Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Saatnya berubah

Mungkin ada sebagian diantara kita yang menganggap ungkapan Gus Dur beberapa tahun yang lalu sebagai sebuah ungkapan asal ketika mengatakan bahwa DPR tak ubahnya seperti sebuah Taman Kanak-kanak. Namun mungkin saja saat ini kita terpaksa menelan sebuah kekecewaan karena harus meralat persepsi kita, karena apa yang telah diungkapkan mantan presiden kita itu agak-agak sedikit mendekati sebuah kebenaran.

Saya yakin, pasti banyak diantara kita yang mengernyitkan dahi ketika mendengar kekonyolan beberapa anggota DPR kita beberapa waktu yang lalu. Sementara sebagian besar rakyat kita masih saja disibukkan dan dibingungkan dengan tarif tol yang semakin tinggi, harga minyak goreng yang semakin melambung dan tak terjangkau, juga sulitnya mencari minyak tanah karena adanya konversi, beberapa anggota parlemen kita dari komisi A DPR RI justru mempermasalahkan hal yang sebenarnya sama sekali tidak penting untuk diributkan. Yaitu tentang posisi SBY, presiden kita, ketika foto bersama beberapa pemimpin negara lain di Australia ketika berlangsung KTT APEC beberapa waktu yang lalu.

Para wakil rakyat itu menganggap bahwa penempatan posisi SBY di deretan paling belakang itu merupakan salah satu tindakan pelecehan terhadap negeri kita, yang menganggap bahwa bangsa kita ini lebih rendah dibandingkan dengan bangsa lain yang para pemimpinnya berada di deretan depan. Entah virus kebodohan dari mana yang menjangkiti para wakil rakyat kita; yang notabene adalah seorang intelektual yang harusnya mempunyai daya pikir yang lebih hebat jika dibandingkan dengan kaum jelata yang diwakilinya; hingga bisa mengambil sebuah kesimpulan yang sedemikian ngawur dan tidak rasional semacam itu.

Saya tak habis mengerti, apakah dalam kasus seperti ini kita masih harus menyalahkan sistem yang berlaku di negeri kita ini, yang setelah melalui proses bertahun-tahun berhasil dengan sukses merusak pola pikir masyarakat kita yang secara tidak sadar telah membelokkan arti nasionalisme ke dalam lorong-lorong sempit kepicikan semacam ini? Memang sebuah kebenaran, jika jiwa patriotisme dan nasionalisme harus kita tanamkan dalam-dalam di dasar benak kita masing-masing. Dan sudah menjadi kewajiban kita sebagai warga negara untuk menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa. Tapi hal itu bukan berarti kita bisa dengan seenaknya menerjemahkan arti nasionalisme secara membabi buta.

Lihat saja kasus yang menimpa salah satu wasit karate kita yang dianiaya beberapa polisi diraja Malaysia beberapa waktu yang lalu. Sementara pihak Malaysia telah melakukan tindakan hukum dengan menetapkan dan mengamankan beberapa oknum yang terlibat dengan kejadian itu, sebagian besar masyarakat kita justru dengan mulut berbusa berteriak-teriak menganggap apa yang dilakukan para polisi malaysia tidak semata sebagai tindakan kriminal biasa, melainkan sebagai sebuah tindakan yang telah menginjak-injak harkat dan martabat bangsa Indonesia, sehingga permintaan maaf dianggap sebagai sesuatu hal yang lebih berarti dan terkesan lebih vital daripada penegakan supremasi hukum.

Sebenarnya tak perlu kita berteriak-teriak ‘Ganyang Malaysia !!” dengan mulut berbusa-busa jika kita mencoba sedikit memahami permasalahan yang ada secara obyektif tanpa dilandasi ‘dendam pribadi’. Seperti yang kita ketahui, sejak jaman Sukarno sampai sekarang, hubungan kita dengan tetangga kita itu memang seperti pasangan suami istri. Kadang rukun, tapi kadang juga sempat bertengkar hebat karena kasus Ambalat. Bahkan ada sebagian dari kita yang menggampangkan masalah dengan menganggap bahwa Malaysia terlalu memandang rendah dan meremehkan bangsa Indonesia.

Untuk kasus semacam ini, tak ada salahnya jika sesekali kita mencoba melihat dari sudut pandang warga Malaysia terhadap bangsa kita. Kira-kira apa yang ada di benak kita jika selama bertahun-tahun negeri kita terus-menerus dibanjiri ribuan pekerja rumah tangga dari sebuah negara? Apakah kita bisa menjamin bahwa kita tidak akan memberikan stigma negatif terhadap negara pengekspor tenaga kerja yang mau melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dianggap nista dan dihindari sebagian besar rakyat negara kita sendiri?

Bukankah lebih baik jika saat ini kita mulai melakukan tindakan-tindakan yang bisa membuat negeri lain menjadi segan kepada kita, daripada kita mempermasalahkna harkat dan martabat bangsa Indonesia yang kita yakini telah diinjak-injak oleh mereka? Kita tidak mungkin bisa merubah persepsi orang lain terhadap diri kita, tapi kita bisa merubah diri kita sendiri menjadi sesuatu yang lebih baik hingga mencipta persepsi yang berbeda dari mereka.

Memang ada kalanya kita harus mencoba mengenakan kacamata yang berbeda untuk mendapatkan pandangan yang lebih terbuka.

0 komentar:

Posting Komentar