Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

PANGGUNG

-1
(tentang kakek tua yang terduduk di sebuah senja akhir maret 2005)

Entah berapa senja kau sudah berdiam disana kakek tua
Sebungkam nisan berpayung redup gerimis dan sinar merkuri yang berpendar pelan mengusap guratan-guratan keriput kulit wajah yang menjadi saksi perjuangan kehidupan mencari sesuap makan,
Tahukah kau wahai kakek tua, bahwa diam dan bungkam tak akan pernah merubah keadaan?
Jadi menarilah dan tersenyumlah…, tertawalah…
Tapi jangan pernah sekali-kali kau mencoba menyalahkan tuhan yang tak mungkin pernah salah;
Hanya karena kau anggap beliau lupa dengan apa yang pernah beliau perbuat bertahun-tahun lalu, Yang dengan iseng menciptakan dirimu beserta dengan seluruh penderitaanmu;
Jadi wahai engkau sang kakek tua di sebuah senja, teruslah menari dan tertawa dengan gembira,
dan aku jamin kau akan mendapatkan sesuap makan seperti apa yang kau harapkan,
atau setidaknya sekotak lahan makam yang sedikit lebih cepat datang.

-2
(tentang gadis kecil yang menelusup diantara rodaroda di sebuah senja juni 2007)

Mungkin dulu kau salah menunjuk, ketika tuhan membebaskanmu memilih satu diantara banyak rahim yang nantinya akan kau gunakan sebagai kepompong;
tempat dimana disana kau akan berevolusi selama sembilan bulan sepuluh hari, bermula dari sekedar gumpalan kecil sperma dan sel telur hingga akhirnya menjelma menjadi sesosok jabang bayi berkulit merah berselimut darah;
jadi jangan pernah sekali-kali kau salahkan tuhan, jika senja ini;
ketika anak-anak lain seusiamu duduk di depan tivi menikmati tingkah polah sponge bob yang tertawa-tawa kebingungan karena kehilangan sedikit warna kuningnya, dan beberapa anak lain sedang duduk manis bersama mamapapanya di sebuah gerai kentucky fried chicken yang sejuk karena ada air conditioner di sepanjang dindingnya, menunggu gorengan ayam dan kentang pesanan datang, yang nanti akan dia nikmati dengan sedikit dicolekkan ke saus tomat merah sewarna darah, dan tak lupa juga segelas besar cocacola dingin yang nanti akan membantu menggelontorkan gumpalan daging, semisal kalau-kalau saja gumpalan daging itu tersangkut di tenggorokan;
kau justru menelusup diantara tempias sinar merkuri dan gumpalan-gumpalan asap kendaraan di jalanan, dengan menengadahkan tangan kepada para pelintas jalan ketika lampu itu menyala merah;
dengan tak lupa kau pasang di wajahmu seraut topeng kejujuran yang menampakkan wajah kelaparan…;
jadi jangan pernah sekali-kali kau salahkan tuhan, jika kau tahu bahwa semua ini adalah karena salahmu sendiri; dulu; ketika tiada sengaja memilih rahim seorang pengemis sebagai ruang untuk bermetamorfosis.

0 komentar:

Posting Komentar