Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Bubarkan FPI !!!

Kecerdasan emosional dan spiritual memang tidak selalu berbanding lurus dengan kecerdasan intelektual. Maka dari itu belakangan ini berkembang berbagai macam metode dan pelatihan yang mengklaim diri sanggup mendongkrak tingkat dua kecerdasan tersebut. Namun teramat disayangkan sistem kapital mulai berbicara di tingkatan ini, hingga berbagai metode yang ditawarkan tidak bisa dinikmati semua masyarakat kita dikarenakan biaya yang dikenakan untuk mendapatkannya relatif mahal. Sehingga kecerdasan emosional dan spiritual seakan hanya menjadi kebutuhan masyarakat kelas atas saja. Sedangkan masyarakat kelas menengah ke bawah tidak memiliki kesempatan untuk mengasah kecerdasan emosional dan spiritual. Padahal yang disebut sebagai kecerdasan, entah itu intelektual, emosional, dan spiritual sebenarnya adalah hak yang harus dimiliki masing-masing individu tanpa mengenal pangkat, derajat, dan tingkatan sosial.

Entah apa yang ada di benak para anggota FPI yang siang tadi saya lihat di layar televisi sedang melakukan tindakan irrasional dengan merusak gerobak penjual makanan di kota Ciamis. Dengan alasan para penjual makanan itu tidak menghormati bulan ramadhan dengan nekat berjualan, para pembela islam itu merusak bebrapa gerobak penjual makanan dan menganiaya seseorang yang dipercayai sebagai preman yang berusaha menghalang-halangi tindakan anarkis itu.

Segala tindakan anarkisme yang dilakukan itu tak lebih dari sebuah tindakan yang justru menelanjangi tingkat kecerdasan emosi dan spiritual mereka yang jauh di bawah standar kewarasan yang mendekati ketololan. Bagaimana tidak, jika kita semua meyakini bahwa keberadaan agama bertujuan untuk bisa dijadikan sebagai jalan penerang bagi umat manusia yang berkelana di sudut-sudut dunia, ternyata justru dijadikan sebagai pijakan untuk melakukan sebuah tindakan premanisme yang merendahkan derajat tingkat kemanusiaan seseorang.

Seperti yang diyakini sebagian besar dari kita, bahwa ramadhan adalah bulan suci dimana semua celah-celah neraka tak ada satupun yang dibiarkan terbuka, dan sebaliknya, pintu-pintu dan jendela-jendela surga justru dibiarkan terbuka selebar-lebarnya. Dan oleh karena itu banyak diantara kita yang berlomba-lomba untuk melakukan berbagai macam kebaikan demi mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya. Tapi apa yang ternyata justru dilakukan oleh mereka yang menamakan dirinya sebagai para pembela islam itu?! Dengan sikap arogan dan tidak menghargai hukum yang berlaku di negeri ini, seenaknya mereka melakukan sweeping terhadap warung-warung makan yang buka untuk mencari sesuap nasi demi menjaga kelangsungan hidup, lalu mengobrak-abrik dagangannya ditambah dengan menganiaya orang yang berusaha menghalang-halangi perbuatannya. Surat, dalil, atau hadits mana yang menghalalkan tindakan semacam itu?

Seharusnya mereka sebagai orang yang mengklaim diri sebagai umat beragama harusnya tahu dan bisa membedakan mana hal yang bisa dikategorikan sebagai sebuah kebenaran dan mana yang termasuk sebagai sebuah tindakan kebatilan. Saya pribadi memang bukan orang beragama, tapi setidaknya saya tahu bagaimana cara menghargai tiap-tiap keyakinan dan pilihan yang diambil masing-masing orang tanpa berusaha memaksakan kebenaran yang saya yakini kepada orang lain.

Keajaiban dan kesucian bulan ramadhan seharusnya tidak dinodai oleh perbuatan yang mempertontonkan ketololan semacam itu. Tapi harus bagaimana lagi, ketika kecerdasan masing-masing orang tidak bisa disamakan. Ketika agama hanya dipelajari sebatas sebagai sebuah dogma purba yang diturunkan para tetua yang menempatkan tuhan sebagai sesuatu zat yang berada di luar dari keberadaan kita, yang mungkin saat ini sedang berada di singgaana istana langit di kepulauan surga sana, tak mengherankan bila sebagian dari kita beranggapan tuhan tak akan bisa mengetahui apa yang sedang kita lakukan. Ketika kebenaran sejati yang berada jauh di kedalaman hati terutupi oleh ayat-ayat yang dibaca sepenggal demi sepenggal tanpa diselami kebenaran tiap-tiap arti dan kemungkinan yang ada di tiap-tiap hurufnya, ditambah lagi dengan kapasitas otak manusia yang yang tidak sama rata, bukan sesuatu yang mustahil jika belakangan ini semakin marak kebodohan-kebodohan yang diklaim sebagai sebuah kebenaran.

Hanya gerombolan pecundang yang terus saja berkoar-koar menahbiskan diri sebagai satu-satunya pembawa tonggak kebenaran hakiki yang dengan seenaknya memberikan stigma haram di jidat manusia lain. Coba kita pikir dengan nalar, kita-kira lebih berdosa mana menjual sepiring nasi di bulan puasa kepada orang yang mungkin berbeda keyakinan demi menangguk sedikit rejeki, dibandingkan dengan menganiaya seseorang sambil merusak sebuah gerobak makan milik orang lain yang digunakan untuk mencari penghidupan?

Mungkin hal ini adalah hasil dari negara kita yang ambigu. Negara yang berdiri diantara dualisme, dimana kita bukanlah sebuah negara agama, tapi di sisi lain adalah sebuah negara yang menjadikan sila ketuhanan yang maha esa sebagai sila pertama dalam dasar negaranya, sekaligus sebagai sebuah negara dengan penduduk islam terbesar di dunia. Secara tidak langsung, banyaknya jumlah penganut salah satu agama ini akan menjadikan para penganut tersebut merasa menpunyai sebuah kekuasaan lebih dibandingkan dengan penganut kepercayaan lain yang akibatnya adalah tindakan-tindakan tidak menghargai azas demokrasi yang harusnya dijunjung tinggi oleh negara kita. Salah satunya adalah maraknya perda-perda yang berdasar pada syariah islam yang diterapkan di berbagai belahan negeri, seakan hanya umat islam-lah yang hidup di negara ini.

Berbeda halnya dengan turki yang dengan lantang menetapkan diri sebagai negara sekuler yang berusaha untuk tidak mencampur adukkan urusan negara dengan agama. Karena memang keduanya adalah dua hal yang mungkin akan lebih baik jika dipisahkan antara satu dengan yang lain. Dimana negara adalah sebuah institusi modern yang memegang sebuah otoritas penuh yang berhak mengatur tiap-tiap warga negaranya demi kesejahteraan bersama yang akan lebih baik jika terbebas dan netral dari berbagai macam unsur, termasuk agama. Sedangkan agama adalah sebuah tuntunan yang mengatur masing-masing individu dengan sang khalik, yang oleh karena itu bersifat teramat pribadi karena menyangkut hubungan vertikal antara sang umat dengan tuhannya.

Jadi sebenarnya ada satu pilihan lain yang bisa diambil negeri ini dengan menjauhkan agama dari urusan-urusan politik dan kenegaraan. Tapi tak bisa dihindari bahwa saat ini masih ada sebagian masyarakat kita (dan masyarakat islam dunia) yang lebih suka bernostalgian dengan membayangkan kejayaan imperium islam di masa lalu ketika kejayaan kepemimpinan Rassulullah di madinah ataupun khulafa’urrasyidin dan periode umayah, hingga saat ini tak sekedar membayangkan tapi juga sedang berusaha memperjuangkan sistem khilafah agar dimunculkan lagi keberadaannya di muka bumi ini. Hal ini terjadi dikarenakan sebagian besar umat islam saat ini merasa terpinggiran dan terkalahkan oleh kemajuan negara-negara barat, hingga mereka merasa bahwa memang sudah saatnya sistem khilafah dibangkitkan lagi demi kebngkitan umat islam guna menyaingi atau bahkan mengalahkan kemajuan negara-negara barat.

Mungkin memang sudah sifat alami pribadi manusia untuk selalu berusaha menjadi yang lebih unggul dibandingkan dengan yang lain, hingga persaingan dan perseteruan adalah dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Jika memang benar demikian adanya, lalu kapan kita sebagai sama-sama manusia bisa berdiri sejajar di lembah yang sama tinggi, bergandeng tangan untuk berkerja sama membangun kemuliaan sebuah imperium yang jauh lebih mulia dibandingkan dengan semua imperium yang pernah ada di muka bumi ini? Kapan kita bisa menghilangkan segala macam persaingan demi merebut status sebagai yang terbaik guna menciptakan kedamaian bagi seluruh umat manusia di dunia? Lalu kapan juga kita bisa menjadi individu yang dewasa yang bisa saling menghargai antara satu dengan yang lain, hingga peperangan dan perseteruan adalah bagian dari cerita-cerita purba yang tertulis di buku-buku sejarah?

Entahlah…. tapi satu hal yang pasti, ada baiknya jika saat ini pemerintah kita tak menutup mata dengan kasus FPI yang sudah berulang kali terjadi ini, lalu segera mengambil tindakan tegas sesuai hukum yang berlaku terhadap organisasi-organisasi semacam ini. Dan akan lebih baik lagi jika pemerintah mulai memikirkan kemungkinan untuk menempatkan agama dan negara di ruangannya masing-masing tanpa harus dicampuradukan dan dipertemukan di meja perpolitikan negeri ini.
Sekali lagi… Bubarkan FPI !!!

7 komentar:

  1. Saleh Aziz mengatakan...
     

    Kalau melihat organisasi-organisasi Islam seperti FPI, kita perlu bertanya.

    Pertanyaan: Apakah Islam agama teroris?
    Jawaban: Tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk menjadi teroris.

    Tetapi, di dalam Al-Qur'an, ada banyak sekali ayat-ayat yang menggiring umat untuk melakukan hal-hal yang tidak manusiawi, seperti: kekerasan, anarki, poligami dengan 4 istri, anggapan selain muslim adalah orang kafir, dsb. Sikap-sikap tersebut tidak sesuai lagi dengan norma-norma kehidupan masyarakat modern.

    Al-Qur'an dulu diracik waktu jaman tribal, sehingga banyak ayat-ayat yang tidak bisa dimengerti lagi seperti seorang suami diperbolehkan mempunyai istri 4. Dimana mendapatkan angka 4? Kenapa tidak 10, 25 atau bahkan 1000? Dalam hal ini, wanita tidak lagi dianggap sebagai manusia, tapi sebagai benda terhitung dalam satuan, bijian, 2, 3, 4 atau berapa saja. Terus bagaimana sakit hatinya istri yang dimadu (yang selalu lebih tua dan kurang cantik)? Banyak lagi hal-hal yang nonsense seperti ini di Al-Qur'an. Karena semua yang di Al-Qur'an dianggap sebagai kebenaran mutlak (wahyu Tuhan), maka umat muslim hanya menurutinya saja tanpa menggunakan nalar.

    Sedangkan, tidak ada saksi dan bukti untuk memverifikasi dan memfalsifikasi apakah isi Al-Qur’an betul-betul wahyu dari Tuhan atau bukan? Yang dapat dikaji secara obyektif adalah isi atau ajaran yang dikandung Al-Qur’an itu apakah ia sesuai dengan dan mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan, seperti cinta kasih, kesetiaan, ketabahan, rajin bekerja, kejujuran, kebaikan hati atau mengajarkan kebencian dan kekerasan?

    Saat ini, banyak pengemuka muslim yang berusaha menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an supaya menjadi lebih manusiawi. Tapi usaha ini sia-sia saja karena ayat-ayat Al-Qur'an itu semuanya sudah explisit sekali. Sehingga tidak bisa ditawar lagi. Disamping itu, pemuka muslim atau siapa saja yang coba-coba memberi tafsiran yang lebih manusiawi tentang Al-Qur'an pasti mendapatkan ancaman terhadap keselamatan fisiknya.

    Pertanyaan atas soal ini, betulkah Tuhan menurunkan wahyu kebencian terhadap sekelompok orang yang memujanya dengan cara berbeda-beda, yang mungkin sama baiknya atau bahkan lebih baik secara spiritual? Bukankah akhirnya ajaran-ajaran kebencian ini menjadi sumber kekerasan sepanjang massa?

  2. lintang lanang mengatakan...
     

    terima kasih atas komentarnya mas saleh azis.. kebetulan saya sendiri adalah orang yang lebih percaya bahwa agama itu bukan sesuatu yang tiba2 turun dari langit, melainkan anak kandung dari budaya.
    saya yakin, bahwa sebenarnya tak ada satupun agama yang merestui kekerasan. tapi keterbatasan otak manusia saja yang akhirnya melahirkan pemahaman yang keliru tentang sebuah ayat.
    saya memang belum khatam al-quran. tapi saya tahu dan memahami benar, satu ayat yang saya jadikan patokan untuk bertindak. 'la kum diinukum waliyadiin...' bagiku agamaku, bagimu agamamu..

    sekali lagi terima kasih...

  3. Anonim mengatakan...
     

    manusia udah ga perlu lagi agama!Untuk menjadi baik, agama ga dibutuhkan lagi.Untuk masuk surga orang ga perlu beragama.Justru adanya agama membuat orang masuk neraka!Ga cukup agama dan perbuatan2 baik ,amal soleh,sehingga orang masuk sorga!Sebaik apapun anda disepanjang hidup anda,se sholeh apapun anda direntang waktu hidup anda,berapa panjangpun usia saudara ga cukup perbuatan baik membuat orang masuk surga?!Mari kita renungkan ini...Manusia ga mampu menolong dirinya sendiri untuk selalu berbuat baik.Manusia ga bisa menolong dirinya untuk masuk surga..Manusia perlu mendapatkan pertolongan dari pada hanya sekedar beragama.Mungkin agama itu baik,tapi ga terbukti manusia jadi lebih baik dengan memiliki agama.Manusia harus berjuang setengah mati dengan mematuhi berbagai macam aturan2 lahiriah yang membingungkan.Berjuta2 manusia telah terperosok karena memperdalam agama.Mereka semua telah tertipu oleh BAPA SEGALA DUSTA,SI ULAR TUA,..Manusia membutuhkan pertolongan.Manusia perlu dibawa kepada KASIH TUHAN,Manusia perlu dirawat oleh KASIH ANUGERAH TUHAN,..Tuhan menghendaki semua manusia diselamatkan,ini adalah suatu kehendak yang tidak dimiliki oleh Tuhan2 Yang lain,Datanglah maka engkau akan mendapatkan,mintalah maka dia akan memberi,ketuklah maka pintu akan dibukakan..Saya undang anda untuk merenungkan semua ini.Saya memiliki kerinduan akan keselamatan jiwa anda.Saya rindu anda boleh mengenal Tuhan dengan benar dan kepada Tuhan yang Benar.Tuhan memberkati!

  4. anakberbakti mengatakan...
     

    buat saleh aziz, sangat terlihat sekali klo anda termasuk golongan orang yang mudah sekali terpengaruh. Jika media ramai-ramai ngomong A maka anda akan ikut A.
    Al-Qur'an dulu diracik waktu jaman tribal, sehingga banyak ayat-ayat yang tidak bisa dimengerti lagi seperti seorang suami diperbolehkan mempunyai istri 4
    Sebelum islam ada, sesorang lelaki boleh beristri lebih 100, Bahkan boleh menikahi ibunya sendiri(klo ingin tau dalilnya cari aja di google,ntar malah menyakiti agama lain klo dipajang jg disini)

    Saat ini, banyak pengemuka muslim yang berusaha menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an supaya menjadi lebih manusiawi. Tapi usaha ini sia-sia saja karena ayat-ayat Al-Qur'an itu semuanya sudah explisit sekali. Sehingga tidak bisa ditawar lagi. Disamping itu, pemuka muslim atau siapa saja yang coba-coba memberi tafsiran yang lebih manusiawi tentang Al-Qur'an pasti mendapatkan ancaman terhadap keselamatan fisiknya. Bungg, orang yang berhak menafsrkan Al-Quran itu bukan orang sembarangan.Orang hafal Al-Quran aja blom tetentu bisa menafsirkan Al-Quran,sama kayak kamu hapal lagu bahasa inggris tapi gak ngerti maksudnya(tapi ini lebih dari itu).

    kebetulan saya sendiri adalah orang yang lebih percaya bahwa agama itu bukan sesuatu yang tiba2 turun dari langit, melainkan anak kandung dari budaya. Jika ini benar, tentu anda bisa membuat kitab suci baru. Ato sekalian jangan beragama toh cuma budaya saja(agama tidak memaksa anda)
    saya memang belum khatam al-quran. tapi saya tahu dan memahami benar, satu ayat yang saya jadikan patokan untuk bertindak. 'la kum diinukum waliyadiin...' bagiku agamaku, bagimu agamamuIni bener!!! tapi yang di lakukan ahmadia yang gak bener.
    FPI atau Ormas Islam lain gak masalah kok ada nabi lagi setelah Rasulullah Muhamad.ASAL KAMU BUKAN ISLAM, lha ini ngaku Islam tapi gak mau mengakui Muhamad SAW sebagai nabi terahir. Misal agama anda adalah Kristen, trus saya mengaku Kristen juga, punya Injil dan Gereja tetapi menyangkal klo Yesus itu bukan tuhan. Apa orang Kristen akan terima itu???? Jelas ini bukan kebebasan beragama,tapi penodaan agama.ahmadia menodai agama yang sudah ada. Klo saja ahmadia tidak mengaku Islam pasti MUI gak bisa apa-apa karena memang bukan Islam.
    Aku juga bukan pendukung,simpatisan,penggemar FPI tapi klo menodai agama lain aku sama sekali gak setuju. cb kolo amadia mendeklarasikan agama barus misal
    AGAMA: Ahmadia, Kitab Suci:AL-Capede, Tempat Ibadah:Home swet home. Pasti FPI ato Ormas Islam lain Fun-fun aja. dan inilah arti sebenernya:

    bagiku agamaku, bagimu agamamu

    Semoga anda bisa membaca Al-Quran dengan Hatam.

  5. Lintang Lanang mengatakan...
     

    @ anonim:
    Menurut Sigmund Freud, keberadaan agama itu penting ketika masa2 awal peradaban, namun saat ini, agama gagal mengatasi keberadaan fundamentalisme.

    sementara filsuf agnostik Bertrand Russel berkata, kapanpun dan dimanapun, agama tetaplah sesuatu yang berbahaya.

    dan sepertinya, anda termasuk golongan yang lebih setuju pada argumen kedua.

    @ anak berbakti:
    ...Jika ini benar, tentu anda bisa membuat kitab suci baru. Ato sekalian jangan beragama toh cuma budaya saja(agama tidak memaksa anda)...

    anda benar saudara. saya memang sudah lama memutuskan untuk tidak berafiliasi dengan agama apapun. atheis? agnostik? itu kurang begitu penting saya jabarkan. tapi satu hal yang pasti, saya punya tuhan. meski mungkin konsepsinya berbeda dengan kitab anda. (mengenai membuat kitab suci baru, mohon maaf, saya bukan filsuf merangkap novelis.)

    mengenai 'ahmadiyah menodai agama yang sudah ada', mungkin memang bisa saja dikatakan seperti itu. selama kita melihat dari sudut pandang 'agama adalah wahyu langit'. sementara saya pribadi (sekali lagi) percaya bahwa agama adalah anak kandung budaya, dan sesuatu yang amat wajar jika budaya memilih berkembang dan tidak stagnan.

    benarkah jika ahmadiyah tidak mengaku islam, maka FPI dan MUI tidak akan mengganggunya? Kerajaan Tuhan milik Lia Eden adalah salah satu buktinya. tetap saja mereka disebut sesat, meski mengaku sebagai sebuah kepercayaan jenis baru.

    satu hal lagi, sadarkah anda, bahwa saat ini ada banyak 'agama' dalam agama?

    semoga anda tidak sekedar membaca al quran, tapi 'memahaminya'.

  6. kaum miskin mengatakan...
     

    sadar bung, anda islam koq berkelakuan bukan islami. aneh banget kamu.

    kata2 sigmund freud dikutif, jangan keseringan baca2 buku barat bung. sekali-kali lah luangkan waktu baca terjemahan Al'Qur'an dan Al Hadits.

    kasihan kitab itu udah terlalu usang, karena banyak lahir generasi2 muslim seperti ente.

    atau jangan2 anda termasuk jaringan islam liberal.

    kalo benar, berarti semua komentar disini salah sasaran. karena saya juga tahu, orang JIL itu sok pintar dan sok benar ttg apa yang mereka yakini.

    ALLAH MAHA BESAR. dan Rasulullah adalah utusannya terakhir.

    saya setuju dengan opini anak berbakti.

  7. asapkelabu mengatakan...
     

    mungkin banyak yang beranggapan ormas busuk seperti itu adalah wadah bagi orang orang tebuang dan gagal di dunia nyata.dan tantu saja itu benar.dan FPI salah satunya

Posting Komentar