Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Pro kontra calon independen

Sistem rating kuantitatif yang diterapkan oleh lembaga survei AGB Nielsen ternyata tak cukup punya pengaruh bagi beberapa individu tertentu. Effendy Gozali misalnya. Bahkan beberapa kali dia bersama kelompok Republik Mimpi-nya menyerang secara terang-terangan dengan menyatakan bahwa lembaga tersebut tidak bisa dijadikan patokan kualitas sebuah program acara. Termasuk juga Direktur SET Foundation, Garin Nugroho, yang bekerja sama dengan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia yang merasa harus membuat lembaga survei yang menilai sebuah program acara berdasarkan kualitas menggunakan sistem yang mereka sebut sebagai rating publik. Sistem ini diharapkan bisa menjadi sebuah alternatif bagi masyarakat guna melengkapi sistem rating yang sudah ada sebelumnya.

Dan rupanya virus kesadaran ini juga mulai menjangkiti Rossiana Silalahi. Kesimpulan asal-asalan ini saya ambil setelah saya baru saja menikmati program Topik Minggu Ini yang ditayangkan oleh SCTV, yang menurut saya amat sayang karena ditayangkan lewat tengah malam. Sebenarnya acara yang membahas tentang pro dan kontra calon independen ini amat sangat menarik dan dijamin akan bisa mengalahkan program-program yang lain andai saja ditayangkan pada waktu prime time. Bahkan andai saja program yang saya saksikan itu adalah tayangan ulang, masih saja terasa sayang jika harus dibuang ke jam yang sangat larut.

Acara yang menampilkan dua kubu yang saling berseteru ini, diantaranya menampilkan Fadjroel Rochman (pengamat politik), Effendy Gozali (pakar komunikasi UI), Firman Wijaya (Praktisi hukum), Romo Benny (SETARA Institut), Ray Rangkuti (Lingkar Madani Untuk Indonesia), Andrianof Chaniago (praktisi UI), dkk, yang berdiri di pihak yang pro dengan calon calon independen. Sedang kubu yang kontra menghadirkan Budiman Sujatmiko (PDIP), Priyo Budi Santoso (Golkar), Muhammad Syukur Mandar (PDIP), Handoyo Setiawan (PDIP), Tina Tamher (Aktivis jender), dkk.

Selama satu jam lebih, mereka yang bisa digolongkan sebagai orang-orang yang mempunyai kapasitas otak dan pemikiran yang jauh lebih hebat jika dibandingkan dengan sebagian besar rakyat negeri kita ini, saling menyerang secara verbal dan berusaha menangkis serangan-serangan lawan dan sesekali harus kebingungan mencari pembelaan di saat salah mengucapkan satu kata. Amat sangat menarik melihat mereka saling tarik urat berusaha mengekspresikan pemikiran-pemikiran mereka masing-masing, hingga tak jarang dalam satu kesempatan ada lebih dari lima orang yang berteriak-teriak dalam waktu bersamaan.

Terus terang saya salut dengan program acara ini. Acara ini menjadi salah satu bukti bahwa negara kita ini menjunjung tinggi azas demokrasi. Hal itu terlihat dari mereka yang terlibat perdebatan tersebut yang saling berseteru dengan berseru, yang konon bicara dengan mengatasnamakan rakyat banyak. Dan satu hal yang harus dicatat, tak ada darah tertumpah disini. Meski perbedaan pendapat kadangkala meruncing hingga memancing emosi, tetap tidak ada tindakan brutal seperti yang dilakukan laskar-laskar bersorban yang turun ke jalanan karena tak setuju dengan keberadaan satu majalah yang dikategorikan porno atau tindakan pembumihangusan rumah-rumah ibadah Ahmadiyah beberapa waktu yang lampau. Semuanya berlangsung aman meski jauh dari kata tertib.

Terus terang saja saya amat sangat terhibur saat ini. Bagaimana tidak jika selama lebih dari satu jam saya dipaksa tertawa terpingkal-pingkal melihat cara bicara dan ekspresi mereka yang ada di layar kaca. Bahkan menurut saya, semua itu jauh lebih lucu jika dibandingkan dengan Extravaganza dan jauh lebih seru dibanding pertandingan sepak bola liga manapun juga. Tapi yang; baru saja; saya sadari, ternyata sampai acara itu selesai tak ada kata mufakat yang menyatukan dua kubu yang berseteru itu. Wacana masih saja bertahan sebagai wacana. Kebenaran masih saja bernilai relatif, tergantung dari sudut pandang siapa yang melihatnya. Dan satu hal lagi yang lebih pasti, ternyata saya tidak berhasil mendapatkan apa-apa setelah satu jam lebih menikmati acara tadi, karena ternyata otak saya memang terlalu bodoh untuk memahami apa yang sebenarnya mereka bicarakan. Saya baru menyadari; selama tadi saya menikmati layar TV; saya hanya sibuk tertawa-tawa meskipun tidak paham apa yang sedang dibicarakan.

Ya. Bagaimana saya bisa paham, jika intonasi yang mereka ucapkan terlalu cepat dan bernada tinggi, ditambah lagi kadangkala diselipi kosakata-kosakata aneh khas kaum politikus yang mungkin sering saya dengar tetapi tak pernah benar-benar saya pahami. Kadangkala saya sedikit heran, bagaimana bisa kaum-kaum intelektual yang katanya membahas tentang nasib rakyat tapi justru menggunakan bahasa yang tidak merakyat? Lalu rakyat yang mana yang sedang mereka perjuangkan nasibnya? (Atau mungkin jangan-jangan sebenarnya hanya saya satu-satunya rakyat yang bodoh, yang tidak memahami bahasa mereka?)

Jika sudah seperti ini, kadang ada sedikit rasa sesal yang menggumpal di sesela benak saya. Kenapa saya dulu waktu kuliah mengambil jurusan Broadcasting yang semangatnya hanya menyala ketika diserahi tugas membuat film dengan dibekali kamera? Kenapa bukan mengambil jurusan Ilmu Politik biar bisa pinter ngomong seperti mereka? Kenapa juga saya ketika itu justru lebih senang menari sambil membaca puisi di panggung teater kampus, bukannya aktif di BEM dan Senat Mahasiswa biar bisa sedikit belajar politik? Tapi sudahlah, seribu penyesalan tak akan merubah keadaan. Jadi tak perlu disesali juga jika saat ini saya hanya bisa tertawa-tawa saja ketika menikmati acara-acara yang sedikit lebih bermutu seperti yang tadi baru saja saya nikmati.

Setidaknya ada satu nilai positif dari apa yang baru saja saya lakukan, setidaknya saya bisa menepis anggapan sebagian orang yang menganggap saya sudah tak bisa lagi tertawa. Tapi terus terang saja saat ini ada sedikit kekhawatiran yang saat ini mulai mengetuk-ngetuk pintu dada. Jangan-jangan apa yang diperdebatkan para praktisi itu hanya karena mereka bicara tentang tahta dan singgasana? Tentang siapa dan berapa yang akan berkuasa, tapi justru tidak menyentuh persoalan yang lebih mendasar, yaitu KESEJAHTERAAN RAKYAT ?!!

Ya. Yang namanya rakyat tidak butuh yang namanya wacana tai kucing. Mereka saat ini hanya ingin tetap bisa makan agar bisa bertahan hidup. Mereka hanya ingin harga-harga yang melambung itu diturunkan. Mereka hanya ingin sedikit kesejahteraan dan kesetaraan. Para petani hanya ingin berasnya dihargai dengan harga yang wajar. Bahkan mereka tak peduli siapa yang mewakili mereka di parlemen dan siapa yang berkuasa. Apalagi urusan limabelas persen atau tiga persen yang harus dipenuhi calon dari partai atau independen agar bisa bertahta, mereka tidak pernah peduli dengan semua itu. Mereka bukannya anti perubahan atau kemajuan, bukannya pesimis atau apatis, tapi mereka sudah terlalu lelah menghadapi kehidupan yang runyam. Dan lagi bagaimana mereka mau peduli dengan omong kosong itu semua, jika hari ini mereka masih saja disibukkan apa yang harus dimakan anak istrinya besok pagi?

Ingat, rakyat butuh makan. Rakyat punya kehidupan. Dan proletar yang lapar bisa melakukan hal-hal yang di mata umum terlihat tak wajar.

0 komentar:

Posting Komentar