Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Lembayung itu…

‘Lalu apa yang bisa kita lakukan?’, tanyamu.
Dan aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan konyolmu sambil menguliti lembayung yang dari senja tadi tak beranjak dari tempatnya. Disana. Di ufuk sana.
‘Maaf kasihku, jika aku terpaksa menganggap pertanyaanmu terlalu konyol. Bukankah kita sudah teramat memahami, bahwa ada banyak hal yang kita bisa kita lakukan. Berdua. Melebihi apa-apa yang tidak bisa kita lakukan.’, kataku.
Dan kita lalu terdiam. Berkutat dalam hening yang pekat. Hingga bayang-bayang malam melumat.
Disini. Di bukit ini.



‘Tidak!’, katamu. ‘Kita tidak mungkin melakukan itu. Bukankah kita sebagai manusia mempunyai batasan-batasan kemampuan yang tak memungkinkan kita untuk melakukan segala sesuatu yang ada di luar kendali kita?’, sergahmu.
‘Kenapa kau begitu pesimis?’, kataku. ‘Apakah karena saat ini yang duduk di sampingmu adalah aku, yang kau pikir tak memiliki sesuatupun kemampuan untuk melakukan sesuatu, hingga kau harus merasa bahwa kemampuan kita untuk mengalahkan hidup tak lebih besar dari sebutir pasir?’, tanyaku. ‘Maaf kasihku. Jika aku terpaksa menyalahkan apa yang ada di dasar benakmu. Aku memang manusia. Kita memang manusia. Tapi setidaknya aku pikir kitalah manusia-manusia pilihan dengan m kapital. Manusia-manusia terpilih yang berhak untuk memilih, hingga putaran bumi bukan lagi monopoli matahari’.
Dan kitapun terdiam. Lagi. Untuk kesekian kali. Didalam temaram yang kelam. Meski hari belum beranjak ke peraduan malam.



‘Apakah itu keputusanmu?’, tanyaku.
‘Ya.’, katamu. ‘Maafkan aku.’, kau melanjutkan.
Dan kitapun leleh dalam genangan kristal-kristal bening serasa garam yang mengambang di pelupuk mata, lalu mengalir diantara bekas-bekas jerawat hingga terkuburkan di celah bibir yang kini mampat. Entah. Aku memang terlahir sebagai sebuah kebodohan yang tak pernah bisa memahami keputusanmu. Kenapa kita harus terkalahkan oleh keyakinan. Yang dulu nenek kita ciptakan.
Hingga satu hanyalah mimpi seekor asu.

2 komentar:

  1. paryo mengatakan...
     

    hmmm...luar biasa

  2. Sang Lintang Lanang mengatakan...
     

    @ paryo:
    bukan fiksi.. mungkin ramalan.. entah..

Posting Komentar