Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Selama bintang itu masih disitu

; sebait ode untuk sore

Seperti Adam yang mendapati Hawa tengah mengulum sebutir khuldi sambil diam-diam berbisik kepada angin di sesela rerumputan. Tapi rasa itu bukan semata kesadaran bahwa apa yang sedang dilakukan sang pasangan itu akan membawa mereka berdua menuju sebuah kesengsaraan. Melainkan lebih kepada sebutir kebahagiaan asing seorang Edison yang untuk pertama kali dalam hidupnya melihat sebuah bola lampu yang mulai berpijar nanar. Sesuatu yang pasti, sebenarnya. Seperti kepastian-kepastian lain yang digariskan tangan dewata. Tapi tetap saja kejadian itu telah berhasil menanamkan sebuah rasa asing yang benar-benar asing dari yang paling asing. Hingga untuk beberapa saat sebuah kegamangan dan kedunguan sempat bertahta mengisi logika.

Bintang namanya. Entah siapa lengkapnya, sampai hari ini tak pernah kuketahui. Dan lagi bagaimana mungkin aku sempat menanyakan hanya sebuah nama, jika tiap-tiap detik yang berdetak merajut rangkaian gerbong waktu tak menyisakan sedikitpun jeda selain untuk mengaguminya? Memang bukan sebuah keindahan sempurna. Dan lagi adakah kesempurnaan dimiliki oleh seorangpun manusia? Tapi setidaknya dia telah berhasil menjelma sesosok dewi yang dari atas kepalanya berpendar sinar keperakan yang gemerlapan tapi anehnya tak pernah menyilaukan, yang menembus selabut tipis gemulung asap tembakau yang kuhembuskan.
Masih kuingat benar hari pertama pertemuan kami. Sebenarnya bukan sesuatu yang istimewa. Teramat jauh dari kata istimewa jika dibandingkan dengan hari pertamaku mengenal puting ibuku yang mengeluarkan air susu, bahkan juga masih jauh jika dibandingkan dengan keistimewaan pengalaman hari pertamaku mengenal bangku sekolah dasar lebih dari tujuhbelas tahun yang lalu.

Di pelupuk senja itu, tiba-tiba saja kutemukan dia tergeletak di sesela bunga kamboja yang terserak di pelataran sebuah candi yang suci tempat dimana aku biasa bersemedi. Aku sendiri tak pernah memahami bagaimana mungkin dia masih hidup ketika itu, dimana kuketahui benar bahwa candi yang dibangun seribu dedemit utusan langit itu tak akan pernah mengijinkan tapak kaki seorang wanita tercetak disitu. Tak terhitung lagi berapa nyawa wanita yang terpaksa melayang dan menghilang ketika mencoba melompati kawat berduri untuk sekedar melihat-lihat atau bertirakat. Ya, memang terlalu kejam. Aku sendiri juga tak pernah memahami apa yang ada di benak para nabi yang memprakarsai pembangunan candi, hingga mereka membiarkan beribu nyawa perawan melayang hanya karena rasa ingin tahu yang menggebu.

Senja itu; ketika langit tak hanya memendarkan warna merah saga yang berbalut sedikit jigga, tapi juga ungu tua… bayangkan, ungu tua….; kutemukan dia tergeletak dengan gaun yang sedikit tersingkap sebatas paha dalam posisi yang benar-benar sempurna. Di sekelilingnya kudapati ratusan bayi-bayi puisi yang mengepakkan sayap mungilnya sambil menjulur-julurkan lidah yang bercahaya. Tak ada darah. Apalagi nanah. Dan ketika kutanyakan pada sebatang ilalang yang sudah lama memilih diam karena terlalu lelah bergoyang, dia hanya berkata, ‘Namanya Bintang…’. Dan ketika kutanya lebih lanjut bagaimana dia bisa berada disitu, dari mana asalnya, dan kenapa dia sama sekali tak terluka, ilalang itu hanya bungkam. Mungkin karena tak tahu atau tak mau tahu, aku juga tak pernah tahu. Yang pasti ilalang itu lebih memilih untuk diam.

Detak-detak waktu di senja itu kulalui dalam kegamangan yang tak kupahami. Tak ada yang benar-benar kulakukan ketika itu selain sesekali mengibaskan tanganku untuk menghalau ratusan bayi-bayi puisi yang sesekali iseng mencoba untuk bisa hinggap. ‘Jangan ganggu dia…’, bentakku. Dan mereka justru tertawa-tawa, ‘Dia milikku…’, kataku mencoba sedikit berbohong. Dan mereka justru terlihat makin tertawa. Dan kejadian itu betulang berkali-kali, hingga karena bosan ditertawakan akhirnya kubiarkan saja mereka hinggap melekat di sekujur tubuh sang bintang sambil sesekali menjilatkan lidah-lidah yang tak pernah lelah membiaskan cahaya itu di sekujur pori kulitnya.

Sambil duduk di atas sebatang kayu yang rubuh karena kekuasaan waktu dengan ditemani sebatang tembakau bakar yang terselip diantara telunjuk dan jari tengahku, terus saja kuikuti dengan ekor mata sesosok tubuh yang tergolek itu. Sesosok tubuh yang kini sudah menjelma menjadi gumpalan cahaya berwarna jingga muda. Hingga akhirnya setelah batang rokok kelima, ketika senja sudah benar-benar tak lagi ada dan hari benar-benar terkalahkan oleh gulita, kulihat tubuh cahaya itu mulai bergerak-gerak. Bayi-bayi puisi itu memekik tertahan sambil mengepakkan sayapnya perlahan. Beterbangan. Dan bintang pun siuman.

‘Siluman….!!’, makiku tertahan. Bagaimana tidak, jika sesobek senyum yang selanjutnya dia tawarkan ternyata sanggup melampaui segala keindahan yang kutemui dalam duapuluh tahun usiaku ketika itu. Benar-benar tak sanggup kutemukan sebuah kosakata dari ribuan bahasa yang mampu menggambarkan senyum itu. Entah, aku sendiri tak ingat lagi, apakah ketika itu aku benar-benar masih tersadar atau sudah mulai mabuk karena terlalu banyak menghirup racun yang menguar dari serbuk-serbuk cahaya bayi-bayi puisi yang masih saja beterbangan diliputi kekaguman yang kini telah mencapai tingkat yang mengerikan.

Harus kuakui, malam itu telah menjadi salah satu dari sekian malam surga yang yang aku miliki hingga saat ini. Karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku telah berhasil tak memejamkan mataku sepanjang malam. Hingga bibir dan telingaku lelah, bahkan memerah karena terus menerus dipaksa bercerita kepadanya dan mendengarkan cerita darinya. Tentang sebuah negeri di tenggara sana tempat dimana kunang-kunang dilahirkan yang dikuasai ratu peri yang baik budi, tentang anak-anak yang berkejaran di sesela rumpun bambu di pepinggiran danau yang berair hijau, tentang ratapan sesobek bulan sabit yang merasa bosan karena selalu dipaksa stagnan oleh Tuhan, tentang seorang penyair tua yang mencoba bunuh diri dengan menancapkan sebilah prosa di dada kirinya karena kehabisan ide cerita, dan tentang semua tentang yang ada.

Mungkin Tuhan pun akan merasa iri jika mampu melihat kebahagiaan yang aku rasakan ketika itu. Bagaimana tidak, jika di malam-malam sebelumnya aku lebih memilih memejamkan mata untuk menjemput mimpi di pelataran candi, mulai saat itu aku benar-benar merasa tak lengkap jika tak melewatkan waktuku untuk tiduran sambil menyandarkan kepalaku di pahanya untuk mendengarkan seribu dongeng yang meluncur bening lewat sesela bibirnya. Bahkan pernah suatu malam kami menghabiskan waktu dengan beterbangan mengelilingi seluruh penjuru langit dengan meminjam sepasang sayap puisi yang baik hati. Dan bahkan gemintang pun sejenak terdiam dan memberi jalan ketika kami melesat sambil tertawa-tawa gembira. Tak terkecuali bulan sabit yang tersenyum sambil berkedip-kedip genit saat menyapa kami, ‘Semoga keabadian adalah milik kalian….’, katanya pelan. Dan kami-pun mengusap lembut bibir rembulan itu, lalu melenting perlahan meneruskan petualangan. Benar-benar sebuah persetubuhan yang tak kenal kata orgasme.

Tapi apa daya manusia? Bukankah sebuah kepastian, jika detik memang harus selalu berdetak? Bukankah semua awal harus berakhir? Dan karena itu bukan sebuah keanehan jika akhirnya kami harus berubah lagi menjadi aku dan dia. Satu harus memecah bukan menjadi masing-masing setengah, melainkan satu dan satu yang lain. Dan kini; lebih dari tiga kali tigaratusenampuluhlima hari; semua itu hidup di alam memori. Tapi bukan berarti aku bertahan untuk sendiri, karena waktu telah berbaik hati memberikan sebutir kerlip yang lain. Bukan bintang memang. Tapi bukankah memang tidak harus bintang? Bahkan yang saat ini aku miliki lebih dari seribu kerlip gemintang yang dicipta dengan kesempurnaan oleh Tuhan.

Selembar kertas ungu dengan tinta emas yang mengeja nama sepasang pengantin senja, yang kuterima dari seorang nenek berjubah biru pada sore yang lalu masih berdiam di atas meja tempatnya semula. Secangkir kopi yang kubuat pun lebih memilih untuk menjadi dingin dihirup angin. Apalagi langit di luar, benar-benar terlalu konsisten untuk tidak akan pernah memberikan sedikitpun gerimis meski hanya berupa rintik untuk sekedar membasahi tenggorokan yang kini kehilangan kata-kata. Bukan kesedihan memang, hanya seperti senja yang secara tiba-tiba bertatap muka dengan sang pagi.

Sebuah kebahagiaan. Tapi asing.

0 komentar:

Posting Komentar