Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

seorang anak yang terlahir dari rahim waktu masa lalu

Butir-butir salju yang sekian lama telah menghuni cangkir kopiku kusadari sudah terlalu jauh dengan warna biru,
Tapi apa daya kita, ketika jejak-jejak langkah;
yang sekian lama selalu saja dijadikan kambing hitam atas segala macam kecerobohan;
ternyata tak cukup sanggup mengantarkan jasad kita ke dalam kedamaian?

Mungkin memang benar lelagu yang dulu dijeritkan teman sepermainan kita sewaktu kita masih terlalu kecil;
ketika kita masih belum punya cukup rasa malu, hingga tak perlu menangkupkan telapak tangan untuk menutup kelamin kita yang mulai menguncup ketika bermain kejar-kejaran di bawah naungan hujan dengan telanjang,
bahwa negeri yang slalu mengganggu tidur siang kita dalam mimpi-mimpi kemarin dan yang akan datang, adalah rumah malaikat yang dibangun dari lelehan coklat bertabur penat, di lereng sebuah bukit yang penuh sesak dengan semak perdu dan perkebunan ganja yang sudah siap panen, dengan gemericik air susu yang mengalir di sesela bebatuan ungu,
…dan mungkin memang benar bahwa lembah kita;
yang dulu sering kita lukis di atas sprei dan selimut bergambar bunga matahari berwarna jingga ketika reruntuh hujan mulai terjatuh;
ternyata tak lebih dari sekedar halusinasi anak-anak yang terlahir jauh di kemudian hari ketika waktu sudah teramat dekat dengan sesuatu yang bernama mati,

maka dari itu kawanku…, tiada salahnya jika kita pagi ini terpaksa merasa tak lagi muda, karena sang waktu ternyata memang sudah lama terlanjur binasa.

0 komentar:

Posting Komentar