Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Renungan Ramadhan

Berbahagialah anda yang masih cukup punya sedikit keberuntungan hingga hari ini masih bisa berjumpa dengan bulan Ramadhan, bulan yang diyakini lebih bermakna lebih dari seribu bulan. Dalam lembaran-lembaran kitab tua telah dijelaskan betapa berharganya bulan ini, satu-satnya rentang waktu dimana semua celah di neraka tertutup dan terkunci, sedangkan semua pintu menuju surga terbuka lebar-lebar untuk kemaslahatan seluruh umat.

Semua janji-janji suci itu terus saja dikumandangkan mulai dari sudut-sudut surau mungil di ujung sebuah kampung sampai masjid super megah dengan emas 24 karat yang bertengger sebagai kubah. Semua keagungan ramadhan itu ‘semakin’ terasa sempurna dengan keberadaan media yang turut berperan serta merayakan pesta pora umat manusia tersebut. Hingga bukan sebuah keanehan jika tiba-tiba artis-artis yang tadinya lebih suka berpenampilan terbuka kini terlihat lebih suci dengan selembar jilbab yang bertengger menutup kepala. Pun juga dengan tayangan-tayangan sinetron di layar kaca yang untuk sementara waktu ini berputar haluan ramai-ramai menayangklan sinema-sinema berbasis religi. Tak terkecuali dengan para musisi kita yang seakan tak mau melewatkan momen dengan merilis album-album yang berisi lagu-lagu dengan syair mendayu tentang keagungan tuhan.

Segala macam kemeriahan itu telah menjadi salah satu bukti bahwa ramadhan adalah benar-benar sebuah bulan yang dirasa bermakna lebih jika dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain. Dan seperti yang lalu-lalu, rupa-rupanya sistem kapital memang belum buta, dimana segala macam peluang untuk bisa mendapatkan berpundi uang tak akan pernah dilewatkan begitu saja dengan berbagai macam cara, termasuk menjual agama di layar kaca.

Satu hal lagi yang kini semakin mengkhawatirkan adalah hakikat puasa yang kini sepertinya semakin mendekati ajalnya. Bagaimana tidak, ketika menahan rasa lapar yang dilakukan mulai dari imsak hingga maghrib kini bukan lagi dilandasi oleh keinginan untuk ikut merasakan derita yang dialami saudara-saudara kita yang papa. Melainkan sebagai sebuah kewajiban dan ritual yang memang harus dilakukan karena telah diwariskan oleh para tetua melalui tuntunan dogma.

Saya mohon maaf jika banyak dari anda yang tersinggung dengan ucapan-ucapan saya, saya tidak bermaksud memukul rata, tapi bagaimana saya bisa menghargai mereka yang melaksanakan ibadah puasa tapi begitu waktu berbuka tiba justru ‘membalas dendam’ dengan makan di tempat-tempat menawarkan makanan dengan harga yang lumayan gila, dan lupa dengan penderitaan yang dialami sesama? Lalu diletakkan dimana hakikat puasa yang digembar-gemborkan oleh para ulama?

Belum lagi dengan kelompok-kelompok masyarakat yang dengan mulut berbusa mengharapkan semua pihak untuk menghormati bulan yang dirasa suci ini. Dengan tidak mempedulikan hukum yang berlaku, mereka melakukan sweeping di tempat-tempat yang dirasa sebagai pusat maksiat. Bagaimana kita bisa memohon sebuah bentuk penghormatan, jika kita sendiri tak bisa meghormati mereka? Bukankah tuhan sendiri memberikan kebebasan sepenuhnya dan tak pernah memaksa umatnya untuk hormat dan tunduk padanya.
Jadi tak usahlah kita ikut-ikutan dengan beberapa front yang berteriak dengan penuh makian dan umpatan memaksa beberapa pengelola berbagai tempat-tempat hiburan malam untuk sementara waktu menutup usahanya demi menghargai umat yang sedang berpuasa. Sedemikian hebatkah kita, hingga kita mengharap semua pihak menghormati apa yang sedang kita lakukan?

Tiap-tiap individu adalah jiwa yang punya kebebasan menentukan apa yang harus dilakukan, karena masing-masing dari meeka pasti punya alas an dalam melakukan sebuah tindakan. Tidakkah para anggota front, polisi, dan satpol PP yang menggerebek hotel-hotel mesum itu tak memahami bahwa dilakukan kapanpun, bulan apapun, yang namanya zina tetap saja melanggar ‘hukum’? Lalu kenapa mereka harus melakukan razia hanya karena alasan bahwa sekarang sedang bulan puasa? Tidakkah ‘orang-orang negara yang terhormat dan maha suci’ itu menyadari, bahwa larangan terhadap PSK untuk ‘menggelar dagangannya’ hari ini, berarti puasa (dalam arti sebenarnya) bagi para PSK dan mungkin juga bagi seluruh anggota keluarganya?

Berhentilah berpikir bahwa tuhan saat ini sedang bertengger jauh di istana langit atau di pedalaman surga sana, hingga kita bisa mengecohnya dengan menjalankan ibadah puasa tapi sekaligus masih juga berkorupsi ria. Tuhan yang sebenarnya tuhan sesungguhnya tak pernah jauh dari keberadaan kita, bersembunyi di antara semak-semak yang bergerumbul di dasar jiwa, tanpa nada tanpa kata. Dan hanya sekedar rasa.

Selamat menunaikan ibadah puasa…

0 komentar:

Posting Komentar