Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

The Heaven

Betapa ternyata uang begitu berkuasa. Hal itulah yang saat ini sedang berkecamuk di dalam benak saya. Bagaimana tidak, jika baru beberapa menit yang lalu saya lihat di layar kaca, seorang ibu-ibu ; yang menurut saya, setidaknya sudah pernah melahirkan 4 orang anak manusia ke muka dunia ; melakukan tindakan yang dimata saya terlihat begitu ‘gila’, dengan menari-nari dan berteriak-teriak tak karuan ketika terlibat tawar menawar jumlah rupiah dengan Nico Siahaan, si pemandu permainan.

Ya. Saya sendiri mengakui, bahwa tak ada satu orangpun yang tidak membutuhkan uang. Untuk hidup, memang membutuhkan materi. Dengan kata lain, materi adalah sarana untuk bisa memperpanjang usia dan menunda kekalahan kita; kalau bahasanya Eyang Chairil Anwar. Tapi haruskah sesuatu yang sebenarnya hanyalah sekedar ‘sarana’ justru ditempatkan pada tahta tertinggi dari kehidupan kita? Yang justru menjadi raja dari tiap-tiap langkah kita dan membelenggu kemerdekaan kita untuk menemukan surga? Hingga kita rela menjual jiwa demi dirinya?

Saya tak pernah habis pikir dengan pola pikir manusia-manusia semacam itu. Memang saya akui, bahwa saya sendiri juga membutuhkan uang. Tapi untungnya, kebutuhan saya pribadi ;saat ini; tidaklah terlalu muluk-muluk, sehingga saya tidak harus melakukan tindakan-tindakan gila irrasional dengan menari-nari dan ketawa-tawa ketika ditawari sekarung duit di depan mata saya. Karena menurut saya tiap-tiap manusia adalah tuhan bagi dirinya sendiri. Dan sebuah kebodohan tingkat kronis jika ternyata justru pundi-pundi uang yang kita tempatkan diatas kemuliaan singgasana untuk kita puja seperti dewa.

Saya jadi teringat kata-kata yang pernah dilontarkan salah seorang sahabat saya waktu dulu, ketika saya masih hidup di dunia saya. Teater. Ketika itu, saya dan beberapa teman tidur di sanggar teater setelah mementaskan satu buah repertoar pada suatu malam. Bisa dibayangkan jika sebuah ruangan sempit berukuran tak lebih dari 4 x 4 meter diisi lebih dari sepuluh orang. Dan ketika itu, sahabat saya berujar di dalam ringkuk dan kantuk-nya, ‘Ternyata manusia hidup itu mudah ya…. Hanya cukup membutuhkan kamar tak lebih dari 1 x 1 meter untuk dipakai tidur… toh makan sehari sekali juga tidak akan mati…’. Kalimat itu masih saja terus terngiang di gendang telinga saya. Bahkan sampai saat ini.

Ya. Saya sendiri mengiyakan pendapat teman saya itu. Bahwa sebenarnya yang diperlukan manusia untuk hidup tidaklah terlalu mahal. Saya tidak pernah membutuhkan mobil. Toh saya punya dua kaki yang masih bisa dipakai berlari. Saya juga tidak membutuhkan televisi. Toh saya juga hanya akan bertambah bodoh jika terus-terusan dipaksa menonton program Rahasia Ilahi, lomba deklamasi Pildacil, sinetron-sinetron busuk penjual mimpi, dan lawakan-lawakan konyol dari para komedian yang hanya bisa membuat orang tertawa dengan saling mengejek antara satu dengan yang lain. Dan saya juga tidak membutuhkan kulkas. Karena saya masih bisa membeli es dawet yang dijual di pinggir-pinggir jalan. Kalo ha-pe? Apalagi… toh ha-pe yang saat ini saya pakai tidak pernah berfungsi maksimal. Karena tiap hari ha-pe saya hanya berbunyi jika pacar saya sedang digelayuti rasa rindu yang menggebu. Dan waktu dia ;atau saya; tidak sedang kangen? Ya bisa dipastikan ha-pe saya ini lebih banyak memilih untuk diam. Lalu kenapa banyak diantara kita yang merasa amat sangat membutuhkan itu semua, jika sebenarnya kita tidaklah terlalu membutuhkan hal-hal tidak seperti itu untuk bisa hidup?

Benar apa yang dibilang teman saya. Sebenarnya untuk hidup tidaklah mahal. Cukup dengan makan sekali sehari kita tidak akan pernah mati. Untuk tidurpun kita juga tidak harus beralas spring bed yang tingginya 1 meter diatas permukaan lantai. Lalu sebenarnya apa yang salah dari diri kita? Nafsu. Ya. Selama ini kita memang terlalu bodoh karena telah sekian lama membiarkan nafsu menjajah negeri kita yang harusnya merdeka. Nafsu-lah yang telah menguasai sebagian besar dari ruangan otak kita yang akhirnya memutar balikkan pola pikir kita, manusia-manusia yang katanya hidup di jaman modern, tapi justru berpikir lebih parah dari manusia purba. Dan semua kebobrokan itu, semakin sempurna ketika ditambah dengan dukungan dari media. Kaki tangan kapitalisme yang paling setia. Yang dengan daya pikatnya terus menerus menjejali sebagian besar otak kita ;yang kebanyakan memang kosong melompong;, dengan dogma-dogma gila yang menyatakan bahwa kata ‘sukses’ adalah identik dengan materi. Sehingga banyak diantara kita yang dengan rela menjual jiwa demi segepok duit. Seonggok mobil. Dan sepotong mesin cuci. He he…

Entahlah. Saya sendiri sekarang justru jadi semakin bingung. Apakah memang mereka yang gila, atau justru saya yang terlalu bodoh untuk bisa memahami apa yang disebut realita? Tapi menurut saya, sesuatu yang paling membahagiakan dari hidup adalah rasa nyaman. Untuk apa kita menimbun berkeping-keping uang dan kekayaan, jika ternyata kita terus-terusan dikejar-kejar rasa kurang? Karena apa yang disebut sebagai nafsu tidak akan pernah merasa cukup. Kita mungkin mampu membeli sepeda, tapi suatu saat kita pasti menginginkan motor. Kita mampu beli motor, suatu waktu pasti kita menginginkan mobil. Kita punya mobil, nafsu-pun juga akan terus-terusan berbisik dan memaksa kita untuk membeli yang lebih lagi. Dan lagi, lagi, lagi… tak akan pernah berhenti. Dan jika hal itu yang sampai terjadi, darimana kita akan mendapatkan rasa nyaman?

Kalau saya pribadi kok tidak muluk-muluk. Saya hanya punya impian, suatu hari nanti tinggal di pedesaan, punya rumah kecil di pinggir sawah ;yang belum tentu sawah saya pribadi;, dan lebih seneng lagi kalau di pinggir danau, hidup sederhana sama istri saya tercinta dan anak-anak saya dari hasil kebun belakang rumah. Tidak perlu nonton bioskop mahal untuk dapet hiburan. Cukup baca puisi sambil menari di bawah temaram senthir yang menempel di tiang pendopo depan rumah saja sudah cukup menghibur hati. Tiap malam bulan purnama, bercengkerama sama istri diiringi alunan suara jengkerik dan kodok yang bersahut-sahutan sehabis hujan. Ditambah sebatang rokok kretek, segelas kopi, dan alunan tembang kutut manggung yang melenggang dalam lengang…. He he… itu baru heaven…. Itu baru merdeka….

0 komentar:

Posting Komentar