Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Ketika tak ada yang tak mendung

Sudah lima tahun tak kutemukan mendung yang seperti pagi ini. Sesobek mendung kelabu yang membangkitkan gairah sekaligus mengingatkanku tentang sisa-sisa amarah. Ya. Sejarah itu memang masih terlalu segar tersimpan di pojok gelap kamar memoriku, meski beribu lembar cerita tentang tawa sudah pernah tercipta. Tapi semuanya hanya percuma.
‘Sudahlah Ben......, semuanya sudah berlalu.’, kata Wito, sahabatku, suatu waktu. Dia benar, semua memang sudah berlalu. Bahkan sudah terlalu lama berlalu. Tapi entah kenapa, bagiku semuanya masih terlalu awal, dan selalu saja awal. Yang tak pernah benar-benar akan mengenal akhir. Tidak sekarang, dan sepertinya tidak juga esok.



Sudah lima tahun aku benar-benar tak menemukan mendung yang seperti sekarang. Sekumpulan awan hitam yang mengambang di sepanjang pelupuk hari, tanpa sedikitpun terlihat niat menjelma hujan. Bahkan setetes sekalipun.
Entah dimana Tuhan menyembunyikan semburat jingga sang senja yang beberapa hari ini selalu menemani puntung rokok dan kaleng-kaleng bir-ku disini. Di balik jendela kamarku ini. Jingga itu sekarang tak lagi bertahta di atas sana. Entah. Mungkin tinta warna jingga sedang habis tak bersisa, dan Tuhan belum ada waktu untuk membelinya. (Atau membuatnya? Entahlah. Aku sendiri tak yakin kalau Tuhan bisa membuat apa-apa.) Hingga sekarang yang digoreskan di langit hanya kelabu beku yang selalu mengingatkanku akan memori itu. Memori laknat yang membinasakan sebagian dari hatiku. Bukan menjadi mati. Tapi kelu. Yang lebih mati dari sekedar mati.



‘Ben…, apa salahnya jika kau sedikit realistis?’, kata Wito dari seberang telpon sana. ‘Apakah kau akan membiarkan kematianmu datang dalam kehampaan seperti ini? Semua itu sudah berlalu, kawan. Sudah lima tahun … Bayangkan… Lima tahun… Itu bukan waktu yang sebentar Ben…. Kau harus sadar itu. Sudah waktunya kau hapus segala sesuatu tentang memori itu….’, katanya berceramah. Dan tak ada jawaban yang keluar dari bibirku selain sentuhan lembut jariku di keypad hape. Membunuh mulut sahabatku.



Malam belum terlalu kelam. Dan hanya ada mendung yang diam. Tak ada hujan. Tapi gemuruh badai di benakku sudah tak mungkin lagi untuk diredam. Sudah terlalu liar. Terlalu tak bisa dinalar.
Abstraksi tentang bayang-bayang Izrail yang menyembunyikan panah di balik sepasang sayapnya, yang pernah singgah di pelataran kamarku beberapa waktu yang lalu, memaksaku dengan penuh kesadaran menoreh pergelangan tanganku dengan ujung tajam belati yang lima tahun lalu basah bersimbah darah istri tercintaku.
Kuputus nadiku. Dan tak ada yang tak putus, ketika keputusan telah diputuskan.

0 komentar:

Posting Komentar