Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Antara Raisah dan Wiji Thukul

Obyek yang berbeda tentu saja tak bisa menuntut predikat yang sama meski dari subyek yang sama pula. Diskriminasi semacam ini tentu saja mempunyai alasan-alasan tersendiri yang tidak mungkin bisa dimengerti oleh semua kalangan, mengingat tingkat pemahaman manusia pasti tidak akan pernah bisa sama selain karena kaca mata yang digunakan pun juga berbeda.

Saat ini siapa yang tidak mengenal nama Raisah Ali (5), putri pasangan Ali Said dan Nizmah Mucksin Thalib yang dalam waktu singkat telah menjadi ‘selebritis’ tanpa perlu berakting konyol di sinetron produksi negeri kita. Tragedi penculikan yang dialaminya secara tidak langsung telah melambungkan namanya ke seluruh pelosok negeri ini, mengundang segala macam komentar; entah dari yang berkompeten atau tidak, entah dari yang benar-benar simpati atau sekedar pura-pura; hingga sampai Sang Presiden kita pun merasa harus berkomentar tentang kasus yang menimpa gadis kecil ini.

Dengan berdalih alasan apapun juga, yang namanya tidakan penculikan pastilah tidak dapat dibenarkan. Jadi sesuatu yang wajar jika kita semua; bahkan juga Sang Presiden kita; menghujat aksi para penculik tersebut. Tapi saat ini yang jadi pertanyaan, KENAPA HANYA RAISAH??? Lalu bagaimana dengan WIJI THUKUL, seorang aktivis sekaligus seniman asal Solo yang sejak 1996 hingga detik ini tak diketahui kejelasan nasibnya?! Juga bagaimana dengan para ex-anggota dan simpatisan PKI yang selama berpuluh-puluh tahun tak diketahui keberadaan makamnya?! Jika memang itu dikatakan sudah terlalu lama hingga tak mungkin dilacak lagi, lalu bagaimana dengan para aktivis mahasiswa ‘98 yang tiba-tiba juga menghilang tanpa bekas?

Sudah menjadi sebuah kewajiban bagi insan pers untuk menyuarakan kebenaran. Namun alangkah baiknya jika pemberitaan dilakukan secara obyektif dengan menghindari tendensi menciptakan sensasi. Saya bukan bermaksud skeptis, saya hanya sedikit khawatir jangan-jangan kasus Raisah ini menjadi besar hanya karena dia adalah anak dari ketua HIPMI? Saya justru berandai-andai, bagaimana jika yang diculik itu anak Pak Lasman, tukang tambal ban tetangga saya? Apa Sang Presiden kita juga akan memberikan komentar keprihatinannya dan menghimbau kepada para penculik agar mengembalikan anak Pak Lasman tersebut? Atau semua hanya akan diam saja, seperti sebagian besar dari elit politik kita yang tiba-tiba menjadi bisu ketika ditanya tentang Wiji Thukul dan mendengar angka 98?

Bukan bermaksud tak simpati kepada Raisah, tapi bukankah saat ini masih banyak hal lain yang sama-sama menuntut kejelasan dan penyelesaian? Korban Lapindo, gempa jogja, budaya korupsi warga kita; mulai dari aparat bangsat sampai yang hanya rakyat;, lemahnya kurikulum pendidikan, sarana transportasi yang tak aman, tingkat kesejahteraan warga pinggiran, kesenjangan sosial masyarakat, semakin parahnya sebagian besar media penyiaran kita yang hanya sekedar mengajari tentang cara bermimpi namun tidak dengan cara mewujudkannya?

Bukankah dibanding itu semua kasus Raisah (maaf) bukanlah apa-apa? Selain hanya seorang putri dari ketua HIPMI? Kenapa seekor kutu di ujung lautan tampak jelas di mata kita, sedangkan pesawat adam air yang terdampar di pelupuk mata kita tak pernah kita sadari keberadaannya? Saya yakin, sebenarnya sebagian besar dari kita tidak benar-benar buta dan tuli, melainkan hanya sekedar pura-pura. (Atau jangan-jangan justru ada yang bermimpi agar benar-benar bisa?!)

0 komentar:

Posting Komentar