Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Kemarau yang memanjang

‘Ayah sekarang lagi ngapain ya Bunda?’, tanya Resti tanpa mengalihkan matanya dari Barbie yang sejak tadi dia main-mainkan dengan kedua tangan mungilnya. Sejenak wanita itu tercenung mendengar celoteh tanya anaknya, tak terpikir secuil kata-pun untuk bisa menjawabnya. ‘Oh iya… Resti tahu, mungkin sekarang Ayah sedang berenang di telaga madu yang kemarin Bunda ceritakan… bukankah panas-panas begini enaknya berenang? Benar kan Bunda?’, tanya Resti kembali, dan kali ini mata polosnya sudah beralih dari Barbie-nya, menelanjangi wanita itu yang sedari tadi hanya bungkam dalam lengang pura-pura menatap halaman majalah yang dia pegang.

‘Eh.. tapi Bunda, panas disini kan belum tentu panas disana juga… Apa di surga sana juga lagi musim kemarau seperti disini? Atau jangan-jangan di sana lagi musim hujan? Aduh… kalo benar begitu kasihan ayah, gimana nanti kalau ayah kehujanan. Jas hujan ayah kan ditinggal di gudang belakang….’, celoteh Resti yang membuat pelupuk mata wanita itu semakin lama semakin mengembun. Dan baru kali ini dalam seumur hidup, wanita itu membayangkan betapa semuanya akan lebih baik jika anak semata wayangnya itu bisu.



Sudah beberapa jam sejak mentari menarik bias-biasnya dari ujung cakrawala senja, dan sekarang tergantikan oleh jubah malam yang mulai meremang, menghunus sabit yang berkilat-kilat di pelupuk langit bersanding dengan gemintang yang terserak tak beraturan.
‘Ayah sudah tidur belum ya Bunda?’, tanya Resti di samping ibunya dari balik selimut. Menengadah menatap langit-langit kamar yang menyelamatkan mereka dari kelam malam. ‘Resti…’, kata wanita itu lembut. ‘Ayah tidak akan pernah tidur Resti…’. Resti memiringkan tubuhnya menatap ibunya, ‘Apa ayah tidak ngantuk?’.

Wanita itu tersenyum, ‘Tidak…’, katanya kemudian, ‘Ayah tidak akan pernah merasa ngantuk…. Di sana, tak ada lagi yang namanya rasa capek.., ngantuk.., sakit.., dan segala sesuatu rasa yang tidak enak... Yang ada hanyalah rasa gembira dan bahagia… Jadi tidak mungkin ayah merasa capek, meskipun dia berenang seharian di telaga madu yang ada di tengah-tengah pulau itu…. Karena apa Resti? Karena ketika ayah merasa capek, ayah tinggal meminum seteguk madu yang dia selami, dan seketika itu juga ayah pasti akan kembali segar bugar seperti semula. Begitu juga jika ayah lapar, ayah tinggal memetik sebutir kurma yang ada di hampir setiap sisi pulau, lalu memakannya…, dan …Sim Salabim…. ayah akan langsung merasa kenyang….’, kata wanita itu sambil tersenyum membelai rambut ikal anaknya.

Sesaat keduanya terdiam. Seakan memberi kesempatan kepada jengkerik-jengkerik yang ada di luar sana untuk memperdengarkan tembang-tembang sumbang bersahut-sahutan. ‘Kenapa kamu diam anakku?’, tanya wanita itu ketika menemukan anaknya yang hanya diam, tak berisik seperti biasanya.

‘Tuhan tidak adil ya Bunda?’, kata Resti yang membuat wanita itu terkesiap. ‘Lho…, kok Resti ngomong begitu…? Resti ga boleh ngomong begitu… Tuhan itu maha mendengar lho…’.
‘Biar saja’, jawab Resti, ‘Biar saja Tuhan mendengar apa yang Resti ucapkan. Bukankah Dia memang benar-benar tidak adil? Jika Tuhan itu memang Maha Adil, kenapa ayah Resti tak boleh tidur bersama Resti malam ini?’. Dan wanita itu; tetap masih dalam senyum kamuflase yang tetap saja memabukkan; berujar, ‘Resti… semua itu dilakukan Tuhan karena Beliau itu sayaaang sekali dengan ayah Resti… jadi Tuhan merasa harus menempatkan ayah Resti di tempat yang lebih layak… di kerajaan-Nya…’.

‘Jadi Tuhan tidak sayang dengan Bunda?’, tanya Resti kemudian, ‘Tentu saja Tuhan sayang dengan Bunda… juga dengan Resti….’, jawab wanita itu. Dan seketika itu Resti menatap erat kedua bola mata ibunya yang empat bulan ini tak pernah bersih dari mendung yang kelabu. ‘Bunda jangan bohong… jika Tuhan memang benar menyayangi kita, kenapa hanya ayah yang ditempatkan di kerajaan-Nya… dan kita tidak?, kata Resti dengan mata berkaca-kaca, ’Dan kenapa Tuhan malah membiarkan Bunda menangis setiap malam…. ‘, lanjutnya.
Wanita itu terkesiap. ‘Resti tahu semuanya Bunda…’, kata Resti lagi. ‘Resti tahu kalau setiap malam Bunda tak pernah tidur hanya untuk menangis… dan jangan kira Resti tidak tahu alasannya Bunda….’.

Wanita itu redam. Pertahanannya koyak. Tak sanggup lagi menahan sedu sedan yang dari siang tadi ditahan. Dirangkulnya tubuh mungil anaknya, berguncang mencipta derit ranjang yang empat bulan ini selalu diam. ‘Ya… kau benar anakku…. Kau memang sudah terlalu besar untuk tidak mengetahui semuanya…’, kata wanita itu dalam hati.

Dan malam ini wanita itu menangis lagi, melakukan ritual suci yang dia lakukan setiap malam, dalam kepedihan. Pedih yang terlampau perih. Perih yang selalu merintih. Ya. Aku memang tahu dengan pasti segala sesuatu tentang kepedihan yang wanita itu alami saat ini, melebihi dari siapapun yang ada di dunia ini. Karena wanita yang sedang tersedu itu adalah istriku. Istriku-lah wanita yang sedang tersedu itu.

Setidaknya dulu.

2 komentar:

  1. fadilah annisa aulia mengatakan...
     

    Cerita yg indah

  2. fadilah annisa aulia mengatakan...
     

    Cerita yg indah

Posting Komentar