Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Mengapa kita hisap ganja sama-sama di hari kemerdekaan kita?

Sepeti tahun-tahun yang telah berlalu, prosesi perayaan hari kemerdekaan kita masih saja dihiasi dengan berbagai macam pesta hura-hura. Mulai dari tingkat RT hingga nasional semuanya merayakan dengan cara yang hampir sama. Dari lomba balap karung, perang bantal, panjat pinang, makan kerupuk, hingga pentas musik dangdut yang menyuguhkan goyangan pengundang birahi dari artis-artis ibu kota.

Bukan bermaksud menyalahkan keadaan; apalagi masa lalu; tapi sepertinya fenomena ini adalah hasil kerja keras dari sebuah orde yang pernah berjaya di suatu masa yang telah lalu, dimana keseragaman adalah suatu kesempurnaan yang menjadi sebuah keharusan, hingga pembangunan gapura yang menghabiskan dana berjuta-juta, berbagai macam perlombaan yang diperuntukkan untuk berbagai macam usia, hingga pesta hari kemerdekaan yang digelar semalam suntuk, adalah sesuatu yang dianggap sebagai sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan, hingga ekspresi nasionalisme seakan hanya bisa diwujudkan dengan cara-cara tersebut.

Tapi rupanya aksioma ini tak berlaku bagi beberapa kawan seniman di Jogja yang menggelar pameran lukisan bertajuk ‘Ilusi-ilusi Nasionalisme’ di Jogja Gallery yang digelar untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia sekaligus mengenang 200 tahun Pelopor Seni Lukis Modern Indonesia, Raden Saleh Syarif Bustaman. Acara yang digelar hingga Minggu (9/9) ini seakan menjadi antitesis dari keseragaman perayaan kemerdekaan yang digelar di pelosok-pelosok negeri ini. Para seniman ini seakan ingin berteriak dengan lantang bahwa perayaan hari proklamasi tak pernah sekalipun mengharuskan kita untuk melakukan ritual-ritual dengan penuh tawa dan canda, apalagi ketika bangsa ini membutuhkan perenungan diri. Mereka seakan ingin mengajak kita untuk berdiam sejenak di sudut-sudut galeri yang sunyi untuk sejenak merenung, demi memahami arti sebenarnya dari kemerdekaan, perjuangan, dan juga kehidupan.

Mungkin memang berat bagi kita semua untuk mengakui bahwa negeri kita ini sedang sakit. Tapi itulah keadaannya saat ini. Lihat saja para birokrat kita; mulai dari tingkat terendah hingga tertinggi; yang tak segan untuk melakukan korupsi dan kolusi, lihat juga para korban bencana yang hingga detik ini masih bertahan hidup di tenda-tenda pengungsian tanpa kejelasan nasib, lihat para gelandangan dan PKL yang terpaksa bermain kucing-kucingan dengan aparat keamanan; hingga seakan mereka tak berhak tinggal di negeri tercinta ini, bahkan mungkin juga di bumi ini; lihat Komunitas Air Mata Guru yang seharusnya ditahbiskan sebagai pahlawan namun justru ditempatkan di posisi pecundang, dan lihat juga arogansi aparat bersenjata yang bebas mengacung-acungkan moncong senjata kepada siapa saja; termasuk kepada jidat rakyat yang harusnya mereka bela. Apa semua gejala ini masih kurang untuk membuktikan bahwa negeri kita ini sudah kronis?

Jika anda masih menganggap semua ini bukan; atau belum; bisa menjelaskan seberapa parah penyakit bangsa ini, coba anda tanya kepada mereka, anak-anak tokoh PKI yang hingga saat ini masih terstigma negatif seakan penderita lepra; meski ketika peristiwa kelam itu terjadi mereka masih belajar mengeja kata-kata; tanyakan juga kepada jasad-jasad korban penembakan peluru tentara yang kini tinggal setumpuk belulang di belukar tanah merah, dan tanyakan juga kepada kawan-kawan kita yang terlahir sebagai keturunan cina; yang hingga detik ini masih saja terdiskriminasi. Bahkan siang tadi saya sempat mengumpat, ketika menemukan sebuah berita yang mengatakan bahwa di tahun 2007 ini; dimana negeri kita sudah 62 kali mengelilingi matahari, bayangkan… ENAM PULUH DUA kali !!; masih saja ada kolom di akte kelahiran yang mengelompokkan orang sesuai dengan keturunan, apakah mereka termasuk golongan Eropa (Staatsblad 1849), China dan timur jauh (Staatsblad 1917), Indonesia (Staatsblad 1920), atau Indonesia Nasrani (Staatsblad 1933). Coba anda bayangkan, di negeri yang konon menjunjung tinggi demokrasi ini ternyata masih saja ada sisa-sisa fasisme yang memandang manusia bukan dari hasil kerja kerasnya atau karyanya, tapi dari rahim siapa dia dilahirkan.

Beberapa hari yang lalu saya sempat merenung beberapa saat setelah menikmati sebuah sajian di televisi yang memperlihatkan Ki Gaura Mancacarito; seorang dalang wayang kulit yang asli dari Jerman; dan juga Michio; seorang penari jawa asli jepang; yang dua-duanya kini tinggal di kota Solo. Bukankah hal ini membuktikan bahwa keindonesiaan seseorang tak bisa hanya sekedar dilihat dari rahim siapa kita dilahirkan. Bahwa merah putih seseorang tak cukup bisa diterawang dari apa warna kulit kita, pun juga apa agama kita. Tentu kita cukup mengenal sosok Soe Hok Gie; seorang pejuang sebenarnya yang terpaksa harus mati muda; yang tak usah diragukan lagi keindonesiaannya meski dia keturunan cina. Pun juga dengan Tan Malaka, seorang komunis internasionalis yang juga tak usah dipertanyakan tentang merah putihnya.

Entah apa yang ada di benak para birokrat pendahulu kita hingga dengan sebegitu tega menghalalkan segala macam stigma untuk membuat orang terlihat menjadi ‘yang beda’. Dengan alasan seindah apapun, membedakan derajat dan hak tiap-tiap orang adalah sebuah kejahatan. Dan sayangnya, kejahatan ini masih terjadi di negeri ini, negeri kita tercinta ini. Dan yang lebih disayangkan lagi, sebagian dari kita lebih suka menghisap ganja daripada mencari obat demi kesembuhan kita.
Ya, bukankah segala macam pesta hari kemerdekaan dan lomba-lomba penuh canda tawa itu tak lebih dari selinting ganja yang sejenak menjadikan kita lupa akan segala derita? Bukankah kita masih harus menghadapi kekejaman hidup yang tidak berubah setelah segala macam pesta itu usai dilaksanakan? Entah kekuatan apa yang telah berhasil membodohi sisa-sisa pikiran kita, hingga banyak diantara kita yang tak lagi berhasrat untuk mencari solusi untuk menyembuhkan negeri ini.
Kemerdekaan yang dulu diperjuangkan para pendahulu kita dengan mempertaruhkan nyawa di medan laga, saat ini tak lebih dari sekedar dongeng pengantar tidur yang kadangkala bisa dianggap sebagai canda. Tepat tanggal 17 Agustus yang lalu secara tak sengaja saya menemukan sebuah program sinema pendek plesetan di salah sebuah stasiun TV kita yang berjudul ‘Merdeka Atau Cinta’.

Ya. Bahkan perjuangan pun bukan lagi sesuatu yang harus direnungi untuk diteladani. Dan bahkan kemerdekaan pun dianggap sebagai keharusan yang telah tertakdirkan jauh sebelum peperangan yang menuntut ribuan kematian.

0 komentar:

Posting Komentar