah. ‘Kenapa sebuah ujian keimanan harus mengorbankan salah satu dari mereka…? Lalu dimanakah keadilan yang selama ini dikoar-koarkan di dalam kitab-kitab kumalmu wahai Baginda…?’

Dan Beliau-pun bungkam. Menghunus tatapan tertajam yang pernah aku temukan lalu menancapkannya cepat dan tepat di tengah-tengah pusat retina. Meluruhkan nyaliku. Menelanjangi keberanianku. Dan seketika itu juga suaranya yang sedingin telaga kutub menghembus perlahan, mendesis-desis menggerayangi cuping kupingku, ‘Hak-mu adalah diam. Dan kewajiban-mu adalah melakukan apa yang aku titahkan. Hanya itu.’.

Dan akupun redam dalam diam. Tak cukup berani berbantah lagi. Diam yang terlalu lama, memang. Yang kupelihara hingga sekarang, detik dimana kuputuskan untuk berhenti. Untuk pergi. Untuk benar-benar menjadi kiri.

0 komentar:

Posting Komentar