Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

DO’A

;…yang terlalu dini untuk mengerti…

Haruskah ada rasa dosa, jika tadi ketika tempias kabut senja mulai menggeramang dalam malam, bait-bait mantra tak pernah sanggup moksa bersama kuncup-kuncup embun menguntai barisan do’a? Ya. Mungkin memang ada sekelumit rasa sesal yang menggumpal jauh disudut relung, tapi apa yang bisa kuperbuat ketika kesadaran dan logika masih saja bertahta tanpa bungkam diatas singgasana? Aku sendiri paham; bahkan mungkin terlalu paham; apa saja arti dari puisi-puisi mati yang kita kumandangkan bersama. Tapi akupun juga teramat memahami diriku yang benar-benar tidak sungguh-sungguh membenarkan apa yang kita lakukan.
Mati adalah sebuah kepastian, yang entah suatu kapan akan meninabobokkan kita di bawah remah-remah tanah, merengkuh jiwa kita dengan sayap-sayapnya lalu menghilangkan ruh kita menuju sebuah ruang tanpa batas, tanpa dinding, tanpa isi atau apapun. Yang menurut menurut penilainku jauh dari yang disebut surga maupun neraka.

Jadi aku pikir aku punya hak untuk marah, ketika ada sedikit orang yang menuduhku tak pernah mau mencoba mengerti dari arti mantra-mantra suci tadi. Aku ini mengerti! (Meski mungkin tidak sepenuhnya). Dan didalam sedikit kemengertianku itu, aku juga mulai memahami kebodohan-kebodohan yang selama ini kita lakukan.

Aku yang bodoh? Ya. Bilang saja justru aku yang memang terlalu bodoh. Karena kuakui, sedetik yang lalu terbersit juga sekelumit pikir di benakku, bahwa memang mungkin saja aku yang salah. Mungkin memang daya nalarku terlalu dangkal untuk sanggup menembus dasar kebenaran sejati yang bersemayam jauh di perut bumi. Tapi apakah bisa dibenarkan, jika kita mulai menumpulkan logika manusia yang harusnya terus diasah hingga menajam, dan justru memperuncing daya imajinasi hingga ke puncak bukit mimpi tertinggi?

Aku bisa saja mengucap Basmalah. Hamdalah. Istighfar. Atau apapun. Aku juga mengerti apa yang termaksud dari lafal-lafal tadi. Tapi apakah ke-bisa-an dan ke-mengerti-an bisa langsung mentahbiskan diriku di dalam jiwaku sendiri, bahwa aku membenarkan arti dari puisi tadi? Aku rasa tidak.

Dan karena itu, kini aku hanya mengulum senyum kecut ketika mereka yang merasa sudah terlalu ‘ahli’ mulai memberondongku dengan gumpalan ceramah, celaan dan juga makian yang ditelingaku terdengar teramat Bull Shit. Dan kini aku juga hanya bisa diam, karena aku menyadari, di mata mereka prinsipku adalah prinsip seorang kafir, dimana bagi mereka darah seorang kafir dihalalkan untuk dituang di medan perang.

Aku diam bukan karena aku ini mengiyakan. Tapi karena aku menghindari konfrontasi yang mungkin saja akan berkelanjutan. Aku tahu, mungkin jika aku meneruskan perdebatan yang kuyakini tak akan pernah bisa berakhir dengan jawaban itu, bisa saja ujung tajam belati akan merobek pangkal tenggorokanku. Atau mungkin saja justru sebaliknya. Pisau tumpul berkarat yang selalu kusimpan dibawah ranjang tidurku setiap malam yang akan menoreh merah di jantung mereka. Dan aku sama sekali tak pernah menginginkan hal itu. Setidaknya di hari ini, hari dimana tepat seribu malam yang lalu, ayahku memberikan desah nafasnya yang terakhir kepada sekumpulan kunang-kunang yang beterbangan di padang ilalang agar selalu bisa menyalakan redup lentera di pucuk ekornya.

Ya. Kuakui aku memang tidak pernah dan tidak akan pernah merasa rugi, ketika kujejakkan kaki di pelataran candi untuk melakukan ritual suci diatas rumput sajadah lalu mengumandangkan sajak-sajak tua dari pujangga-pujangga junjungan kita yang sudah kuhafal sejak aku sekolah dasar. Aku memang tidak akan rugi, jika kulekatkan ujung dahiku untuk bersujud di permukaan tanah, di bawah pepohonan kamboja yang kuncupnya mulai memekar, bersanding dengan nisan putih sewarna salju yang tertutup titik-titik embun berlumut…. Ya. Aku memang tidak akan pernah merasa rugi. Tapi menurutku hidup lebih dari sekedar prinsip ilmu ekonomi yang hanya bicara soal untung atau rugi.

Dan sekarang… jika memang hal seperti inilah yang disebut sebagai do’a ;dan jika aku berhak untuk melafalkannya;, aku hanya ingin diijinkan meminta satu hal. “Semoga belulang ayahku yang kini berserak di bawah remah-remah tanah basah yang memerah mau dan bisa memaafkanku. Karena lantun mantra yang kulagukan tak pernah bisa melebur bersama langit malam tak bergemintang menjadi sejuk gemericik telaga bagi ruh-nya yang kini muspra….. Semoga…….”

0 komentar:

Posting Komentar