Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Tuhan Yang Maha Instant

Sekarang memang bukan lagi jamannya Sidharta Gautama, dimana proses pencarian Tuhan hanya bisa dilakukan dengan melakukan tapabrata di dalam kebungkaman rimba sembari mempelajari gerak-gerik alam yang sarat akan pesan. Belakangan ini, asalkan tersedia segepok duit di dalam dompet, maka Tuhan dan segala macam kedamaian akan dengan mudah bisa kita dapatkan. Bukan bermaksud memandang rendah sebuah kepercayaan, tapi apa kata yang lebih tepat untuk menggambarkan fenomena yang terjadi belakangan ini?

Di koran, majalah, tabloid, bahkan TV yang ada di sekeliling kita, akan banyak kita temukan berbagai macam iklan murahan yang menawarkan tentang kedamaian yang bisa didapat secara instant. Entah yang mengatasnamakan yoga, meditasi, atau yang katanya metode emotional spiritual tai kucing.

Maaf jika saya terpaksa menggunakan kata murahan untuk menggambarkan sesuatu yang sebenarnya tidak bisa dibilang murah. Tapi; sekali lagi; kata apa yang lebih pantas untuk menggambarkan proyek mega besar yang diterapkan mesin-mesin kapitalis yang memperjualbelikan Tuhan?
Mengingat segala macam kesibukan yang digeluti manusia-manusia yang terseret arus globalisasi yang berlari secepat kilat seperti saat ini, bukan sesuatu hal yang aneh ketika ketenangan dan kedamaian menjadi sesuatu hal yang menjadi sebuah komoditi yang teramat langka.
Dan hal itulah yang menjadikan sebagian dari kita demikian percaya dengan omong kosong yang diumbar para pemilik modal, yang dengan segala macam bujuk rayunya memaksa kita untuk mengikuti terapi-terapi instant demi mendapatkan Tuhan.

Mungkin bagi orang-orang yang pernah bergelut di dunia teater, terapi yang mereka lakukan tak ubahnya latihan rutin yang biasa dilakukan 3 kali dalam seminggu. Dengan kemampuan memadukan teknik olah rasa, imajinasi, konsentrasi, intensitas, dan lain sebagainya, para master ini menggiring para kaum borjuis yang tak memiliki waktu banyak untuk benar-benar mengenal kehidupan untuk masuk ke dalam perangkap yang telah disiapkan.

Bull Sh*t !! Bagaimana mungkin Tuhan akan bersedia datang, ketika kita melakukan terapi di hall-hall hotel berbintang, dan pada saat yang bersamaan banyak diantara kita yang merintih-rintih di luar loby karena kelaparan? Bagaimana Tuhan bisa punya waktu luang untuk menyambangi kita, jika kita hanya menangis-nangis histeris karena diliputi ketakutan akan kematian, tepat ketika saudara-saudara kita harus merelakan sebagian besar dari hartanya terkubur lumpur yang terus-terusan menyembur?

Buku-buku Gibran dan Anand Khrisna yang banyak memuat aporisma tentang hidup dan kehidupan demikian laris diborong oleh para pencari kedamaian. Tak sedikit pula diantara mereka yang mengutip salah satu ungkapan favorit untuk sekedar ditulis di buku harian, bahkan ada yang sampai menulis dengan tinta warna merah muda untuk dipajang di pojok kamar di balik jendela.
Segala macam kedamaian yang ditawarkan sebenarnya hanyalah topeng demi mengisi rekening-rekening para pengusaha, dan tak lebih dari sekedar sampah serapah yang dijejalkan mulut-mulut kapitalis yang sakit parah. Bagaimana mungkin Tuhan yang sebenarnya bisa dibeli dengan harga sebegitu murah?

‘Tuhan yang sebenarnya Tuhan’ tak akan pernah cukup jika hanya dibeli dengan satu atau dua juta keping rupiah. Karena Tuhan yang paling hakiki hanya bisa kita temukan ketika kita merasakan dera luka, ketika kita terkapar, terinjak dalam deras arus kehidupan yang melumat setiap persendian tubuh dan jiwa, hingga titik dimana kita benar-benar mencapai sebuah kesadaran yang bertahta stagnan.
Bukan mimpi. Apalagi imajinasi.

0 komentar:

Posting Komentar