Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Bukan lagi Republik yang merdeka (monolog manusia sistem)

Sekarang dua puluh dua tiga puluh. Masih belum terlalu malam bagiku. Sedikit gerimis masih tersisa diluar jendela, ketika kuhembuskan perlahan asap transparan berbentuk lingkaran dari ujung mulutku yang kumonyongkan. Entah, aku sendiri sudah tak ingat lagi ini batang yang keberapa. Mungkin lima, tapi mungkin juga yang keduapuluhtiga, aku sudah lupa. Atau lebih tepatnya lagi, tak peduli.

Ya, kuakui belakangan ini aku memang terlalu mudah untuk tidak memperdulikan sesuatu. Entahlah, mungkin semua ini dikarenakan lembar-lembar kertas yang dari waktu kewaktu menumpuk semakin tinggi dimeja kerjaku dan menuntut harus kuselesaikan tepat waktu. Tanpa sela. Tanpa jeda. Hingga aku tak lagi punya sedikit sisa waktu untuk sekedar iseng menghitung jumlah batang tembakau yang sudah kutelan kedasar paru-paruku. Memang, harus kuakui semua ini teramat menjemukan. Dan aku sendiri juga harus mengakui bahwa aku sudah bosan. Dari hari kehari melakukan rutinitas yang selalu saja sama, menyatukan shot-shot pendek tentang meja kantor, sekretaris genit, dasi, komputer, kemeja dan semua yang tidak aku suka menjadi sepenggal kisah drama yang tak pernah aku ketahui benar ending-nya. Kecuali satu hal, sedikit gaji di awal bulan yang selalu saja habis setiap tanggal tujuhbelas, hingga membuat mulut istriku yang kucintai sepenuh hati harus mengomel setiap pagi.

Adakalanya ketika aku benar-benar merasakan suatu kesadaran, aku kembali mempertanyakan tentang sedikit kemerdekaan yang kini mungkin saja tersisa. Kini waktu tak lagi memberiku kompromi. Bahkan untuk sekedar menulis sebait puisi untuk istrikupun aku tak lagi diberi hak. Benar-benar pemerkosaan yang liar. Bagaimana tidak liar, jika aku yang sudah dengan penuh keikhlasan dan kerelaan melacurkan diri pada dunia masih saja diperkosa secara paksa. Beramai-ramai pula.

Aku sekarang memang sudah jarang menulis. Entah, memang karena otak kiriku yang sudah mulai membusuk, atau justru pena ini yang sudah terlalu tua hingga tak lagi sanggup bicara, aku tak pernah tahu. Tapi yang jelas, gumpalan tinta itu kini tak lagi sanggup menjelma sperma yang muncrat kedalam gua garba, menelusup dan membasahi rahim logika, lalu mengeraminya hingga terlahir bayi-bayi mungil yang berteriak-teriak tentang sastra, budaya, dunia, agama, atau apapun. Bangsat !!

Sepertinya tubuhku ini memang sudah bukan lagi Republik yang merdeka. Lambat laun kusadari aku sudah semakin mendekati seperti mereka. Sang manusia-manusia sistem. Sistem yang secara perlahan tapi pasti mengubur kita hidup-hidup kedalam liang lahat yang digali oleh waktu dan kondisi sejak jaman dulu, jauh sebelum kita dilahirkan, menjahit liang bibir kita hingga tiada lagi bisa tercipta suara, kecuali kepatuhan untuk mengerjakan apa yang diperintahkan, lalu menempatkan kita kedalam sebuah kamar yang kemudian diadu dengan penghuni kamar lain. Gila !! benar-benar gila !!

Dan pejuang yang sendirian? Bah ! kiasan itu semakin lama semakin terdengar asing, bagai fosil batu tua yang terkubur lumpur sejak berjuta-juta tahun kemarin. “Pejuang itu kini nyaris mati, kawan….. Dia sekarat ..“. Dan sekarang, yang ada hanyalah untai-untai mimpi dan seonggok cerita khayal yang dibisikkan terus menerus mengisi gendang telinga kita , dimana nanti suatu ketika kita akan menjadi presenter, dokter, ahli komputer, manajer, produser atau apalah, yang melenggang ke kantor dengan Mercy keluaran terbaru, dengan kemeja dan dasi kupu-kupu yang dimataku terlihat lucu? Sehelai kain yang diikatkan di pangkal leher tanpa fungsi yang jelas? Tidakkah itu lucu?

Benar-benar dunia yang aneh. Kata merdeka hanyalah slogan busuk yang diteriakkan mulut-mulut kotor manusia sok pahlawan untuk memompa semangat anak buahnya agar berani mati dimedan laga, tapi juga sekaligus memenjarakan jiwa-jiwa mereka di dalam gua tertutup penuh lumut.

Benar-benar sistem yang gila. Bagaimana tidak gila, jika didalam KTP-ku, kartu yang mengidentifikasikanku sebagai warga Negara republik ini, aku dipaksa mengakui diri sebagai pengikut salah satu nabi yang tak satupun aku percayai. Bukankah tidak lebih demokratis jika kolom agama itu dicoret saja?

Bahkan dulu ketika aku mengawini wanita yang sekarang menjadi ibu dari dua anakku, aku dipaksa melafalkan syahadat, kalimat yang tak pernah benar-benar kupahami kebenaran artinya sebagai syarat perkawinanku itu dianggap sah. Padahal calon istriku sendiripun ketika itu menyatakan kerelaan jika aku hanya membacakan sebait puisi karya Sapardi sebagai mas kawinnya.

Ya, mungkin memang hanya istriku yang bisa mengerti aku. Dan karena itu aku dulu mengawininya, meninggalkan beberapa wanita yang menurutku terlalu murah. Pernah suatu kali aku diminta oleh seorang wanita untuk mengalungkan seuntai tasbih sambil mendendangkan kata-kata basmalah sebagai syarat agar aku bisa meminangnya, baru setelah itu aku diijinkan untuk mengecup bibirnya dan menyingkap jilbabnya. Sungguh terlalu mudah (dan murah).

Sebuah kemajuan menuju keterpurukan jika sebuah alasan yang biasa disebut waktu dan kondisi harus memberikan label seolah merk pada tiap-tiap manusia. Menempatkan manusia sederajat dengan celana dalam atau BH. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita semua harus bisa maklum ketika ada seseorang yang bertanya sambil menunjuk hidung kita, ‘Kamu kiri atau kanan?’, atau mungkin, ‘Siapa Tuhan-mu?’.

Apakah label MANUSIA saja tidak pernah cukup untuk memproklamasikan pada dunia, bahwa kita ini bukanlah sejenis belukar yang tumbuh merambat di hutan liar dan hanya salah satu jenis primata yang bernurani dan berlogika, hingga dibalik punggung kita harus ditorehkan huruf-huruf kapital dengan cap dari besi yang panas membara, bertuliskan ‘wong kiri, manusia kanan, Mohammedism, Jesus militant, dan lain-lainnya?

Jika sistem di negeri ini memang menginginkan dan mengharuskan pemberian label semacam itu, sebenarnya aku akan lebih suka jika diberi cap ‘wongasu’. Bukan karena apa-apa, hanya saja sejak kecil aku memang suka dengan anjing. Tapi aku sendiri juga sudah mulai maklum ketika keinginanku itu terpaksa tak bisa terpenuhi. Aku mengerti jika negeri ini sudah tak lagi bisa menghargai inovasi. Sesuatu yang baru atau berkembang dari sesuatu yang sudah ada, tak akan pernah luput dari pandangan negatif keseluruhan sistem. Mayoritas umat manusia di Negara ini sudah tak lagi bisa mengakui perbedaan sabagai kekayaan, dan perkembangan sebagai kelumrahan.

Betapa dangkal dan piciknya logika manusia-manusia kita. Atas dasar apa mereka merasa bisa menjadi Tuhan bagi manusia lain, dan mentahbiskan diri mereka sendiri menjadi sebuah keagungan dan kebenaran mutlak?

Apa yang akan terjadi pada republik ini, jika masyarakat yang sudah terlanjur merasa kuat dan benar bisa mengibarkan bendera jihad pada sesama di tanah kita tercinta ini? Aku pribadi sebenarnya benar-benar tidak rela. Kebenaran macam apa yang bisa kita dapat, jika setiap hari yang kita nikmati hanya program rahasia ilahi? Kebenaran mana yang bisa kita petik dari puisi-puisi sunyi dari santri-santri kecil yang bersuara indah dan pintar berdeklamasi? (Bagaimana mungkin bisa menyuarakan kebenaran sementara cebok sendiri saja masih belepotan?)

Bukankah lebih baik jika kita lebih banyak belajar dari sejarah. Sesekali menengok ke belakang dan mengambil pelajaran dari NAZI Hitler, Kasus Sampit, Perang Salib, G 30 S/PKI (jika memang benar-benar terjadi), dan lain-lainnya?

Sepertinya saat ini kita memang tidak punya hak untuk marah jika kita disebut sebagai keledai. Bukankah hanya keledai yang selalu terperosok dalam lubang yang sama?
‘….La kum diinukum waliyadin...’

Sayup kudengar lantun tadzarus istriku dari kamar belakang. Lagu merdu dari sekuntum bibir yang selalu mengecupku setiap pagi, memberi desah semangat untuk mengawali hari. Ya, seperti malam-malam yang lalu, jam-jam segini dia biasanya memang terbangun untuk tahajud.
Sekarang satu lebih sepuluh. Dan gerimis malam masih saja terus bertahan. Dengan enggan kurapikan kertas yang berserak karena besok harus kubawa ke kantor untuk presentasi. Dengan kemeja. Dan juga dasi.(Dasi…? Benar-benar benda yang aneh….)

0 komentar:

Posting Komentar